Kudus, Jawa Tengah (ANTARA) - Berada di ketinggian 600 hingga 900 meter di atas permukaan laut (mdpl), Desa Japan yang merupakan bagian dari Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus dan termasuk zona Puncak Pegunungan Muria, menawarkan pemandangan memanjakan mata.
Pemandangan hijau di sisi kanan dan kiri jalan, terbentuk dari ratusan hektar hutan tropis. Pada bagian lereng dan bahkan permukiman warga, pohon-pohon buah khususnya jeruk pamelo dan alpukat menjadi daya tarik tersendiri bagi pendatang.
Saat panen, buah alpukat dan jeruk akan ditawarkan pada pendatang. Ketua Penggiat Konservasi Muria (PEKA MURIA), Teguh Budi Wiyono menggambarkan alpukat dari Japan memiliki daging lebih tebal dan kuning dibandingkan dari daerah lainnya.
Unsur kalium dalam tanah merah di Japan menjadikan buah terasa lebih manis. Pun dengan jeruk pamelo yang dari sisi bentuk dan ukuran mirip dengan jeruk bali. Bedanya, daging buah jeruk pomelo di Japan lebih merah, manis, dan berair.
Selain jeruk dan alpukat, Desa Japan juga dikenal sebagai penghasil kopi jenis robusta nomor dua di Kudus. Menurut data tahun 2023, lahan tanaman kopi memiliki luas sekitar 75 hektare dan setiap tahunnya mampu menghasilkan sekitar 200 ton lebih biji kopi per musim.
Sekitar 60 persen lahan di Japan ditanami kopi, sementara sisanya alpukat dan jeruk pamelo. Nilai ekonomis yang didapatkan warga dari panenan tanaman ini terbilang lumayan.
Aulia, salah seorang warga Desa Japan, mengatakan dari lahan kurang lebih 200 meter persegi dengan beberapa pohon alpukat di dalamnya, bisa meraup penghasilan sekitar Rp3 juta sekali panen. Alpukat sendiri biasanya panen tiga kali dalam setahun.
Hijaunya Japan dan lereng Muria tak bisa dilepaskan dari penanaman yang terus dilakukan oleh masyarakat setempat, bahkan hingga kini. Salah satu pemicunya, kawasan lereng Muria terutama di sekitar sumber mata air mulai terbuka beberapa tahun silam.
Mengetahui kondisi tersebut, Teguh dan 20 relawan bersama warga mulai menanam dan sejak tahun 2021, penanaman dilakukan secara konsisten dibarengi kegiatan merawat pohon di kawasan lereng Muria. Mereka juga mendampingi warga desa menanam tanaman buah. Hingga saat ini, total sudah sekitar 4.200 bibit pohon mereka tanam di total lahan seluas 48 hektare.
Bak gayung bersambut, penanaman kemudian mendapatkan dukungan dari pihak swasta, sehingga memperkuat gerakan yang dirintis masyarakat setempat. Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) memberikan bantuan sebanyak 60.321 bibit pohon termasuk buah alpukat dan durian. Tujuannya ganda, yakni menjaga lingkungan tetapi juga memberi nilai ekonomi bagi masyarakat.
Penanaman secara simbolis dilakukan di lereng Muria, tepatnya di belakang Balai Desa Japan, pada lahan seluas 6.000 meter persegi. Lahan tersebut nantinya akan dikembangkan sebagai salah satu lokasi kebun wisata.
Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara mengatakan ke- 60.321 bibit ini merupakan hasil konversi dari gerakan digital One Action One Tree (OAOT) 2026 selama dua bulan terakhir.
OAOT merupakan kegiatan tahunan dari Siap Sadar Lingkungan (Siap Darling) yang tujunnya mengajak generasi muda bersama-sama melakukan aksi nyata peduli lingkungan. Inisiatif ini bermaksud memberikan dampak ekonomi jangka panjang bagi komunitas dan ekologis bagi lingkungan.
Pada tahun keenam penyelenggaraan OAOT, 650 peserta turut berkontribusi pada aksi peduli lingkungan lewat rangkaian aktivitas seperti berlari, bersepeda, dan bermedia sosial.
Dari partisipasi tersebut, tercatat capaian kumulatif aktivitas bersepeda mencapai 67.941 kilometer, aktivitas lari mencapai jarak 31.051 kilometer, serta 525 konten media sosial terpublikasi pada kanal Instagram. Semuanya dikemudian dikonversikan menjadi 60.321 bibit pohon.
