EtIndonesia. Aku keluar dari pusat perbelanjaan Maoye sambil menenteng celana Levi’s yang baru kubeli, lalu berdiri di depan pintu masuk menunggu seorang teman.
Seorang pengemis profesional memperhatikanku, lalu dengan sangat terlatih dan tepat sasaran, dia berhenti tepat di hadapanku. Dari pertemuan singkat itulah, terjadilah kisah yang benar-benar mengguncang pikiranku—seperti mengikuti sebuah kelas studi kasus riset pasar yang hidup. Demi setia pada maksud sang pengemis, aku berusaha mengulang kata-katanya berdasarkan ingatanku.
“Pak… tolonglah, beri sedikit.”
Karena sedang tidak ada kegiatan, aku merogoh saku dan melemparkan sekeping koin, lalu mulai mengobrol dengannya. Pengemis itu ternyata sangat pandai berbicara.
“Aku hanya mengemis di sekitar Huaqiangbei. Kamu tahu? Sekilas aku sudah bisa menilaimu. Belanja Levi’s di Maoye, pasti orang yang tak segan mengeluarkan uang…”
“Wah, kamu paham juga,” kataku terkejut.
“Jadi pengemis pun harus pakai cara ilmiah,” jawabnya santai.
Aku tertegun dan bertanya dengan penuh minat: “Cara ilmiah seperti apa?”
“Coba kamu perhatikan, apa bedaku dengan pengemis lain?”
Aku menelitinya: rambutnya berantakan, bajunya compang-camping, tangannya kurus—tapi semuanya tidak kotor.
Dia memotong pikiranku: “Kebanyakan orang merasa jijik pada pengemis. Tapi aku tahu kamu tidak jijik padaku. Itu terlihat jelas. Dan itulah kelebihanku dibanding pengemis lain.”
Aku mengangguk. Benar juga—kalau tidak, mana mungkin aku mau mengobrol dengannya.
“Aku paham analisis SWOT: kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Dibanding pesaingku, kelebihanku adalah tidak membuat orang merasa risih. Peluang dan ancaman itu faktor eksternal—misalnya jumlah penduduk Shenzhen yang besar, atau kebijakan penertiban kota.”
“Aku juga melakukan perhitungan yang cukup presisi. Di sini, arus manusia per hari puluhan ribu. Orang miskin banyak, tapi orang kaya lebih banyak. Secara teori, kalau aku minta satu yuan pada setiap orang, sebulan bisa dapat 300 ribu. Tapi tentu tidak semua orang memberi, dan aku juga tak mungkin menjangkau semua orang. Karena itu, aku harus menentukan mana target pelanggan, mana pelanggan potensial.”
Dia melanjutkan dengan serius: “Di wilayah Huaqiangbei, target pelangganku sekitar 30% dari total orang lewat, dengan tingkat keberhasilan 70%. Pelanggan potensial sekitar 20%, tingkat keberhasilan 50%. Sisanya 50% aku abaikan—tak ada waktu untuk berjudi pada mereka.”
“Lalu bagaimana kamu mendefinisikan pelangganmu?” tanyaku penasaran.
“Pertama, target utama. Pria muda sepertimu—punya dasar ekonomi dan biasanya dermawan. Pasangan kekasih juga termasuk target, karena demi menjaga gengsi di depan lawan jenis, mereka cenderung memberi. Kedua, gadis cantik yang sendirian aku anggap pelanggan potensial—mereka takut diganggu, jadi sering memilih ‘membayar agar aman’.
Kedua kelompok ini usianya antara 20–30 tahun. Terlalu muda belum punya uang. Terlalu tua biasanya sudah menikah, keuangan dipegang istri—kelompok ini tak ada harapan, malah ingin minta uang dariku.”
“Kalau begitu, berapa penghasilanmu per hari?” tanyaku lagi.
“Senin sampai Jumat agak sepi, sekitar 200 yuan. Akhir pekan bisa sampai 400–500 yuan.”
“Sebanyak itu?”
Melihat keraguanku, dia langsung menghitungkan untukku.
“Aku bekerja 8 jam sehari, dari jam 11 siang sampai 7 malam. Waktu satu kali mengemis sekitar 5 detik. Dengan waktu berjalan dan mencari target, rata-rata satu menit satu kali, dapat 1 yuan. Dalam 8 jam sekitar 480 yuan. Dikalikan tingkat keberhasilan rata-rata 60%, hasilnya hampir 300 yuan.”
