TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Grab Indonesia dan OVO menghadirkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berbasis teknologi di 40 sekolah di wilayah Tangerang Raya, Banten.
Program ini dijalankan dengan menggandeng pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sementara pengantaran makanan dilakukan langsung oleh mitra pengemudi Grab terpilih.
Baca juga: OVO Catat Lonjakan Transaksi QRIS 61 Persen, Tembus 40 Juta di Grab
Chief of Public Affairs Grab Indonesia, Tirza Munusamy, mengatakan bahwa penerapan teknologi dilakukan menyeluruh, mulai dari proses pemesanan makanan oleh sekolah hingga pengantaran dan pengawasan kualitas makanan.
“Dari awal pemesanan, guru atau PIC di sekolah sudah menggunakan aplikasi untuk memesan kebutuhan makanan untuk satu minggu ke depan. Jadi sudah jelas berapa porsi yang dibutuhkan dan bisa ditata dari awal,” ujar Tirza saat ditemui di Tangerang, Selasa (10/2/2026).
Baca juga: Usai IPO, Superbank (SUPA) Bidik Pertumbuhan Agresif Lewat Ekosistem Grab dan OVO
Sistem tersebut membantu UMKM penyedia makanan dalam merencanakan belanja bahan baku dan proses produksi secara lebih efisien.
“UMKM jadi tahu kebutuhan untuk minggu itu, bisa melakukan planning belanja dan persiapan. Ini penting supaya kualitas dan ketepatan waktu tetap terjaga,” kata dia.
Distribusi makanan ke sekolah-sekolah dilakukan oleh mitra pengemudi yang tergabung dalam program khusus MBG.
Para mitra ini dipilih berdasarkan performa kerja mereka selama menjadi mitra Grab.
Mereka ditugaskan mengantar makanan ke sekolah-sekolah sesuai jadwal yang telah ditentukan dalam sistem.
“Pengemudi sudah diberi informasi jam pengambilan di dapur UMKM dan jam pengantaran ke sekolah, sehingga semuanya terjadwal dan bisa dimonitor,” jelas Tirza.
Selain distribusi, pengawasan kualitas dan kebersihan dapur UMKM juga dilakukan melalui pemasangan kamera pengawas (CCTV).
Sistem ini guna memastikan standar kebersihan dan keamanan pangan dipatuhi.
“Kalau terlihat ada standar yang kurang sesuai, misalnya tidak menggunakan masker atau hairnet, bisa langsung diberikan pengingat," kata dia.
Adapun pemanfaatan teknologi bertujuan meminimalkan kesalahan manusia serta memastikan seluruh alur MBG berjalan secara transparan dan terdokumentasi.
“Mulai dari jumlah porsi yang dikirim, yang dikonsumsi, sampai pengembalian alat makan, semuanya tercatat dan bisa dimonitor,” ucap dia.
Program MBG berbasis teknologi ini dijalankan di 40 sekolah di wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan, dengan jumlah penerima manfaat sekitar 4.500 siswa.
Pelaksanaan MBG didanai melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk mendukung perluasan jangkauan program mbg pemerintah, termasuk bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



