Zaman Aksial: Penyelarasan Pemikiran yang Terjadi Sekali dalam Sejarah

erabaru.net
10 jam lalu
Cover Berita

Ketika umat manusia menoleh ke belakang menelusuri bentangan panjang sejarahnya sendiri, satu pola yang mengusik terus berulang muncul. Peristiwa-peristiwa tertentu tampak begitu tidak mungkin, dan berulang dengan frekuensi yang sedemikian rupa, sehingga sulit untuk menjelaskannya semata-mata sebagai kebetulan belaka.

Di antara fenomena-fenomena tersebut, sedikit yang setahan lama dan seprovokatif apa yang oleh filsuf Jerman Karl Jaspers sebut sebagai “Zaman Aksial”.

Zaman Aksial secara umum merujuk pada periode antara sekitar 800 SM hingga 200 SM, sebuah masa ketika beberapa peradaban besar dunia mengalami transformasi intelektual dan spiritual yang mendalam. Di wilayah-wilayah yang terpisah oleh gurun, pegunungan, dan samudra—Tiongkok, India, Persia, kawasan Levant, dan Yunani—perkembangan yang sangat mirip terjadi dalam rentang sejarah yang sama. Sistem-sistem pemikiran baru muncul. Kerangka etika mendasar dirumuskan. Tradisi keagamaan dan filsafat yang bertahan lama mulai terbentuk.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah tertulis, manusia di berbagai peradaban yang berjauhan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan serupa tentang moralitas, eksistensi, pemerintahan, dan hakikat diri.

Waktu yang ganjil

Yang membuat pertemuan ini mencolok bukan hanya isinya, tetapi juga waktunya. Pada zaman tanpa transportasi cepat, tanpa komunikasi global, dan tanpa pertukaran budaya dalam skala berarti, peradaban-peradaban ini berkembang di sepanjang jalur intelektual yang sejajar, seolah-olah tidak saling mengetahui keberadaan satu sama lain.

Setiap kali sebuah peradaban mendekati ambang kritis—entah berupa kebangkitan, keretakan, atau transformasi mendasar—muncullah sosok-sosok dengan pengaruh luar biasa. Para bijak, filsuf, nabi, dan tokoh pencerah muncul hampir secara bersamaan di berbagai belahan dunia, meninggalkan teks dan ajaran yang membentuk kesadaran manusia selama ribuan tahun.

Confucius (Image: Adobe Stock)

Di Tiongkok, Laozi dan Kongzi (Konfusius) lahir dalam era sejarah yang sama. Catatan Sejarah Agung bahkan menuturkan bahwa Konfusius pernah berkonsultasi dengan Laozi mengenai ritual. Yang satu mendirikan Daoisme, yang lain Konfusianisme. Sun Zi, penulis Seni Perang, juga berasal dari generasi yang sama.

Di anak benua India, Siddhartha Gautama—Sang Buddha— lahir pada masa yang hampir bersamaan, secara tradisional disebut hanya sedikit lebih tua dari Konfusius. Ajarannya melahirkan Buddhisme, sebuah tradisi yang kemudian menyebar ke seluruh Asia dan melampauinya.

Di Yunani, Sokrates lahir hanya beberapa dekade setelah Konfusius, dan melalui dialog, penyelidikan, serta penalaran etis, ia meletakkan fondasi filsafat Barat.

Para filsuf Yunani Kuno dan Tiongkok memiliki kebijaksanaan yang luar biasa.
(Gambar: pixabay / CC0 1.0)

Sementara itu, di kalangan bangsa Ibrani, penyusunan dan penyuntingan akhir teks-teks kunci Alkitab Ibrani terjadi dalam rentang sejarah yang sama, membentuk tulang punggung moral dan spiritual dari tradisi keagamaan Barat di kemudian hari.

Setiap peradaban, dengan bahasa dan konteksnya masing-masing, menghasilkan karya-karya yang kemudian dianggap kanonik—teks-teks yang mendefinisikan nilai, merumuskan pertanyaan metafisika, dan membangun identitas budaya yang bertahan lama.

“Zaman Aksial”

Dalam kajian Barat, pertemuan ini dikenal sebagai Zaman Aksial. Dalam tradisi intelektual Tiongkok, periode ini kadang disebut sebagai “Era Klasik”, masa ketika teks-teks dasar disusun dan dilestarikan sebagai penopang budaya.

Kemunculan paralel karya-karya semacam itu di jarak geografis yang sangat jauh memunculkan pertanyaan yang tak terelakkan: apakah perkembangan ini hanyalah akumulasi besar dari kebetulan, ataukah mencerminkan irama yang lebih dalam yang tertanam dalam sejarah manusia itu sendiri?

Yang tak kalah mencolok adalah bahwa sinkronisasi semacam ini tidak berhenti pada zaman kuno.

Ketika Qin Shi Huang menyatukan Tiongkok dan mengakhiri kekacauan Zaman Negara-Negara Berperang, anak benua India menyaksikan konsolidasi yang sangat mirip. Kaisar Ashoka bangkit ke tampuk kekuasaan, menaklukkan kerajaan-kerajaan pesaing dan membangun sebuah imperium yang, dari segi skala dan ambisi, menyaingi penyatuan Tiongkok oleh Qin.

