Viral di Medsos Tiongkok : Nenek 83 Tahun di Shandong Tak Mampu Beli Daging, Hanya Sajikan Mi Vegetarian untuk Tamu

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

Baru-baru ini, seorang nenek berusia 83 tahun di Provinsi Shandong memasakkan semangkuk mi tanpa telur dan daging untuk seorang blogger perjalanan. Pengakuan sang nenek bahwa ia “tidak mampu membeli daging” menyentuh hati tak terhitung banyaknya warganet.

EtIndonesia. Pada 6 Februari, blogger Tiongkok bernama “Yimengshan Dian Liang Wanli” mengunggah sebuah video. Saat berwisata di kawasan Pegunungan Yimeng, ia berpapasan dengan seorang nenek yang sedang bekerja di ladang, lalu menyapanya.

Dengan ramah, sang nenek berkata kepada blogger tersebut, “Lapar ya? Kalau lapar, mampir ke rumah makan sedikit. Kalau haus, pulang ke rumah minum air.”

Nenek itu mengatakan rumahnya tidak jauh dari ladang, lalu mengajak blogger tersebut ke rumahnya untuk makan. Dalam perjalanan pulang, blogger bertanya, “Bibi, di rumah ada makanan enak apa?”

Sambil tersenyum, nenek itu menjawab, “Ada sayur, ada jianbing (panekuk khas), juga ada mi.”

Nenek tersebut mengatakan usianya sudah 83 tahun. Suaminya telah meninggal, dan anak laki-lakinya juga sudah tiada. Dalam video terlihat rumah tempat tinggal nenek itu sangat sederhana: sebuah rumah tanah yang rendah, pintu kayu yang sudah rusak, lantai tanah tanpa semen. Di dalam rumah tidak ada peralatan listrik apa pun, hanya beberapa lemari kayu dan kursi kayu sederhana.

Tungku masaknya berada di dalam rumah, juga terbuat dari bata tanah. Di dalam kuali besi masih tersisa sayur kol dan lobak yang sebelumnya dimakan nenek tersebut. Ia mengeluarkan sayur itu, lalu memasakkan mi untuk sang blogger.

2月6日,在山東沂蒙山,83歲老奶奶給遊客做麵條吃,沒有肉,沒有雞蛋,“買不起”。 pic.twitter.com/hyBJHwFTD7

— ying tang (@yingtan04410735) February 8, 2026

Nenek itu mengeluarkan sebotol minyak kacang dari lemari dan mengatakan bahwa minyak tersebut dibuat dari kacang tanah yang ia tanam sendiri dua tahun lalu. Ia menyendokkan sedikit minyak ke dalam kuali, lalu memasukkan segenggam mi kering.

Blogger itu sengaja bercanda, “Bibi, tambahkan telur ya.”

Dengan nada meminta maaf, nenek itu berkata, “Tidak ada telur, ayamnya tidak bertelur lagi. Cuacanya dingin, jadi tidak bertelur.”

Blogger itu lalu bertanya lagi, “Ada daging? Tambahkan sedikit daging boleh?”

Nenek itu langsung menjawab, “Aduh, tidak ada. Saya tidak mampu membeli daging, hehe.”

Setelah mi matang, nenek itu menyajikan semangkuk besar mi kepada blogger dan berkata, “Sudah sore, makanlah yang banyak.”

Sambil menyantap mi tanpa lauk, blogger itu berkata, “Enak sekali.”

Dengan penuh kasih, nenek itu berkata, “Usiamu sedang masa banyak makan. Makan dengan cabai ini, saya yang mengasinkannya sendiri. Kalau nanti lapar dan lewat sini lagi, datanglah cari saya, saya masakkan makanan untukmu.”

Saat hendak pergi, nenek itu juga membungkuskan sekantong makanan untuk dibawa blogger tersebut di perjalanan.

Blogger itu mengucapkan terima kasih atas jamuan sang nenek. Nenek itu berkata, “Tak perlu terima kasih.” Lalu ia menambahkan dengan mata berkaca-kaca, “Waktu anak saya masih hidup, setiap hari saya masakkan untuknya… kalau teringat itu, saya jadi sedih.”

Setelah meninggalkan rumah nenek tersebut, blogger itu pergi ke pasar dan membeli satu kotak besar telur serta sepotong besar daging, lalu secara khusus kembali untuk memberikannya kepada sang nenek.

Melihat itu, nenek tersebut tampak kebingungan dan enggan menerimanya. Blogger itu berkata, “Ini telur, bisa dimakan sampai tahun depan saat cuaca hangat dan ayam mulai bertelur lagi. Ini daging.”

Nenek itu tetap menolak, namun blogger berkata, “Ini hadiah untuk Anda,” lalu pergi. Nenek itu membawa kantong berisi daging tersebut dan mengantarnya sampai ke luar gerbang.

Seorang nenek 83 tahun di Shandong, yang tinggal di rumah tanah kosong tanpa perabot, tidak memiliki telur untuk dimakan dan tidak mampu membeli daging, namun tetap memasakkan semangkuk mi sederhana untuk seorang blogger yang sama sekali tidak dikenalnya. Itu adalah jamuan terbaik yang bisa ia berikan sesuai dengan kemampuannya.

Video ini meraih lebih dari 200 ribu tanda suka di platform Douyin. Banyak warganet di Tiongkok daratan merasa terenyuh:

“GDP Shandong setinggi ini, kenapa masih banyak lansia seperti ini? Ada apa sebenarnya?”

“Saya juga dari Yiyuan. Nenek itu di mana? Saya ingin membeli sesuatu dan mengantarkannya.”

Video ini juga memicu perbincangan hangat di platform X. Banyak warganet Tionghoa di luar negeri berkomentar, “Ini membuat saya menangis. Asal-usul keluarga saya juga dari Mengyin, Shandong, daerah basis revolusi. Tak disangka kehidupan mereka sekarang masih seperti ini…”

“Inilah sosialisme.”

 “Kehidupan di bawah rezim tirani PKT sungguh menyedihkan.”

“Sangat menyayat hati! Semoga nenek itu bisa merayakan Tahun Baru dengan baik!”

“Inilah aib nasional.”

(Laporan gabungan oleh reporter Luo Tingting / Editor penanggung jawab: Wen Hui)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Dunia Masih Berpotensi Menguat, Diramal Bisa Tembus USD5.200
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Jadwal Pertandingan Ratchaburi FC Vs Persib Bandung di 16 Besar AFC Champions League
• 11 jam lalubola.com
thumb
Atlet Paralimpik Turun Lintasan di Solo, Gaungkan Semangat Lari Inklusif
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
Pria Lapor Polisi karena Diarak Warga, Polisi: Sudah Tidur dengan Istri Orang
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Pakar UGM Ingatkan Risiko Bencana Harus Masuk Perhitungan Kebijakan Ekonomi Nasional
• 58 menit lalupantau.com
Berhasil disimpan.