jpnn.com, JAKARTA - Dekan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof. Hamzah Halim, menyatakan bahwa tingkat kepercayaan publik yang sangat tinggi terhadap Kejaksaan Agung (Kejagung) merupakan bukti nyata bahwa lembaga tersebut telah berhasil memenuhi ekspektasi masyarakat.
Kinerja impresif dalam penegakan hukum menjadi alasan utama di balik apresiasi tersebut.
BACA JUGA: Pengamat Hukum: Bukti dari Kejagung Bisa Gugurkan Dalih Niat Baik Nadiem Makarim
Hal ini terlihat dari keberanian Kejagung dalam menangani kasus-kasus megakorupsi yang merugikan keuangan negara dalam skala besar.
“Lembaga yang paling banyak menyetorkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) itu adalah Kejaksaan Agung. Datanya ada dan jelas. Publik melihat hasil nyata dari pengembalian kerugian negara tersebut,” papar Hamzah saat menanggapi rilis survei, Minggu (8/2).
BACA JUGA: Apresiasi Kejagung Rampas Harta Koruptor, Buya Anwar: Kerugian Negara Sangat Besar
Menurut Prof. Hamzah, kesuksesan Kejagung saat ini bukanlah hasil instan, melainkan buah dari proses panjang perbaikan Sumber Daya Manusia (SDM).
Ia menyoroti perubahan signifikan yang terjadi dari level pimpinan tertinggi hingga ke jajaran daerah.
BACA JUGA: Ketua PBNU Apresiasi Langkah Kejagung Rampas Harta Koruptor
“Apa yang dilihat masyarakat saat ini hanyalah muara. Di hulunya, terjadi pembenahan SDM yang luar biasa. Sepanjang sejarah, baru kali ini kita memiliki jaksa agung seorang profesor, bahkan empat jaksa agung muda (JAM) juga bergelar profesor,” ungkapnya.
Fenomena ini juga terlihat di daerah, di mana para Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati), Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari), hingga para asisten menunjukkan semangat belajar yang tinggi.
“Di kampus S3 Unhas sendiri, banyak jajaran kejaksaan yang sangat rajin menempuh studi doktoral. Ini menunjukkan kemauan kuat untuk berbenah secara sistematis dan intelektual,” tambah Prof. Hamzah.
Selain faktor SDM, keberhasilan ini tidak lepas dari gaya kepemimpinan Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin. Hamzah menilai ST Burhanuddin berhasil menerapkan manajemen "orang yang tepat di tempat yang tepat" (right man on the right place), mulai dari level JAM hingga level terbawah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
“Keberhasilan ini tidak cuma soal keberanian. Banyak orang yang berani, tapi jika keberanian tidak diikuti dengan visi dan strategi yang taktis, maka tidak akan menghasilkan apa-apa. Jaksa Agung berhasil merumuskan perencanaan strategis yang membuat mesin organisasi berputar dengan sangat baik,” pungkasnya. (dil/jpnn)
Redaktur & Reporter : M. Adil Syarif




