Bisnis com, DENPASAR – Bali mengekspor 79,5 ton manggis ke China jelang perayaan Imlek 2026 yang akan berlangsung pada 17 Februari 2026 mendatang.
Kepala Karantina Bali Heri Yuwono menjelaskan permintaan manggis meningkat jelang Imlek jika dibandingkan dengan hari biasa. Walaupun volume ekspor awal 2026 ini menurun dibandingkan data periode yang sama pada 2025 sebelumnya mencapai 131 kali dengan volume 356,5 ton.
"Beberapa hal yang menyebabkan penurunan volume ekspor manggis, antara lain produktivitas manggis menurun akibat perubahan musim dan cuaca yang ekstrim, sehingga banyak bunga manggis yang berguguran," jelas Heri dikutip dari keterangan resminya, Selasa (10/2/2026).
Menurut Heri, permintaan manggis dari China jelang Imlek karena buah manggis merupakan komoditas penting saat Imlek. Manggis melambangkan keberuntungan, kemakmuran, dan kesehatan. Selain itu, warna dan rasanya dianggap cocok sebagai persembahan maupun sajian istimewa saat perayaan.
Petugas Karantina Bali memastikan kesehatan manggis sesuai persyaratan negara tujuan. Persyaratan teknis sesuai protokol ekspor yang sudah disepakati kedua negara di antaranya bebas kutu putih, lalat buah, kutu tempurung, dan siput.
"Ekspor manggis ini merupakan salah satu langkah nyata Badan Karantina Indonesia dalam membuka pasar global bagi komoditas unggulan Indonesia. Penanganan yang sesuai dengan protokol ekspor manggis ke Tiongkok dan menjamin ketertelusuran, sehingga produk pertanian Indonesia dapat bersaing di pasar global," jelas Heri
Baca Juga
- Manfaat Manggis untuk Ibu Hamil, Bisa Atasi Sembelit dan Obesitas
- Buah Manggis Jadi Daftar Buah Terbaik di Dunia
- 10 Manfaat Kulit Manggis untuk Kesehatan Tubuh
Berdasarkan data Barantin Electronic System for Transaction and Utility Service Technology (Best Trust) Karantina Bali telah mensertifikasi ekspor manggis sebanyak 42 kali dengan volume 79,5 ton dan nilai ekspor sebesar 2,6 miliar rupiah. Sedangkan pada Desember 2025 sebanyak 1 kali sertifikasi dengan volume 9,7 ton.




