5 Mitos Kesehatan Perempuan yang Kurang Tepat Menurut Dokter

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Ladies, pembicaraan soal kesehatan perempuan kini semakin terbuka. Dari media sosial hingga podcast populer, isu seperti kanker payudara, menopause, hormon, hingga kesehatan jantung semakin sering dibahas dan tak lagi dianggap tabu. Perubahan ini tentu patut diapresiasi karena membuat perempuan lebih berani untuk peduli pada tubuhnya sendiri.

Namun, di balik derasnya arus informasi, ada satu tantangan yang kerap dihadapi tenaga medis. Salah satunya mengenai mitos yang masih banyak beredar.

“Banyak perempuan datang ke ruang praktik dengan informasi kesehatan dari media sosial, tapi tidak semuanya akurat atau lengkap,” ujar dr. Lisa Larkin, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Ohio, Amerika Serikat, sekaligus pendiri klinik Ms. Medicine.

Ia menambahkan, banyak informasi kesehatan yang beredar dan terdengar meyakinkan tetapi kehilangan konteks medis yang penting. Oleh karena itu, penting bagi perempuan untuk lebih kritis memilah informasi.

Berikut lima mitos kesehatan perempuan yang masih sering dipercaya, serta penjelasan medis yang perlu diketahui, Ladies.

Mitos 1: Mammogram Tahunan Sudah Cukup untuk Cegah Kanker Payudara

Mammogram memang berperan penting dalam mendeteksi dini kanker payudara, tetapi bukan satu-satunya langkah pencegahan. Sebab risiko kanker payudara tiap perempuan berbeda, dipengaruhi oleh faktor genetik, riwayat keluarga, kepadatan payudara, hingga riwayat reproduksi.

Menurut dr. Lisa Larkin, memahami risiko seumur hidup adalah langkah awal yang krusial. Ia menjelaskan bahwa perempuan dengan risiko tinggi sering kali membutuhkan skrining tambahan, seperti MRI atau USG payudara, bahkan dengan frekuensi lebih sering. Sayangnya, banyak perempuan belum pernah mendiskusikan risiko personal ini secara khusus dengan dokter, padahal diskusi tersebut bisa menentukan strategi pencegahan yang lebih tepat.

Mitos 2: Angkat Beban Lebih Penting daripada Kardio di Usia Paruh Baya

Strength training seperti angkat beban memang sangat dianjurkan, terutama saat perempuan memasuki usia 40-an dan 50-an. Namun, olahraga kardio tetap memiliki peran krusial, khususnya untuk menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.

“Olahraga yang meningkatkan detak jantung membantu menjaga kelenturan dan fungsi pembuluh darah,” kata dr. Suzanne Steinbaum, dokter spesialis jantung preventif asal New York.

Menurutnya, mengombinasikan latihan beban dengan aktivitas aerobik seperti jalan cepat atau bersepeda adalah pendekatan paling seimbang untuk menjaga kesehatan jangka panjang.

Mitos 3: Menopause Selalu Menjadi Masa yang Berat dan Menurunkan Kualitas Hidup Perempuan

Faktanya, menopause tidak selalu menjadi fase yang sepenuhnya berat. Pada awal transisi, perubahan hormon memang bisa memicu berbagai gejala fisik dan emosional. Namun setelah berlangsung beberapa waktu dan tubuh mulai beradaptasi, perempuan justru akan merasakan stabilitas baru dan melihat menopause sebagai titik balik dalam hidup mereka.

“Menopause sering dipersepsikan sebagai masa suram, padahal bagi banyak perempuan ini justru menjadi kesempatan untuk menata ulang kesehatan dan kehidupan,” ujar dr. Heather Bartos, dokter spesialis menopause dan penulis buku Quickies: One Hundred Little Lessons for Living Sexily Ever After in Midlife.

Ia menegaskan bahwa fase pascamenopause dapat menjadi momen refleksi dan awal yang lebih sehat, baik secara fisik maupun mental. Para perempuan bisa mulai memperbaiki pola makan, rutin berolahraga, hingga lebih sadar akan kesehatan jangka panjang setelah perubahan hormon mereda.

Mitos 4: Olahraga Harus Disesuaikan dengan Siklus Menstruasi

Menyesuaikan jenis olahraga dengan fase menstruasi memang kerap dibahas, tapi sejauh ini penelitian ilmiahnya masih terbatas. Pasalnya, performa tubuh tidak hanya dipengaruhi oleh fluktuasi hormon, melainkan juga oleh berbagai faktor lain seperti kualitas tidur, tingkat stres, dan kondisi emosional.

Hal ini sejalan dengan penjelasan dr. Megan Roche, dokter spesialis kedokteran olahraga asal Amerika Serikat dan peneliti di bidang performa atletik perempuan. Ia menekankan bahwa performa fisik merupakan hasil dari banyak aspek, bukan semata-mata perubahan hormon.

Faktor seperti kurang tidur, tekanan psikologis, hingga kondisi mental sehari-hari justru sering memberikan dampak yang lebih besar terhadap kemampuan tubuh saat berolahraga. Oleh karena itu, jangan selalu terpaku dengan siklus menstruasi, perempuan disarankan untuk menjaga konsistensi bergerak dan memilih aktivitas fisik yang realistis, nyaman, serta menyenangkan.

Mitos 5: Penyakit Jantung Tak Terlalu Berisiko untuk Perempuan

Selama ini kita menganggap penyakit jantung sebagai masalah kesehatan laki-laki. Padahal, penyakit jantung merupakan salah satu penyebab kematian utama pada perempuan. Menurut World Heart Federation pada 2023, penyakit jantung adalah penyebab terbesar kematian pada perempuan di seluruh dunia, bertanggung jawab atas sekitar 30 persen kematian perempuan setiap tahun.

Salah satu alasan risiko penyakit jantung pada perempuan kerap tidak disadari adalah karena faktor biologis. Selain itu, riwayat kesehatan reproduksi juga sering kali tidak diperhitungkan secara serius dalam pemeriksaan jantung. Padahal perubahan hormon, kehamilan, hingga menopause dapat memengaruhi kesehatan pembuluh darah dan jantung dalam jangka panjang.

“Riwayat kesehatan reproduksi perempuan memberi petunjuk penting tentang risiko penyakit jantung di kemudian hari,” kata dr. Jayne Morgan, dokter spesialis jantung dari Amerika Serikat. Ia menekankan pentingnya perempuan aktif menyampaikan riwayat menstruasi, kehamilan, hingga menopause saat menjalani pemeriksaan jantung.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 Turun Jadi 34 Poin, Kini Peringkat 109
• 3 jam laludetik.com
thumb
21.000 Peserta BPJS PBI di Jogja Dinonaktifkan Kemensos, Ini Respons Pemkot
• 20 jam lalurctiplus.com
thumb
Jejak PT Karabha Digdaya, Pengelola Aset Negara di Balik OTT KPK PN Depok
• 16 jam lalueranasional.com
thumb
Liga Inggris West Ham vs MU Dini Hari Nanti: Misi Berburu 5 Kemenangan Beruntun
• 17 menit lalutabloidbintang.com
thumb
Bad Bunny, Lady Gaga dan Ricky Martin Warnai Pesta Latin di Halftime Super Bowl
• 6 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.