Perjalanan ke Korea Selatan kini menghadirkan pengalaman berbeda bagi wisatawan Muslim. Penulis Asma Nadia merasakan langsung perubahan tersebut saat kembali mengunjungi Negeri Ginseng setelah 20 tahun.
Dalam perjalanan bersama para penulis Diamond KBM App, Asma mengaku pengalamannya kali ini jauh lebih hangat dibanding kunjungan sebelumnya.
"Jujur saja, Korea hari ini sangat berbeda dengan pengalaman saya saat berkunjung 20 tahun lalu. Saya masih ingat, ketika keluar dari museum, ada nenek yang menyoraki saya yang memakai jilbab dengan teriakan 'teroris'. Begitu buruknya citra Islam saat itu," kata Asma Nadia.
Menurutnya, waktu membuktikan bahwa stigma dapat berubah seiring meningkatnya pemahaman dan keterbukaan.
Hotel dan Restoran Semakin Ramah MuslimAsma menilai kesadaran terhadap kebutuhan wisatawan Muslim kini semakin terlihat, termasuk dari sisi kuliner.
"Pemandu wisata kami sempat mengingatkan untuk hati-hati saat sarapan hotel, terutama soal sosis yang kemungkinan mengandung babi. Tapi ternyata hotel-hotel di Korea sekarang jauh lebih peka. Di meja prasmanan, mereka memberi label khusus untuk makanan yang mengandung pork, bahkan sampai ke saus," ujar Asma.
Ia juga menyoroti keterbukaan pihak hotel saat wisatawan menanyakan bahan makanan.
"Ketika kami bertanya soal minyak goreng, mereka langsung menjelaskan bahwa yang digunakan minyak kedelai. Detail seperti ini bikin wisatawan Muslim merasa lebih tenang," lanjutnya.
Asma menyebut perubahan ini juga dipengaruhi meningkatnya jumlah wisatawan Muslim yang datang ke Korea Selatan setiap tahun, meski populasi Muslim di negara tersebut relatif kecil.
Itaewon hingga Namdaemun, Surga Kuliner HalalMenurut Asma, kini wisatawan Muslim juga semakin mudah menemukan makanan halal di berbagai kawasan populer.
"Itaewon sekarang seperti pusat peradaban Muslim di Seoul. Banyak restoran Timur Tengah, India, sampai Uzbekistan berjajar di sekitar Seoul Central Mosque," kata Asma.
Selain Itaewon, ia juga menemukan perubahan di kawasan pasar tradisional.
"Di Namdaemun, banyak pedagang kaki lima sudah sadar wisata. Mereka memasang label halal di dagangan mereka," tambahnya.
Tak hanya soal makanan, fasilitas penunjang ibadah juga semakin diperhatikan.
"Tantangan terbesar Muslim di luar negeri biasanya soal bersuci. Tapi Korea menjawabnya dengan cerdas. Banyak toilet di bandara dan hotel sudah menyediakan bidet," ujar Asma.
Asma bahkan mengaku terkesan dengan detail fasilitas wudu di Bandara Incheon.
"Saya sangat salut melihat tempat wudu di Incheon Airport. Mereka menyediakan batu khusus di bawah keran sebagai sandaran kaki, agar tidak terpeleset. Detail kecil tapi sangat memanusiakan kebutuhan ibadah," katanya.
Melihat perubahan besar tersebut, Asma menilai Korea Selatan kini semakin terbuka terhadap wisatawan Muslim.
"Dari yang pernah diteriaki 'teroris', sekarang justru tersedia fasilitas ibadah yang mumpuni. Korea bukan cuma menjual mimpi lewat drama, tapi juga memberi rasa aman untuk siapa pun yang datang," ucap Asma.
Ia berharap perubahan positif ini terus berlanjut di masa depan.
"Semoga transformasi ini terus berlanjut. Kita bisa belajar bagaimana sebuah bangsa bisa berubah dari penuh prasangka menjadi penuh toleransi," tutupnya.





