REPUBLIKA.CO.ID, KUDUS -- Terkadang tidak perlu aksi besar untuk menyelamatkan bumi. Ada kalanya tindakan yang terkesan individualistis seperti bersepeda, berlari, dan membagikannya di media sosial dapat memulihkan ekosistem yang menopang penghidupan warga di sekitarnya.
Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) menanam 60.321 bibit multipurpose tree species (MPTS) di kawasan lereng Muria, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, hasil konversi gerakan digital One Action One Tree (OAOT) 2026.
- KAI Tanam Ribuan Pohon di Sepanjang Jalur Kereta dan Wilayah Pesisir
- Pensil Ramah Lingkungan Penyelamat Pohon di Serbia
- Pohon Beringin 100 Tahun di Masjid Kotagede Yogya Tumbang karena Angin Kencang
Penanaman ini menjadi kelanjutan komitmen jangka panjang BLDF dalam pelestarian lingkungan, khususnya di wilayah yang memiliki peran strategis sebagai kawasan resapan air dan penyangga ekosistem.
Bibit-bibit tersebut berasal dari partisipasi publik dalam kampanye OAOT selama dua bulan terakhir yang mengajak masyarakat—terutama generasi muda—berkontribusi melalui aktivitas sehari-hari seperti berlari, bersepeda, hingga bermedia sosial.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Memasuki tahun keenam penyelenggaraan #OAOT, sekitar 650 peserta tercatat ikut ambil bagian. Dari aktivitas itu, tercapai jarak kumulatif bersepeda sejauh 67.941 kilometer, lari sejauh 31.051 kilometer, serta publikasi 525 konten di Instagram.
Setiap satu kilometer lari dan tiga kilometer bersepeda menghasilkan satu bibit. Seluruh capaian tersebut kemudian dikonversi menjadi bibit pohon yang kini ditanam di lereng Muria, bekerja sama dengan kelompok tani dan komunitas lokal.
Penanaman bibit ini juga menjadi bagian dari rangkaian seremoni penutupan #OAOT 2026 yang digelar di Balai Desa Japan, Kabupaten Kudus. Namun, lebih dari sekadar seremoni, program ini dirancang agar tidak berhenti pada penanaman semata.
BLDF menggandeng petani Kopi Muria untuk merawat bibit hingga tumbuh dan memberi nilai ekonomi, sejalan dengan sistem agroforestri yang telah lama dikembangkan masyarakat setempat. Director–Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, menyampaikan OAOT dirancang untuk mempertemukan gaya hidup generasi muda dengan aksi nyata pelestarian lingkungan.
“OAOT berangkat dari keyakinan bahwa aksi sederhana yang dilakukan secara konsisten dan kolektif dapat memberikan dampak berkelanjutan. Melalui OAOT, kami ingin mendorong generasi muda untuk terlibat aktif dalam gerakan lingkungan yang tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga memberi manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat,” ujar Mutiara, Selasa (10/2/2026).
Menurut Mutiara, dukungan BLDF tidak berhenti pada penyediaan bibit pohon. BLDF juga melengkapi program ini dengan pelatihan pengolahan kopi pascapanen, praktik manual brew, serta sesi pendekatan kreatif dalam pemasaran kopi melalui media sosial.
"Pendekatan ini kami lakukan untuk mendukung visi para petani Kopi Muria dalam memperkenalkan Kopi Muria kepada masyarakat yang lebih luas, sehingga upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi lokal,” lanjutnya.
Lereng Muria sendiri dikenal memiliki fungsi ekologis penting. Sistem agroforestri kopi yang berkembang di kawasan ini dinilai mampu menjaga keseimbangan lingkungan, menekan risiko erosi, sekaligus menopang keberlanjutan penghidupan petani.
Kementerian Kehutanan mencatat, pendekatan berbasis masyarakat seperti ini sejalan dengan kebijakan pengelolaan hutan berkelanjutan. Kepala Seksi Wilayah I Perhutanan Sosial Yogyakarta Kementerian Kehutanan, Ayi Firdaus Maturidy, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pihak.
“Gunung Muria memiliki peran ekologis dan ekonomi, namun membutuhkan kolaborasi berbagai pihak sehingga peran para mitra, salah satunya Djarum Foundation, dapat dilakukan berkelanjutan," kata Firdaus.
Ia menambahkan, inisiatif kolaboratif seperti yang dilakukan di lereng Muria ini juga menunjukkan ketika masyarakat, komunitas, dan pihak swasta bergerak bersama, upaya konservasi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan. Di tingkat tapak, gerakan konservasi ini bersinggungan langsung dengan kerja-kerja komunitas lokal.
Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria (PEKA Muria), Teguh Budi Wiyono, mengatakan sejak 2021 ia bersama sekitar 20 relawan dan petani kopi rutin menanam dan merawat pohon di kawasan lereng Muria, termasuk di sekitar sumber mata air.
“Awalnya kami khawatir melihat kondisi Muria, terutama di sekitar sumber mata air yang mulai terbuka dan rawan. Dari situ kami mulai menanam bersama warga dan relawan. Pelan-pelan, tapi rutin,” ujar Teguh.
Ia menambahkan, dukungan bibit dari BLDF membantu memperluas area penanaman. “Bantuan bibit dari BLDF sangat membantu kami memperluas penanaman. Harapannya, pohon-pohon ini bukan hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memberi nilai ekonomi bagi petani, supaya Muria tetap lestari dan tetap menghidupi,” kata Teguh.
Bagi peserta OAOT, keterlibatan dalam program ini memberi pengalaman berbeda. Perwakilan top leaderboard mahasiswa kategori lari, Muhammad Rifa Febrian, menilai gerakan ini membuka ruang bagi generasi muda untuk menghubungkan hobi dengan kontribusi nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
Ke depan, penanaman ribuan bibit di lereng Muria ini diharapkan tidak hanya memperkuat fungsi ekologis kawasan, tetapi juga menjaga Muria sebagai sumber kehidupan yang berkelanjutan. Upaya tersebut melanjutkan jejak panjang BLDF yang telah memulai inisiatif penghijauan sejak 1979 di Kabupaten Kudus.
Hingga kini, melalui program Djarum Trees for Life, lebih dari 2,4 juta pohon telah ditanam di berbagai wilayah Indonesia, dari Pantura Jawa hingga jalur Trans Sumatera, termasuk berbagai program konservasi lain yang menempatkan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat berjalan beriringan.




