FAJAR, MAKASSAR—Komunitas Sepeda Tua Makassar (STM) kembali melakukan gerakan sosial. Kali ini dengan membagikan bibit tanaman produktif kepada kelompok tani di Kota Makassar.
Untuk tahap awal, kegiatan dilakukan di dua titik, yakni kelompok wanita tani di Jalan Pelita dan kawasan Kebun Rakyat Tanjung Bunga. Rabu,11 Februari.
Mereka membagikan sebagai upaya mendukung ketahanan pangan masyarakat menjelang Ramadan. Kegiatan tersebut dilakukan saat STM turun langsung meninjau kondisi sejumlah kelompok tani di wilayah Makassar.
Dalam aksi ini, STM menyalurkan sekitar 1.000 bibit tanaman yang dialokasikan ke 10 hingga 15 kelompok tani, khususnya kelompok wanita tani (KWT).
Pemilihan bibit cabai menjadi fokus utama karena komoditas tersebut kerap mengalami fluktuasi harga menjelang Ramadan. Dengan menanam sendiri, masyarakat diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dapur tanpa bergantung sepenuhnya pada pasar.
Pendiri Sepeda Tua Makassar, Ichwan Njiolah, menjelaskan bahwa bibit yang disalurkan terdiri dari tanaman cabai, terong, serta tanaman obat dan rempah seperti kunyit emas. Ia menyebut kegiatan ini baru pertama kali dilakukan dan akan berlanjut ke depannya.
“Ini baru pertama kali. Ke depan akan terus kita laksanakan. Kita ingin tanam di kebun warga yang memang diperuntukkan untuk masyarakat,” ujar Ichwan.
Ketua Sepeda Tua Makassar Periode 2025–2028, Hengky Rahmat Jaya Soetioso, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari dukungan STM terhadap program urban farming Pemerintah Kota Makassar.
Ia menilai kolaborasi komunitas dan pemerintah penting dalam membangun kota yang sehat dan berkelanjutan.
“Bagaimana kami bersama komunitas STM bisa berolahraga, sekaligus menanam dalam kebersamaan. Ini sejalan dengan program urban farming Pak Wali Kota,” katanya.
Pembina Yayasan Butta Porea Indonesia sekaligus Tim Ahli Wali Kota Makassar, Fadli, menilai kolaborasi tersebut sebagai langkah produktif yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Ia menegaskan program urban farming di Makassar terus diperkuat, termasuk melalui pemanfaatan kompos dari limbah organik.
“Ini gerakan yang menginspirasi. Kolaborasi komunitas seperti ini penting untuk membangun kesadaran lingkungan, ketahanan pangan, dan penghijauan Kota Makassar,” tutupnya.
Sekdis DP2, Andi Pangeran mengatakan
Gerakan ini menjadi bentuk kepedulian komunitas terhadap ketahanan pangan lokal sekaligus mendorong masyarakat memanfaatkan lahan kosong secara produktif, khususnya di wilayah perkotaan.(wis)





