FAJAR, JAKARTA — Obesitas masih menjadi persoalan kesehatan serius di Indonesia. Kondisi kelebihan berat badan ini tidak hanya berdampak pada penampilan, tetapi juga berisiko memicu berbagai penyakit kronis.
Seiring meningkatnya jumlah penderita obesitas, pendekatan terapi pun terus berkembang. Salah satu yang kini mulai banyak dibahas adalah terapi oral atau pengobatan berbentuk pil.
Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Primaya, dr. Andry Kelvianto, M-Gizi, Sp.GK, AIFO-K, mengatakan terapi oral dapat menjadi salah satu opsi bagi pasien obesitas, khususnya yang mengalami kesulitan menurunkan berat badan.
Dilakukan hanya dengan pengaturan makan dan aktivitas fisik. Namun, terapi ini harus tetap berada di bawah pengawasan tenaga medis.
Menurut dr. Andry, obat oral untuk obesitas bekerja dengan berbagai mekanisme, mulai dari mengatur nafsu makan, memperlambat penyerapan lemak, hingga membantu mengontrol metabolisme tubuh.
Meski demikian, obat bukanlah solusi tunggal. Terapi oral harus dikombinasikan dengan pola makan sehat dan aktivitas fisik teratur. “Tanpa itu, hasilnya tidak akan optimal,” ujarnya, kemarin.
Kata dia, terapi oral dianggap lebih mudah diterapkan karena tidak memerlukan prosedur invasif. Hanya saja, obat berbentuk pil juga harus diawasi dan sesuai anjuran dokter.
“Kenapa diawasi? sebab dinilai lebih menyatu dengan rutinitas harian pasien, sehingga tingkat kepatuhan dalam menjalani terapi relatif lebih tinggi. Makanya harus ada pengawasan,” ucapnya.
Pakar Gizi Universitas Hasanuddin, Prof. dr. Veny Hadju, M.Sc., Ph.D., menekankan pentingnya penerapan prinsip dalam penerapan obesitas. Mulai dari pola makan sehari-hari, baik untuk pencegahan maupun penanganan obesitas.
Prinsip ini meliputi Jadwal makan yang teratur, jumlah asupan yang sesuai kebutuhan tubuh, serta jenis makanan yang seimbang. Keseimbangan tersebut mencakup karbohidrat, protein, lemak baik, vitamin, dan mineral.
“Anak maupun orang dewasa perlu makan pada waktu yang teratur, jumlahnya sesuai kebutuhan, dan jenis makanannya harus seimbang. Ini kunci dasar pengendalian berat badan,” jelas Prof. Veny.
Ia juga menyoroti pentingnya asupan serat dalam menu harian. Serat berperan besar dalam menjaga metabolisme tubuh serta membantu mengontrol rasa kenyang lebih lama.
“Kebutuhan serat juga penting untuk mencegah obesitas dan menjaga metabolisme. Sayur, buah, dan sumber serat lainnya seharusnya menjadi bagian utama dari pola makan,” tambahnya.
Prof. Veny mengingatkan, terapi apa pun, termasuk terapi oral, sebaiknya tidak mengabaikan pendekatan edukatif. Pasien perlu memahami kondisi tubuhnya agar mampu mengelola pola hidup secara mandiri dalam jangka panjang.
Barengi dengan Gaya Hidup Sehat
Obesitas sejatinya dapat dikendalikan, bahkan disembuhkan. Namun, harus melalui kombinasi terapi medis dan penerapan gaya hidup sehat secara konsisten.
Pendekatan ini menekankan perubahan pola makan, aktivitas fisik, serta pemantauan kesehatan jangka panjang.
Penerapan prinsip gizi seimbang menjadi salah satu kunci utama dalam pencegahan dan pengendalian obesitas. Prinsip ini mengatur asupan makanan yang beragam, bergizi, dan sesuai kebutuhan tubuh.
Pakar Gizi Universitas Hasanuddin, Prof. dr. Veny Hadju, M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa gizi seimbang bukan sekadar upaya menurunkan berat badan. Pendekatan ini juga bertujuan meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.
“Dengan gizi seimbang dan gaya hidup aktif, berat badan dapat dikontrol secara sehat dan berkelanjutan, sekaligus mencegah berbagai komplikasi kesehatan di masa depan,” ujarnya.
Prof. Veny menjelaskan, banyak masyarakat masih salah kaprah dalam menjalani diet, seperti menghindari makan secara ekstrem atau hanya fokus pada penurunan berat badan cepat.
Padahal, pola seperti ini justru berisiko menimbulkan masalah kesehatan baru.
“Pentingnya konsumsi makanan dengan komposisi seimbang, mulai dari karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, mineral, hingga serat. Semua unsur tersebut memiliki peran penting bagi fungsi tubuh,” tuturnya.
Selain pola makan, aktivitas fisik juga menjadi faktor krusial. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, atau olahraga ringan secara rutin sudah cukup membantu menjaga keseimbangan energi dalam tubuh,” ucapnya.
Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Primaya, dr. Andry Kelvianto, M-Gizi, Sp.GK, AIFO-K, menyoroti tantangan dalam penanganan obesitas, khususnya pada kepatuhan pasien menjalani terapi jangka panjang.
Menurut dr. Andry, banyak pasien yang berhasil menurunkan berat badan di awal terapi, namun kesulitan mempertahankan pola hidup sehat dalam jangka waktu lama. Hal ini menyebabkan berat badan kembali naik.
“Obesitas bukan masalah yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Dibutuhkan komitmen jangka panjang dan pendampingan yang tepat,” katanya.
Ia menambahkan, pendekatan medis tetap diperlukan, terutama bagi pasien obesitas dengan penyakit penyerta. Terapi medis akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Namun demikian, dr. Andry menekankan bahwa perubahan gaya hidup tetap menjadi fondasi utama dalam penanganan obesitas. Tanpa itu, terapi medis tidak akan memberikan hasil optimal.
Melalui penerapan prinsip gizi seimbang, aktivitas fisik teratur, serta dukungan tenaga kesehatan, obesitas bukan lagi persoalan yang tak teratasi. (wis/lin)
Cara Jalani Terapi Obesitas
- Tetapkan tujuan realistis dan bertahap
Terapi obesitas bukan soal turun berat badan cepat, melainkan konsisten. Targetkan penurunan 5–10 persen dari berat badan awal terlebih dahulu karena sudah terbukti memberi dampak besar bagi kesehatan. - Atur pola makan seimbang, bukan diet ekstrem
Fokus pada gizi seimbang: perbanyak sayur, buah, protein tanpa lemak, dan karbohidrat kompleks. Hindari diet ketat yang sulit dipertahankan karena berisiko membuat berat badan naik kembali. - Rutin aktivitas fisik sesuai kemampuan
Mulai dari aktivitas ringan seperti jalan kaki 30 menit per hari. Tingkatkan intensitas secara bertahap agar tubuh beradaptasi dan terapi bisa dijalani tanpa cedera. - Libatkan tenaga kesehatan
Konsultasi dengan dokter, ahli gizi, atau terapis penting untuk memantau perkembangan, menyesuaikan program, serta mendeteksi risiko penyakit penyerta seperti diabetes atau hipertensi. - Bangun dukungan dan ubah gaya hidup
Dukungan keluarga dan lingkungan sangat membantu. Terapkan perubahan gaya hidup jangka panjang, termasuk manajemen stres dan tidur cukup, agar hasil terapi obesitas bisa bertahan.