“Yang paling penting, jangan menempel dan mengejar orang. Kalau gagal, aku langsung berhenti. Kalau dia mau memberi, dari awal sudah memberi. Memaksa hanya membuang waktu. Lebih baik cari target berikutnya.”
Luar biasa! Pengemis ini benar-benar tak bisa dipandang sebelah mata—lebih mirip direktur pemasaran senior.
“Lanjutkan,” kataku makin tertarik.
“Banyak orang bilang jadi pengemis itu bergantung pada nasib. Aku tidak setuju. Contohnya begini: di depan toko wanita, ada pria tampan dan gadis cantik. Kamu pilih yang mana untuk dimintai uang?”
Aku berpikir sejenak: “Tidak tahu.”
“Harus ke pria. Di samping wanita cantik, dia malu kalau tidak memberi. Kalau ke gadisnya, dia bisa pura-pura takut dan menjauh.”
“Contoh lain. Di depan Coco Park, ada tiga orang: gadis muda dengan tas belanja, sepasang kekasih sedang makan es krim, dan pria rapi membawa tas laptop. Aku butuh tiga detik untuk memutuskan—aku langsung ke gadis yang membawa tas belanja. Dia pasti punya uang receh.”
Masuk akal. Aku semakin terpukau.
“Jadi aku selalu bilang, pengetahuan menentukan segalanya.”
Aku sudah sering mendengar kalimat itu dari para CEO—ini pertama kalinya aku mendengarnya dari seorang pengemis.
“Harus mengemis dengan cara ilmiah. Tidur di jembatan penyeberangan mana bisa dapat uang? Orang yang lewat semuanya terburu-buru. Harus membekali diri dengan ilmu. Belajar membuat orang jadi pintar. Orang pintar yang terus belajar akan jadi talenta. Abad ke-21 paling butuh apa? Talenta!”
“Pernah ada orang memberi 50 yuan dan memintaku berteriak ‘An Hong, aku merindukanmu’ 100 kali. Aku hitung, satu teriakan 5 detik—setara satu kali mengemis, tapi bayaran cuma 0,5 yuan. Jadi aku tolak.”
“Di Shenzhen, pengemis biasa sebulan dapat 1.000–2.000 yuan. Dari seratus ribu pengemis, mungkin cuma sepuluh orang yang bisa dapat lebih dari 10.000 sebulan. Aku salah satu dari sepuluh itu—dan sangat stabil.”
Hebat. Aku benar-benar kagum.
“Aku sering bilang, aku pengemis yang bahagia. Mereka pikir aku bahagia karena penghasilanku besar. Salah. Justru karena aku punya sikap positif dan bahagia, aku bisa menghasilkan lebih banyak.”
“Mengemis adalah pekerjaanku. Aku menikmati pekerjaanku. Saat hujan dan orang sedikit, pengemis lain mengeluh atau tidur. Jangan begitu. Nikmati keindahan kota ini. Setelah pulang kerja, jalan-jalan malam bersama istri dan anak—itulah hidup.”
“Kamu punya istri dan anak?” tanyaku terkejut.
“Istriku ibu rumah tangga, anakku sekolah dasar. Aku punya rumah KPR di Futian—10 tahun cicilan, tinggal 6 tahun lagi lunas. Aku ingin anakku kuliah pemasaran, lalu meneruskan jejak ayahnya—jadi pengemis yang lebih hebat.”
“Aku dulu bekerja di perusahaan IT besar sebagai perencana pemasaran, lalu jadi manajer. Gaji 5.000 yuan. Tapi cicilan laptop saja 2.000 per bulan—hidup tersiksa. Aku sadar tak akan maju. Jadi aku berhenti, dan memilih jadi pengemis berkualitas tinggi.”
Mendengarnya, aku berkata dengan penuh emosi: “Kalau begitu… maukah kamu menerimaku sebagai murid?”
Renungan
Judul kisah ini langsung membangkitkan rasa penasaran: pengemis dengan penghasilan tahunan 100 ribu yuan (± Rp. 2.4 miliar) —jumlah yang bagi banyak orang sudah tergolong mapan. Setelah membacanya, satu perasaan yang tersisa hanyalah kekaguman.
Kisah ini menunjukkan bahwa cara berpikir orang sukses berbeda dari kebanyakan orang. Mereka tahu cara mengumpulkan informasi penting, menganalisis peluang dengan probabilitas tertinggi, lalu mengerahkan seluruh tenaga. Modal utama untuk itu adalah pengetahuan.
Belajar memberi kita pengetahuan. Pengetahuan memberi kita kemampuan menilai.
Dan kemampuan itulah yang pada akhirnya mengubah nasib.(jhn/yn)





