Wakil Rektor Universitas Diponegoro (Undip), Heru Susanto menyebut sepakat bila universitas negeri harus menerima mahasiswa dari daerah 3T melalui jalur afirmasi. Namun, menurutnya, tantangan dari penerimaan mahasiswa daerah 3T ada di pengelolaan.
“Saya yakin teman-teman PTN semuanya melakukan itu. Tapi yang lebih penting sebenarnya tidak hanya menerima. Tapi mengelola mereka. Karena kami, hampir sama menurut saya, PTN-BH itu paling tidak setiap tahun itu menerima ADik (Afirmasi Pendidikan Tinggi) namanya. Jadi afirmasi dari 3T. Banyak,” ucap Heru dalam Rapat bersama Komisi X DPR di Gedung DPR, Selasa (10/2).
Menurutnya, banyak mahasiswa dari daerah 3T justru tidak menyelesaikan pendidikannya hingga lulus.
“Tapi mohon maaf, mohon maaf betul. Kadang-kadang kita menerima 100. Yang keluar itu enggak ada 50. 50-nya ke mana? Enggak lulus. Hilang di semester 2, dikontak enggak ini. Hilang di mana,” ucap Heru.
“Jadi ini yang, karena memang ada deviasi pada saat masuk, mereka dengan rata-rata mahasiswa ini. Maka sebenarnya pengelolaan itu juga menjadi penting. Tidak hanya kewajiban kita memasukkan ke perguruan tinggi, tetapi mengelola mereka,” tambahnya.
Selain itu, Heru bercerita para mahasiswa dari daerah 3T cenderung minder dari teman-temannya. Hal itu pun turut menjadi tantangan.
“Kami mengajari mahasiswa baru, mohon maaf yang dari 3T itu, semester pertama itu pelajarannya enggak, enggak sama dengan, dengan matematika, enggak. Berangkat kuliah mandi aja. Itu masih ada yang kita hadapi. Kenapa? Karena itu berdampak pada teman-teman sekelasnya yang kemudian mereka juga ternyata minder juga,” ucap Heru.
“Mereka itu punya perasaan minder ketika dengan teman-temannya gitu. ‘Oh, orang Jawa’, mohon maaf, ‘ternyata pinter-pinter, saya sendiri enggak ini’, merasa enggak mampu,” tambahnya.
Menurutnya, masalah ini pun harus menjadi perhatian bersama pihak universitas negeri dan Komisi X.
“Maka pengelolaan itu menjadi penting. Selain tentu memasukkan sendiri, tapi memasukkan mereka, memberikan afirmasi pada mereka, itu tidak menyelesaikan satu persoalan secara komprehensif. Itu menurut kami yang juga nanti tentu perlu mendapat poin penting,” ucap Heru.
Permasalahan mahasiswa afirmasi daerah 3T ini juga disorot Rektor UGM, Ova Emilia, yang juga hadir pada rapat tersebut. Menurutnya, banyak lulusan mahasiswa afirmasi daerah 3T justru tak kembali untuk membangun daerahnya saat sudah lulus.
“Saya merasa universitas kadang kala bertepuk sebelah tangan, maksud saya begini, kami sudah menerima afirmasi tapi setelah lulus mereka tidak kembali ke daerahnya,” ucap Ova.
“Wong kita itu juga memberikan kesempatan itu kan dengan maksud adalah untuk supaya yang bersangkutan membangun daerahnya,” tambahnya.
Ia pun menilai pemerintah daerah harus mulai turun tangan menggelontorkan dana untuk membiayai kuliah anak-anak dari daerah mereka, supaya adanya keterikatan hingga mahasiswa itu mau membangun daerahnya.
“Saya kira ini juga perlu dikembangkan bahwa pemda juga mengalokasikan dana sehingga mereka juga punya komitmen untuk pengembangan SDM di situ dan juga bertanggung jawab untuk menempatkan apabila mereka sudah lulus ya,” tandasnya.





