Galon Guna Ulang Melebihi Batas Usia Pakai, DPR: Kita Semua Jadi seperti Minum Kimia

mediaindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita

BAHAYA kesehatan mengintai di balik penggunaan galon guna ulang. Persoalan ini menjadi sorotan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panitia Kerja (Panja) Industri Air Minum Komisi VII DPR RI bersama Kementerian Perindustrian. 

Anggota Komisi VII, Novita Hardini, mengungkap temuan bahwa 57% galon guna ulang di Jabodetabek telah melampaui batas usia pakai. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius akan risiko paparan bahan kimia berbahaya ketika masyarakat mengonsumsi air minum dalam galon yang sudah tua. 

“Ada temuan 57% di Jabodetabek galon-galon yang diguna ulang itu sudah melebihi batas usia pakai, saya jadi takut loh minum air putih ini, kita semua itu jadi seperti minum kimia,” katanya dikutip dari siarannpers yang diterima, Selasa (10/2).

Baca juga : KKI Ungkap Hampir 40% Galon Guna Ulang yang Beredar Berusia di Atas 2 Tahun

Pada Oktober 2025, Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) merilis hasil temuan investigasinya terhadap 60 toko kelontong di Jabodetabek. 

Selain temuan 57% galon guna ulang berusia lebih dari 2 tahun, investigasi menemukan kondisi 8 dari 10 galon guna ulang yang beredar sudah buram dan kusam. Ini tanda terjadinya penurunan kualitas kemasan. Kekhawatiran anggota Panja DPR tersebut bukan tanpa alasan. 

Ahli polimer dari Universitas Indonesia, Profesor Mochamad Chalid, pernah menjelaskan bahwa galon guna ulang berbahan plastik polikarbonat memiliki batas usia pakai yang harus diperhatikan. Galon guna ulang, menurut Profesor Chalid, sebaiknya hanya digunakan maksimal 40 kali pengisian ulang atau setara satu tahun.

Baca juga : Galon Guna Ulang PET: Solusi Strategis Tekan Sampah Plastik dan Emisi Karbon

“Lebih dari itu, risiko migrasi BPA akan makin tinggi,” jelasnya. 

Untuk diketahui, BPA merupakan bahan kimia pembuat plastik polikarbonat yang mampu meniru hormon sehingga berpotensi mengganggu sistem hormon manusia. Paparan dalam jangka panjang dari BPA ini telah dikaitkan oleh berbagai riset ilmiah dengan sejumlah risiko kesehatan serius, mulai dari gangguan kesuburan dan reproduksi, diabetes tipe 2, obesitas, hingga peningkatan risiko kanker payudara, prostat, dan usus besar.

Menurut Novita, persoalan galon guna ulang tersebut kian diperparah oleh lemahnya pengawasan pada tahap distribusi. Kualitas air yang semula memenuhi standar di pabrik seringkali merosot tajam ketika sampai di tingkat agen, penjual eceran, dan konsumen. Novita menyoroti praktik di lapangan di mana banyak galon dijemur terlalu lama di bawah terik sinar matahari. 

Paparan panas matahari tersebut, menurutnya, akan memicu perpindahan bahan kimia berbahaya dari galon ke dalam air, sehingga produk yang seharusnya menyehatkan justru berubah menjadi ancaman bagi konsumen. 

“Kualitas air itu sering menurun bukan di pabriknya tapi karena galon dijemur terlalu lama di bawah matahari karena stok di agen-agennya, karena ada migrasi kimia dari plastik ke air,” tandasnya. (E-4)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dugaan Scam Menguat, Kantor MBA Depok disegel Polisi
• 17 jam lalueranasional.com
thumb
Buruan Cek! Tiket Kereta Tambahan Lebaran Mulai Bisa Dibeli 11 Februari
• 57 menit laludisway.id
thumb
KPK Soroti Dugaan Pelanggaran Pemeriksaan WNA Singapura
• 11 jam laludisway.id
thumb
BPK: Kolaborasi Kunci Kelancaran Pemeriksaan Laporan Keuangan
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Wow! Alas Roban Mendekati 2 Juta Penonton, Kuyank: Saranjana the Prequel Menuju 500 Ribu
• 20 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.