Pantau - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 6 poin atau 0,04 persen ke level Rp16.811 per dolar AS pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa, dibandingkan posisi sebelumnya Rp16.805 per dolar AS.
Ketegangan Geopolitik AS-Iran Picu Kekhawatiran PasarPengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
"Departemen Perhubungan AS, melalui Administrasi Maritim, pada hari Senin (9/2/2026) menyarankan kapal-kapal berbendera AS untuk tetap sejauh mungkin dari wilayah Iran saat melewati Selat Hormuz dan Teluk Oman," ungkapnya dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Selasa.
Ia menambahkan, "Badan tersebut menyarankan kapal-kapal berbendera AS untuk tetap dekat dengan Oman selama penyeberangan, dengan alasan risiko diserbu oleh pasukan Iran."
Peringatan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap meningkatnya eskalasi, meskipun sebelumnya terdapat kemajuan dalam pembicaraan akhir pekan lalu dan komitmen lanjutan untuk berdialog terkait program nuklir Iran.
Dalam pembicaraan tersebut, Iran tetap menolak seruan untuk menghentikan pengayaan nuklir, yang menjadi salah satu sumber utama perselisihan dengan Washington.
Data Ekonomi AS dan Sentimen Domestik Ikut MempengaruhiInvestor juga menantikan dua data ekonomi penting dari Amerika Serikat, yakni data penggajian non-pertanian (non-farm payroll) bulan Januari 2026 yang dijadwalkan rilis Rabu (12/2/2026), serta data inflasi indeks harga konsumen (CPI) yang akan dirilis Jumat (14/2/2026).
"Data-data tersebut juga diperkirakan akan mempengaruhi prospek suku bunga AS, terutama di tengah perubahan kepemimpinan yang akan segera terjadi di Federal Reserve," ungkap Ibrahim.
Dari dalam negeri, sentimen pasar tetap mendapat sokongan positif dari tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang mencapai 79,9 persen, berdasarkan survei terbaru dari Indikator Politik Indonesia.
"Jumlah itu bahkan memecahkan rekor tingkat keterpilihan atas presiden-presiden sebelumnya. Saat SBY menang di periode kedua pada 2009, kisarannya tak sampai 70 juta pemilih. Pun demikian saat Jokowi memenangi pilpres keduanya pada 2019, perolehan suaranya masih lebih kecil dari Prabowo," ujar dia.
Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama tercatat menguat ke level Rp16.799 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.838 per dolar AS.




