Indeks utama saham Amerika Serikat (AS) alias Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (10/2). Investor mencermati rilis data ekonomi AS yang mengindikasikan aktivitas ekonomi mulai melambat.
Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 108,71 poin atau 0,22 persen ke level 50.244,58 setelah sempat menyentuh rekor tertinggi. Sementara itu, S&P 500 turun 6,15 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.958,67, dan Nasdaq Composite melemah 62,32 poin atau 0,27 persen menjadi 23.176,35.
Dari sisi data ekonomi, Kementerian Perdagangan AS melaporkan penjualan ritel stagnan pada Desember 2025. Angka ini lebih rendah dari proyeksi ekonom yang disurvei Reuters, yang memperkirakan kenaikan 0,4 persen serta di bawah pertumbuhan November 2025 yang tercatat 0,6 persen. Data yang lebih lemah ini dinilai bisa membuka ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas suku bunga.
Di kawasan Asia, indeks Nikkei 225 melonjak setelah yen Jepang mencetak level tertinggi baru. Penguatan ini terjadi usai kemenangan telak Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam pemilu pada Minggu (8/2) lalu. Yen juga terus menguat pasca pemilihan tersebut.
Dolar AS cenderung melemah terhadap mayoritas mata uang utama setelah rilis data ekonomi dan pernyataan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick. Ia menilai pelemahan dolar ke level yang “lebih wajar” dapat membantu mendorong ekspor dan memperluas pertumbuhan ekonomi AS.
Di Wall Street, perhatian investor tertuju pada rilis data ekonomi serta laporan kinerja kuartalan emiten. Saham Marriott International melonjak 9 persen setelah perusahaan mengumumkan kinerja kuartal keempat yang solid.
"Imbal hasil bergerak menurun. Itu dan kombinasi pendapatan... adalah apa yang menyebabkan antusiasme dan momentum pembelian saham," kata Peter Cardillo, Kepala Ekonom Pasar di Spartan Capital Securities, New York.
Menurut Cardillo, fokus utama pasar pekan ini adalah laporan ketenagakerjaan AS periode Januari yang dijadwalkan rilis pada Rabu (11/2). Meski Dow Jones menguat, pelemahan saham Alphabet membebani pergerakan S&P 500 dan Nasdaq. Induk Google tersebut diketahui menerbitkan obligasi senilai USD 20 miliar dalam penawaran tujuh bagian.
Secara global, indeks saham MSCI World naik 1,89 poin atau 0,18 persen ke level 1.055,86, setelah sempat mencetak rekor tertinggi di sesi perdagangan. Sementara itu, indeks pan-Eropa STOXX 600 turun tipis 0,07 persen.
Setelah sempat tertekan pekan lalu akibat kekhawatiran persaingan teknologi kecerdasan buatan, saham-saham teknologi global mulai menunjukkan pemulihan. Indeks Nikkei melonjak 2,3 persen dan mencatatkan kenaikan tiga hari beruntun. Pasar menilai saham Jepang berpotensi diuntungkan dari rencana stimulus fiskal pemerintahan baru. Menariknya, obligasi pemerintah Jepang dan yen yang sebelumnya diperkirakan melemah justru menguat, seiring harapan stabilitas politik mendorong pertumbuhan ekonomi.
Terhadap yen, dolar AS melemah 0,94 persen ke level 154,4. Indeks dolar turun 0,1 persen ke posisi 96,85. Euro juga melemah 0,15 persen ke level USD 1,1895.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 5,1 basis poin menjadi 4,147 persen, dan mencatatkan penurunan empat hari berturut-turut. Secara total, imbal hasil sudah turun lebih dari 13 basis poin, menjadi penurunan empat hari terbesar sejak pertengahan Oktober.
Penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, menyebut pertumbuhan lapangan kerja berpotensi melambat dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini dipicu kebijakan imigrasi pemerintahan Trump yang menahan pertumbuhan tenaga kerja, serta meningkatnya produktivitas berkat penggunaan AI.
Di pasar lain, tekanan mulai mereda. Obligasi pemerintah Inggris bergerak lebih baik dibandingkan obligasi negara lain, setelah sebelumnya tertekan akibat meningkatnya tekanan politik terhadap Perdana Menteri Keir Starmer.
Dari pasar komoditas, harga emas spot turun 0,75 persen ke level USD 5.026,68 per ons. Harga minyak mentah AS turun 40 sen ke USD 63,96 per barel, sementara Brent melemah 24 sen menjadi USD 68,80 per barel.
Investor juga terus memantau perkembangan terbaru terkait hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.





