Pulau Jawa kembali diguncang gempa tektonik pada Jumat dini hari, 6 Februari 2026, sekitar pukul 01.06 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merekam gempa berkekuatan magnitudo 6,2–6,4 yang berpusat di laut selatan Pacitan, Jawa Timur—sebuah gempa megathrust yang tidak berpotensi tsunami karena energinya berada di bawah ambang yang memicu gelombang besar. (Detik)
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan gempa ini menyebabkan getaran kuat di sejumlah kota, seperti Pacitan, Trenggalek, Jember, hingga Yogyakarta, tetapi tidak memicu tsunami karena pusat gempanya masih relatif dangkal dan energi yang dilepaskan masih di bawah ambang tsunami besar.
Daryono juga menyatakan bahwa kita masih beruntung di mana kekuatan gempa hanya mencapai 6.4 skala richter (kemudian dikoreksi menjadi 6.2 skala richter) karena jika mencapai 7.0 skala richter atau lebih, terdapat risiko tsunami.
Sementara itu, Data Pusdalops BPBD mencatat bahwa puluhan warga terluka serta puluhan bangunan rusak ringan hingga sedang di DIY dan Jawa Timur akibat guncangan. (Detik)
Mengapa Pulau Jawa Rawan Gempa?Indonesia berada di Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire), wilayah paling aktif secara seismik di dunia di mana lempeng tektonik bergerak saling berinteraksi. Secara khusus, Lempeng Indo-Australia bergerak ke Utara menubruk ke bawah Lempeng Eurasia, menciptakan zona subduksi selatan Jawa yang menjadi sumber gempa megathrust berulang.
BMKG mencatat ribuan aktivitas gempa kecil setiap tahun di sekitar Jawa, termasuk lebih dari 1.100 kejadian gempa pada 2024 saja berkat sistem pemantauan seismograf terpasang yang semakin luas. (asia-pacific-solidarity.net)
Keterkaitan dengan Pergeseran Lempeng Ontong JavaPara ahli geologi juga memperhatikan peran regional dalam dinamika seismik Indonesia. Ontong Java Plateau (OJP)—plateau oseanik besar di barat laut Samudera Pasifik—dikaji sebagai salah satu faktor yang memengaruhi pola tegangan lempeng di Asia Tenggara.
Menurut studi tektonik regional, gerakan massa besar seperti OJP mengubah distribusi tegangan (stress transfer) pada sistem lempeng di sekitarnya, termasuk zona subduksi di selatan Indonesia.
Meskipun OJP bukan penyebab langsung satu gempa tertentu, interaksinya dalam sistem tektonik global turut memengaruhi akumulasi energi tektonik jangka panjang, yang kemudian dilepaskan melalui gempa magnitudo yang cukup besar seperti gempa Pacitan 2026.
Konteks ini sejalan dengan pemahaman bahwa sistem gempa tektonik yang sering terjadi di Nusantara adalah hasil interaksi lempeng besar dan struktur bawah tanah yang saling bertaut.
Belajar dari Jepang dan TaiwanJepang menjadi contoh utama mitigasi bencana gempa. J-Alert—sistem peringatan dini gempa nasional—mengirim notifikasi melalui sirene publik, ponsel, TV, dan radio sebelum gelombang kuat tiba, memberi warga waktu untuk berlindung.
Jepang juga menerapkan kode bangunan tahan gempa ketat yang membuat gedung modern mampu menahan guncangan besar serta melakukan simulasi evakuasi berkala di sekolah dan komunitas.
Selain itu, pendidikan mitigasi di sekolah sejak dini menjadi bagian dari kurikulum dan budaya negara tersebut, sehingga setiap tsunami atau gempa besar selalu diawali dengan kesiapsiagaan yang terlatih luas.
Pengalaman lain yang tidak kalah penting berasal dari Taiwan. Sejak gempa besar 921 Earthquake pada 1999, Taiwan memperkuat sistem koordinasi mitigasi bencana melalui pusat komando tanggap darurat yang terhubung secara real-time dengan sistem sensor gempa nasional.
Latihan kesiapsiagaan lintas lembaga pemerintahan, relawan, dan masyarakat sipil mempercepat respons evakuasi ketika gempa besar terjadi, seperti gempa di Hualien 2024 yang direspons dengan cepat dan minim korban besar. (frontiersin.org)
Strategi Mitigasi Global yang Dapat DiadopsiDari pengalaman Jepang dan Taiwan, terdapat beberapa strategi mitigasi yang relevan bagi Indonesia.
Strategi tersebut terdiri dari keberadaan sistem peringatan dini gempa yang terintegrasi dengan jaringan telekomunikasi publik, standar konstruksi bangunan tahan gempa yang lebih ketat dan perlunya audit bangunan secara berkala, penyelenggaraan simulasi bencana rutin untuk masyarakat, sekolah, dan instansi pemerintah, serta pendidikan kesiapsiagaan dini bagi publik di semua tingkat usia. (who.int)
Sementara itu, apa yang harus kita lakukan ketika gempa? Dilansir oleh Detik, BMKG dan ahli kebencanaan menegaskan langkah-langkah keselamatan berikut.
1. Tetap tenang dan berlindung di bawah meja kuat atau ambang pintu jika tidak ada meja.
2. Jauhkan diri dari jendela dan benda jatuh seperti rak atau lampu gantung.
3. Evakuasi ke area aman jika bangunan terlihat rusak atau gempa terasa amat kuat.
4. Siapkan peralatan darurat (senter, makanan, air, dan P3K).
5. Waspada gempa susulan yang sering terjadi setelah gempa besar.
6. Selalu memantau informasi resmi BMKG dan BPBD melalui kanal mereka.
Gempa megathrust di Pacitan 2026 menunjukkan betapa aktifnya sistem tektonik Indonesia dan perlunya pendekatan mitigasi terpadu. Indonesia cukup beruntung karena memiliki instansi seperti BMKG yang memberikan informasi awal yang penting bagi publik.
Namun, kompleksitas geologi Indonesia—termasuk keterkaitan dengan struktur besar seperti Ontong Java Plateau—mempertegas bahwa risiko gempa adalah isu jangka panjang yang memerlukan kombinasi teknologi, kebijakan publik, dan budaya keselamatan masyarakat sebagai penopang ketangguhan bencana.





