JAKARTA, DISWAY.ID - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mencatat bahwa produktivitas sawit Indonesia masih kalah dibandingkan Malaysia, baik dari sisi hasil per hektare maupun efisiensi pengelolaan. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi daya saing industri sawit nasional.
Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan dan Manajemen Risiko BPDP, Zaid Burhan Ibrahim, menyampaikan bahwa produktivitas sawit Indonesia mencapai 3,61 metrik ton per hektare per tahun di tahun 2025. Sedangkan Malaysia sudah mencapai 4,02 metrik ton per hektare per tahun.
"Tahun 2025 secara luasan lahan Indonesia lebih tinggi. Di 2025 produktivitas Indonesia 3,61 metrik ton per hektare per tahun, di Malaysia sudah 4,02," ujar Zaid dalam diskusi di Movenpick Hotel, Jakarta Pusat, Selasa 10 Febuari 2026.
BACA JUGA:Pemeriksaan Kasus Ijazah Jokowi, Roy Suryo Hadirkan Saksi Fakta ke Polda Metro
Ia menambahkan, pada tahun yang sama, produksi sawit Indonesia mencapai 46,5 juta metrik ton dengan luas lahan mencapai 12,9 juta hektare.
Sementara Malaysia, produksinya hanya 20,2 juta metrik ton. Padahal dengan lahan 5,04 juta hektare.
Mengacu hal itu, Kata Zaid, Indonesia masih kalah dalam hal pengelolahan.
Pada tahun 2024, produktivitas Malaysia melonjak hingga 3,82 metrik ton per hektare per tahun. Sedangkan Indonesia hanya mampu mencapai 3,53 metrik ton per hektare per tahun.
Dengan begitu, Ia menegaskan bahwa harusnya Indonesia bisa lebih tinggi produksi sawit dengan lahan yanh lebih luas dibandingkan Malayasia.
"Peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produktivitas. Dengan luasan lahan yang lebih tinggi, seyogyanya Indonesia masih bisa meningkatkan produktivitas," tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Palmoil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung menjelaskan berbagai faktor penyebab utama produktivitas sawit Indonesia kalah dari Malaysia.
BACA JUGA:Pemprov DKI Tambah Kuota Mudik Gratis Lebaran 2026, Khusus KTP Jakarta
Ia menilai, praktik pertanian di Indonesia masih kalah dari Malaysia. Selain itu, komposisi tanaman yang terus berubah juga memengaruhi produktivitas.
"Produktivitas sawit bisa tinggi jika kelompok umur sawit dewasa memiliki proporsi paling banyak. Ini berlaku dari total luasan lahan yang ada," kata Tungkot.
Meski demikian, Ia mengakui Indonesia masih jauh tertinggal dengan Malaysia terkait produksi sawit. Sebab, di Malaysia sudah menjadi juara dunia dalam memproduksi sawit sejak tahun 2004.
- 1
- 2
- »




