Grab dan OVO menghadirkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Swasta. Ini adalah inisiatif tanggung jawab sosial (CSR) yang sejalan dengan arahan Presiden Prabowo dalam mendorong keterlibatan dunia usaha dalam mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis sebagai salah satu program strategis nasional.
Pendanaan Program MBG Swasta berasal dari dana CSR Grab-OVO serta dukungan berbagai mitra swasta yang bersifat non-profit. Program ini dirancang sebagai model kontribusi sektor swasta yang melengkapi pelaksanaan MBG oleh pemerintah, dengan fokus pada keamanan pangan, tata kelola yang akuntabel, serta dampak sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.
Program MBG Swasta dijalankan melalui kolaborasi lintas organisasi dan pemangku kepentingan. Grab-OVO telah bekerja sama dengan berbagai organisasi dan yayasan, antara lain:
PP Muhammadiyah
Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU)
Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB)
Yayasan Benih Baik
Baja Perkasa Sentosa (Artha Graha Peduli Group)
Yayasan Astra
GK Foundation, serta mitra lainnya
Program ini juga telah dilaporkan dan dikunjungi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Menteri Koordinator Bidang Pangan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Gubernur Banten, serta sejumlah kepala daerah dan pejabat kementerian terkait lain.
Grab dan OVO menghadirkan Command Center MBG, sebuah pusat pemantauan berbasis teknologi yang berfungsi untuk memastikan keamanan pangan dan konsistensi standar operasional. Melalui Command Center ini, tim memantau proses penyediaan makanan secara real-time, mulai dari dapur mitra UMKM hingga makanan diterima oleh sekolah. Pendekatan ini memungkinkan potensi risiko teridentifikasi lebih dini, sekaligus mendukung respons yang cepat dan terukur.
Penggunaan teknologi menjadi krusial karena pengawasan keamanan pangan yang hanya mengandalkan pemeriksaan manual cenderung bersifat berkala dan memiliki keterbatasan dalam menangkap dinamika operasional di lapangan.
Dengan memanfaatkan ekosistem digital Grab-OVO, termasuk sistem monitoring, audit fisik, serta pemantauan terpusat melalui Command Center, program MBG Swasta menerapkan tata kelola dan standar keamanan makanan yang lebih konsisten dan transparan.
"Bagi kami, keamanan pangan bukan sekadar standar, tapi soal tanggung jawab terhadap masa depan anak-anak. Sebagai inisiatif CSR yang dijalankan oleh sektor swasta, tanggung jawab kami bukan hanya memastikan makanan tersalurkan, tetapi juga memastikan prosesnya aman, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan," kata Tirza Munusamy, Chief of Public Affairs, Grab Indonesia.
"Melalui pemanfaatan teknologi, kami ingin memastikan setiap makanan yang sampai ke tangan siswa aman, terjaga kualitasnya, dan benar-benar memberi dampak nyata bagi tumbuh kembang mereka."
Seluruh proses dalam program MBG didukung oleh sistem digital yang terdokumentasi dengan baik, mulai dari deklarasi kesiapan mitra UMKM, konfirmasi pengiriman, hingga umpan balik dari pihak sekolah. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat akuntabilitas program, tetapi juga memungkinkan perbaikan berkelanjutan melalui pendampingan dan edukasi kepada mitra UMKM.
Rizal Sutono, Ketua Umum Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB) yang menjadi salah satu mitra Grab-OVO dalam program MBG Swasta, menilai pendekatan ini sebagai contoh praktik baik dalam pengelolaan program sosial berbasis kolaborasi.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi dalam program MBG Swasta menunjukkan bagaimana inisiatif sektor swasta dapat dijalankan secara lebih terukur dan konsisten, terutama dalam menjaga keamanan pangan bagi anak-anak.
MBG Swasta melibatkan UMKM lokal sebagai mitra utama dalam rantai pasok. Melalui pendampingan berbasis teknologi, UMKM didorong untuk menerapkan standar kebersihan dan operasional yang lebih baik, sekaligus memperkuat kapasitas usaha mereka secara berkelanjutan.
Sejak diluncurkan pada September 2024, program MBG Swasta telah menjangkau 30+ sekolah (termasuk sekolah khusus) dengan 4.500+ penerima manfaat murid dan guru, serta melibatkan 20+ mitra UMKM dan kantin sekolah di 11 kota/kabupaten.
Ke depan, Grab, OVO, dan Yayasan Inklusi Pelita Bangsa berkomitmen untuk terus menyempurnakan pendekatan berbasis teknologi ini agar kualitas dan keamanan pangan dapat terjaga secara konsisten.