Pemilihan bibit alpukat dan durian lantaran keduanya sama-sama dibutuhkan warga dan bernilai ekonomis bagi mereka.
Kepala Seksi Wilayah I Perhutanan Sosial Yogyakarta, Kementerian Kehutanan, Ayi Firdaus Maturid mengatakan Gunung Muria memiliki peran dalam ekologis dan ekonomi. Kawasan lereng Muria dikenal sebagai wilayah strategis dengan fungsi ekologis penting sebagai kawasan resapan air dan penyangga ekosistem.
Menurut dia, keterlibatan masyarakat merupakan salah satu elemen kunci dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Di sisi lain, peran para mitra diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Inisiatif kolaboratif seperti yang dilakukan di lereng Muria ini juga menunjukkan bahwa ketika masyarakat, komunitas, dan pihak swasta bergerak bersama, upaya konservasi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan.
Sinergi antara BLDF, komunitas lokal, dan pegiat konservasi sebagai pendekatan yang sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mendorong pengelolaan hutan berkelanjutan berbasis masyarakat.
Diakuinya, setahun atau dua tahun mendatang, manfaat dari apa yang ditanam mungkin belum bisa dirasakan optimal. Namun, kegiatan penanaman terus didorong terus dilakukan oleh masyarakat dan bahkan menjadi gaya hidup.
Ini karena menanam pohon juga sama dengan menanam harapan bagi generasi penerus dan diharapkan terus berlanjut.
Ke depannya, kolaborasi akan tetap dilakukan dengan komoditas tanaman yang dikembangkan di Gunung Muria akan disesuaikan dengan kondisi ekologi setempat. Tentunya juga mempertimbangkan kebutuhan masyarakat di sekitar gunung.
Selain itu, inisiatif kolaborasi lintas pihak dalam membangun kesadaran kolektif dan aksi nyata bagi lingkungan, sekaligus menjaga kawasan lereng Muria sebagai sumber kehidupan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang, terus digaungkan.
Baca juga: Tiga pesona wisata memanen kopi di Kudus
Baca juga: Mengenal Desa Modern Berbasis Digital di Desa BRILiaN Mijen Kudus
Baca juga: Kemendes PDTT mengapresiasi perkembangan desa cerdas di Kudus
Pemandangan hijau di sisi kanan dan kiri jalan, terbentuk dari ratusan hektar hutan tropis. Pada bagian lereng dan bahkan permukiman warga, pohon-pohon buah khususnya jeruk pamelo dan alpukat menjadi daya tarik tersendiri bagi pendatang.
Saat panen, buah alpukat dan jeruk akan ditawarkan pada pendatang. Ketua Penggiat Konservasi Muria (PEKA MURIA), Teguh Budi Wiyono menggambarkan alpukat dari Japan memiliki daging lebih tebal dan kuning dibandingkan dari daerah lainnya.
Unsur kalium dalam tanah merah di Japan menjadikan buah terasa lebih manis. Pun dengan jeruk pamelo yang dari sisi bentuk dan ukuran mirip dengan jeruk bali. Bedanya, daging buah jeruk pomelo di Japan lebih merah, manis, dan berair.
Selain jeruk dan alpukat, Desa Japan juga dikenal sebagai penghasil kopi jenis robusta nomor dua di Kudus. Menurut data tahun 2023, lahan tanaman kopi memiliki luas sekitar 75 hektare dan setiap tahunnya mampu menghasilkan sekitar 200 ton lebih biji kopi per musim.
Sekitar 60 persen lahan di Japan ditanami kopi, sementara sisanya alpukat dan jeruk pamelo. Nilai ekonomis yang didapatkan warga dari panenan tanaman ini terbilang lumayan.
Aulia, salah seorang warga Desa Japan, mengatakan dari lahan kurang lebih 200 meter persegi dengan beberapa pohon alpukat di dalamnya, bisa meraup penghasilan sekitar Rp3 juta sekali panen. Alpukat sendiri biasanya panen tiga kali dalam setahun.
Hijaunya Japan dan lereng Muria tak bisa dilepaskan dari penanaman yang terus dilakukan oleh masyarakat setempat, bahkan hingga kini. Salah satu pemicunya, kawasan lereng Muria terutama di sekitar sumber mata air mulai terbuka beberapa tahun silam.