Berabad-abad kemudian, ketika Kaisar Wu dari Han memperluas wilayah Tiongkok dan menegaskan otoritas kekaisaran, dunia Romawi mengalami transformasinya sendiri. Ekspansi wilayah Roma dan konsolidasi institusionalnya membentuk kawasan Mediterania menjadi satu sistem kekaisaran terpadu.

Bahkan tonggak-tonggak simbolis dalam sejarah spiritual tampak selaras secara ganjil. Periode yang secara tradisional dikaitkan dengan kelahiran Yesus bertepatan erat dengan masa ketika Buddhisme mulai ditransmisikan secara formal ke Tiongkok, menandai momen penting dalam kehidupan spiritual Asia Timur.

Pola yang berlanjut

Pola ini juga berlanjut dalam masa-masa keruntuhan. Ketika Tiongkok memasuki kekacauan periode Jin Timur dan Enam Belas Negara, menghadapi gelombang invasi dari utara dan fragmentasi internal, Kekaisaran Romawi Barat mengalami disintegrasinya sendiri di bawah tekanan invasi yang disebut barbar. Timur dan Barat sama-sama mengalami pengikisan tatanan kekaisaran dan guncangan dunia yang telah mapan.

Kemudian, kebangkitan Dinasti Tang di Tiongkok bertepatan dengan ekspansi pesat Kekaisaran Arab, masing-masing membangun sistem pemerintahan, budaya, dan perdagangan yang luas di ujung-ujung Eurasia yang berlawanan.

Pada masa peralihan dari Dinasti Yuan ke Ming, Tiongkok memasuki zaman keemasan lukisan kaum literati dan sastra drama. Pada saat yang sama, Eropa mengalami Renaisans, yang melahirkan ledakan seni, sastra, dan pemikiran humanis. Beberapa novel klasik besar Tiongkok muncul atau mencapai puncak pengaruhnya pada periode ini, sementara di Barat, tokoh-tokoh seperti Shakespeare membentuk ulang kanon sastra. Menariknya, Shakespeare dan Tang Xianzu adalah sezaman persis, masing-masing meninggalkan karya yang hingga kini mendefinisikan tradisi teater dalam budaya mereka.

Berulangnya kesejajaran semacam ini memunculkan pertanyaan yang serius dan sulit: ketika peristiwa-peristiwa transformatif terjadi di satu bagian dunia, mengapa perubahan serupa begitu sering muncul di tempat lain, seakan saling mencerminkan?

Fenomena ini tidak dapat direduksi menjadi faktor geografis, maupun dengan mudah disingkirkan sebagai kebetulan. Ia mengisyaratkan kemungkinan bahwa peradaban manusia, meskipun dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh dan batas-batas budaya, mungkin sedang merespons tekanan, keterbatasan, dan peluang yang sama—yang melekat pada kondisi manusia itu sendiri.

Saat menutup halaman-halaman sejarah, muncul rasa takzim. Simetri yang tampak dalam kebangkitan dan transformasi peradaban—baik dalam momen pencerahan spiritual, konsolidasi kekaisaran, kemajuan seni, maupun keruntuhan sistemik—menantang gagasan bahwa sejarah bergerak sebagai rangkaian kecelakaan yang terpisah-pisah.

Sebaliknya, hal itu mengundang perenungan apakah sejarah manusia mengikuti irama yang lebih dalam, sebuah ritme global yang dibentuk oleh pengalaman kolektif, ambang psikologis, dan batas-batas organisasi sosial. Timur dan Barat, meskipun berbeda dalam budaya dan keyakinan, mungkin terikat oleh pola-pola yang melampaui geografi—terbentang pada tahap-tahap yang berbeda, namun dengan keselarasan yang mencolok.

Entah ditafsirkan sebagai ritme sejarah, psikologi kolektif, atau sesuatu yang masih berada di luar pemahaman kita, Zaman Aksial dan gaungnya mengingatkan bahwa peradaban mungkin tidak bergerak secara terpisah, melainkan sebagai bagian dari satu kisah besar umat manusia yang saling terhubung.

Sumber : Visiontimes.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kepala KPP Madya Banjarmasin Punya Jabatan di 12 Perusahaan, KPK Curiga Modus Korupsi
• 5 jam lalugenpi.co
thumb
IHSG Naik 1,96%, Ada Crossing Saham di SCMA dan DEWA
• 3 jam lalukatadata.co.id
thumb
HKTI Gelar Rapimnas Hingga Penyaluran Bantuan Bencana & Pasar Murah Jelang Ramadan
• 20 jam lalujpnn.com
thumb
Mengenal Jael Pawirodihardjo, Striker Keturunan Jawa yang Eligible Bela Timnas Indonesia
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Kejutan Como Berlanjut usai Singkirkan Napoli dari Coppa Italia, Antonio Conte Sampai Ngamuk
• 10 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.