Komnas Perlindungan (PA) Anak DKI Jakarta mengungkap kasus pelecehan seksual anak sesama jenis di Jakarta Timur. Terduga pelaku masih duduk di bangku SD dan SMP.
Sementara korbannya ada yang duduk di bangku PAUD dan ada yang penyandang disabilitas. Semuanya masih di bawah umur.
"Kasusnya berat ya menurut kita, karena kasusnya ini pelecehan sesama jenis dan terduga pelakunya ini ada anak SMP dan juga ada anak SD yang bersekolah di sekitaran daerah Cawang," ujar Wakil Ketua Komnas PA DKI Jakarta, Hagistio Pradika saat ditemui kumparan, Selasa (10/2).
Ia mengatakan, sejauh ini Komnas PA menerima laporan ada 4 korban di kasus pelecehan tersebut. Ada yang masih duduk di bangku PAUD, SD, hingga satu korban penyandang disabilitas.
Hagistio mengatakan, kasus ini terungkap pada awal Februari lalu, dari terkuaknya sebuah grup WhatsApp di ponsel korban oleh orang tuanya. Di mana salah satu pelaku adalah admin dari grup tersebut. Grup WA itu sendiri berisikan 15 orang anak.
"Nah, ketika dilihat di salah satu grupnya itu ternyata ada video yang mana video itu anaknya sedang menjadi korban pelecehan," jelas Hagistio.
Dalam video tersebut terlihat anak korban disuruh untuk melakukan pelecehan seksual, lalu divideokan oleh pelaku siswa SMP. Sementara pelaku SD melakukan pelecehan ke anak korban.
Ia mengatakan, pelaku anak tak bisa diamankan karena masih di bawah umur, karena terganjal aturan di UU Perlindungan Anak.
"Karena pelaku dan korban di bawah umur itu itu masih dilindungi oleh undang-undang gitu kan, dan kita pun juga harus melindungi terduga pelaku juga," jelas Hagistio.
Pelaku Mengaku Ketagihan
Kasus ini menjadi perhatian serius Komnas PA karena efek yang ditimbulkan akibat pelecehan seksual ini. Hagistio mengatakan, anak pelaku mengalami gangguan psikis.
"Jadi mungkin karena kemarin kita ketemu dengan terduga pelaku dan terduga pelaku ini psikis sama mentalnya sudah terganggu ya mungkin karena memang sudah sering kali ya melakukan seperti itu jadi sepertinya itu seperti ketagihan," jelasnya.
Hal serupa juga dialami oleh salah satu korban yang masih duduk di bangku TK. Orang tua korban mengatakan, anaknya berniat untuk bunuh diri.
“Jadi si orang tua korban ini kemarin menyampaikan kepada kita bahwa anaknya ini pernah menyampaikan kepada orang tuanya bahwa dia ingin bunuh diri aja," jelas Hagistio.
Komnas PA Bantu Pemulihan Psikologis
Saat ini Komnas PA ikut membantu pemulihan psikologis, baik pelaku atau anak korban.
"Kita juga kemarin berkoordinasi juga dengan Sudin PPAPP (Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk) Jakarta Timur, terus kebetulan juga sudah dibantu ya untuk psikologinya. Jadi si korban ini masih terus berobat untuk psikologinya dan kita masih terus menyelidiki karena kita juga pengin tahu ya kenapa anak ini membuat grup," ucap Hagistio.
"Walaupun sih memang katanya grupnya grup main gitu kan tapi kenapa di grup main itu banyak video-video yang tidak baik lah gitu seperti video pembulian terus itu tadi gitu kan pelecehan itu di-upload di grup itu," jelasnya.
Komnas PA juga berencana untuk datang ke sekolah pelaku yang SMP.
Orang tua korban sendiri ada yang sudah melaporkan kasus ini ke Polres Metro Jakarta Timur.
“Baru satu yang sudah teridentifikasi gitu yang yang dilaporkan ke Polres ya yang dilaporkan ke Polres Jakarta Timur itu pelakunya satu sama korbannya dua yang dilaporkan gitu yang dua lagi itu belum melaporkan," kata dia.
Korban dan Pelaku Saling Kenal
Hagistio juga mengungkapkan bahwa korban dan pelaku saling kenal. Ada yang merupakan teman bermain di sekolah. Ada juga salah satu korban yang merupakan saudara dari teman sepermainan pelaku.
"Jadi terduga pelakunya ini teman main. Makanya mungkin grup itu juga grup teman main gitu kan. Cuma memang isinya dan apa namanya perilakunya aja yang yang menyimpang gitu, apa lagi sesama jenis ya gitu. Laki-laki sama laki-laki, gitu," ungkapnya.
Saat ini Komnas PA masih menelusuri motif para pelaku melakukan pelecehan seksual ini. Hagistio menduga ada keterlibatan orang dewasa di kasus tersebut.
"Kami menelusuri juga ya gitu, apa sih penyebabnya, apa sih tujuannya apa. Karena kita kita tuh takut di atasnya dia itu ada orang dewasa yang nyuruh dia juga," kata dia.
Karena ternyata, pelaku yang masih SD pernah menjadi korban pelecehan pelaku SMP.
"Makanya, mungkin dia melakukan lagi ke anak yang mungkin lebih rendah dari dia gitu ya, yang mungkin masih bisa disuruh-suruh atau apa, gitu. Dan saya takutnya yang anak SMP ini juga dulunya korban, yang saya takutin ya gitu," sambungnya.
Komunikasi dengan Bareskrim dan Kominfo
Komnas PA juga sudah berkomunikasi dengan Dittipidsiber Bareskrim Polri untuk bantu melacak grup-grup yang 'menyimpang'.
"Kita juga sudah berkomunikasi ke bagian siber Bareskrim Polri untuk bantu kita juga untuk melacak-melacak video, untuk melacak grup-grup yang memang sudah melenceng," ujarnya.
Mereka juga sudah mengirimkan surat ke Kominfo untuk memblokir situs-situs porno yang mudah diakses oleh anak-anak.
Dari kasus ini, Komnas PA mengimbau seluruh orang tua untuk waspada dan jangan pernah lalai mengawasi anak-anaknya.
"Kami mengimbau untuk orang tua sering-sering mengecek handphone anak ya, karena kita tidak tahu di dalam handphone anak-anak itu berisi apa saja dan itu langkah paling konkret, paling utama untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan," tutupnya.