Mengetahui kondisi tersebut, Teguh dan 20 relawan bersama warga mulai menanam dan sejak tahun 2021, penanaman dilakukan secara konsisten dibarengi kegiatan merawat pohon di kawasan lereng Muria. Mereka juga mendampingi warga desa menanam tanaman buah. Hingga saat ini, total sudah sekitar 4.200 bibit pohon mereka tanam di total lahan seluas 48 hektare.
Bak gayung bersambut, penanaman kemudian mendapatkan dukungan dari pihak swasta, sehingga memperkuat gerakan yang dirintis masyarakat setempat. Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) memberikan bantuan sebanyak 60.321 bibit pohon termasuk buah alpukat dan durian. Tujuannya ganda, yakni menjaga lingkungan tetapi juga memberi nilai ekonomi bagi masyarakat.
Penanaman secara simbolis dilakukan di lereng Muria, tepatnya di belakang Balai Desa Japan, pada lahan seluas 6.000 meter persegi. Lahan tersebut nantinya akan dikembangkan sebagai salah satu lokasi kebun wisata.
Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara mengatakan ke- 60.321 bibit ini merupakan hasil konversi dari gerakan digital One Action One Tree (OAOT) 2026 selama dua bulan terakhir.
OAOT merupakan kegiatan tahunan dari Siap Sadar Lingkungan (Siap Darling) yang tujunnya mengajak generasi muda bersama-sama melakukan aksi nyata peduli lingkungan. Inisiatif ini bermaksud memberikan dampak ekonomi jangka panjang bagi komunitas dan ekologis bagi lingkungan.
Pada tahun keenam penyelenggaraan OAOT, 650 peserta turut berkontribusi pada aksi peduli lingkungan lewat rangkaian aktivitas seperti berlari, bersepeda, dan bermedia sosial.
Dari partisipasi tersebut, tercatat capaian kumulatif aktivitas bersepeda mencapai 67.941 kilometer, aktivitas lari mencapai jarak 31.051 kilometer, serta 525 konten media sosial terpublikasi pada kanal Instagram. Semuanya dikemudian dikonversikan menjadi 60.321 bibit pohon.
Pemilihan bibit alpukat dan durian lantaran keduanya sama-sama dibutuhkan warga dan bernilai ekonomis bagi mereka.
Kepala Seksi Wilayah I Perhutanan Sosial Yogyakarta, Kementerian Kehutanan, Ayi Firdaus Maturid mengatakan Gunung Muria memiliki peran dalam ekologis dan ekonomi. Kawasan lereng Muria dikenal sebagai wilayah strategis dengan fungsi ekologis penting sebagai kawasan resapan air dan penyangga ekosistem.
Menurut dia, keterlibatan masyarakat merupakan salah satu elemen kunci dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Di sisi lain, peran para mitra diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Inisiatif kolaboratif seperti yang dilakukan di lereng Muria ini juga menunjukkan bahwa ketika masyarakat, komunitas, dan pihak swasta bergerak bersama, upaya konservasi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan.
Sinergi antara BLDF, komunitas lokal, dan pegiat konservasi sebagai pendekatan yang sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mendorong pengelolaan hutan berkelanjutan berbasis masyarakat.
Diakuinya, setahun atau dua tahun mendatang, manfaat dari apa yang ditanam mungkin belum bisa dirasakan optimal. Namun, kegiatan penanaman terus didorong terus dilakukan oleh masyarakat dan bahkan menjadi gaya hidup.
Ini karena menanam pohon juga sama dengan menanam harapan bagi generasi penerus dan diharapkan terus berlanjut.
Ke depannya, kolaborasi akan tetap dilakukan dengan komoditas tanaman yang dikembangkan di Gunung Muria akan disesuaikan dengan kondisi ekologi setempat. Tentunya juga mempertimbangkan kebutuhan masyarakat di sekitar gunung.
Selain itu, inisiatif kolaborasi lintas pihak dalam membangun kesadaran kolektif dan aksi nyata bagi lingkungan, sekaligus menjaga kawasan lereng Muria sebagai sumber kehidupan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang, terus digaungkan.
Baca juga: Tiga pesona wisata memanen kopi di Kudus
Baca juga: Mengenal Desa Modern Berbasis Digital di Desa BRILiaN Mijen Kudus
Baca juga: Kemendes PDTT mengapresiasi perkembangan desa cerdas di Kudus





