Pengamat pariwisata Universitas Andalas Sari Lenggogeni, menilai sektor penerbangan dan ekosistem bandara menjadi pihak yang paling cepat terdampak saat terjadi pembatalan dan keterlambatan penerbangan. Hal ini dikarenakan berkaitan langsung dengan pintu masuk kedatangan wisatawan.
“Sektor yang paling terdampak dalam kondisi ini sudah pasti penerbangan dan ekosistem bandara. Sebagai pintu masuk, dampaknya langsung kehilangan pendapatan, kemudian biaya operasional naik, penjadwalan ulang penerbangan bertambah, lalu ada juga efek antarrute,” kata Sari Lenggogeni, seperti dikutip dari Antara.
Ia mengatakan gangguan jadwal penerbangan memicu kerugian langsung dan peningkatan biaya layanan, serta menimbulkan dampak berantai terhadap jaringan mitra maskapai dan bandara.
“Sudah pasti dia akan memberikan efek domino kepada jaringan kliennya,” ujarnya.
Laporan media perjalanan Travel and Tour World mencatat terjadi 4.284 keterlambatan, dan 95 pembatalan penerbangan di sedikitnya 16 bandara internasional Asia.
Sejumlah bandara dengan gangguan tinggi antara lain Shenzhen, Shanghai, Delhi, Singapura, Bangkok, Kuala Lumpur, Dubai, Manila, Istanbul, Teheran, dan Jakarta. Bandara Soekarno Hatta tercatat dengan jumlah pembatalan tertinggi, yakni 20 penerbangan.
Perhotelan dan Destinasi Wisata Kena ImbasnyaSelain sektor penerbangan, Sari menyebut dampak cepat berikutnya dirasakan sektor perhotelan dan destinasi wisata, karena berkaitan dengan jadwal kedatangan dan lama tinggal wisatawan.
“Kemudian yang kedua, dampaknya ke perhotelan dan ekosistem destinasi wisata. Sudah pasti karena lambat datang, maka hilang malam menginap, sehingga risiko keuangannya jadi tinggi,” ujar Sari.
Menurut Sari, gangguan penerbangan juga berpotensi membuat wisatawan kehilangan agenda perjalanan dinas maupun paket tur yang sudah dibeli, serta memicu tekanan pengembalian dana.
“Bisa kehilangan perjalanan bisnis atau kehilangan paket tur. Dan ada tekanan pengembalian dana,” tuturnya.
Ia menambahkan wisata pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran, serta perjalanan bisnis menjadi segmen paling sensitif terhadap gangguan jadwal, karena sangat bergantung pada ketepatan waktu dan memiliki toleransi rendah terhadap keterlambatan.
“Wisata pertemuan dan perjalanan bisnis risikonya tinggi, karena waktunya sensitif, toleransi terhadap keterlambatan rendah, dan ada potensi denda,” pungkas Sari.





