Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan ketersediaan stok minyak goreng aman selama bulan Ramadan hingga Idul Fitri. Kepastian tersebut disampaikan saat Menteri Perdagangan mengunjungi salah satu pabrik produsen minyak goreng merek ternama di kawasan Narogong, Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Dalam kunjungannya, Budi Santoso juga meminta para produsen untuk memperbanyak produksi minyak goreng murah (second brand) yang kualitasnya setara dengan produk minyak goreng bersubsidi MinyaKita. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga di pasaran.
Mendag mengimbau masyarakat agar tidak terpaku hanya pada MinyaKita, mengingat produksi MinyaKita saat ini masih terbatas dan sangat bergantung pada kinerja ekspor.
“Kita ingin minyak goreng second brand beredar lebih banyak dengan harga-harga yang terjangkau, sehingga masyarakat tidak hanya bergantung pada MinyaKita,” ujar Budi Santoso.
Baca juga: Ketersediaan Pangan di Kabupaten Bandung Aman Jelang Ramadan dan Idulfitri
Budi menjelaskan bahwa MinyaKita sejatinya merupakan instrumen intervensi pasar yang diterapkan pemerintah melalui kebijakan Domestic Market Obligation (DMO). Kebijakan tersebut muncul ketika harga ekspor minyak sawit mentah (CPO) meningkat dan pasokan minyak goreng di dalam negeri menurun.
“Awalnya, saat harga ekspor naik, sebagian besar produksi dialihkan ke ekspor sehingga pasokan dalam negeri berkurang. Dari situ kemudian MinyaKita hadir sebagai alat intervensi pasar,” jelasnya.
Dengan mendorong produksi minyak goreng murah non-subsidi atau second brand, pemerintah berharap distribusi minyak goreng di pasar menjadi lebih merata, sehingga lonjakan permintaan menjelang hari besar keagamaan tidak hanya terpusat pada satu merek saja.




