Saling Lempar Tanggung Jawab Masih Jadi Kelemahan Jakarta

kompas.id
12 jam lalu
Cover Berita

Permasalahan mulai dari transportasi hingga polusi udara kembali ditumpahkan sebagian warga Jakarta kepada gubernurnya. Kebutuhan ini berkelindan dan belum sepenuhnya rampung karena masih ada pihak yang saling lempar tanggung jawab.

Gubernur Jakarta Pramono Anung diberondong tiga pertanyaan dalam Town Hall Meeting Dialog PR Jakarta ”Dengar Warga, Kerja Nyata untuk Udara Bersih”, di M Bloc Space, Jakarta Selatan, Selasa (10/2/2026) sore.

Acara dihelat Bicara Udara, organisasi nonprofit yang mengadvokasi strategi peningkatan kualitas udara dengan mendorong gerakan hak atas udara bersih dan membangun kolaborasi bersama pemangku kepentingan.

Salah satu pertanyaan dilontarkan Febrianto, warga Jakarta. Dia mengaku pengguna setia Transjakarta dan mikrotrans.

Dia membuka pertanyaan dengan menyebut rata-rata angkutan umum Jakarta belum menyediakan tempat sebagai ruang tunggu. Pengguna Transjakarta dan mikrotrans, misalnya, masih harus menunggu di trotoar.

Kondisinya semakin tidak ideal karena trotoar kurang lebar. ”Jaklingko (mikrotrans), kan, lumayan lama, Pak, menunggunya. Kami di situ berdiri, tidak ada tempat duduk,” kata Febrianto.

Ia lantas menyoroti kondisi trotoar, khususnya di Jakarta Timur. Trotoar sudah bagus, tetapi penerangannya tidak. ”Kadang lampu hidup, besok tidak. Bahkan, ada kabel listrik bergelantungan di halte busway (Transjakarta) dan trotoar. Itu, kan, berbahaya,” tutur Febrianto.

Pada bagian pamungkas, ia menyoroti masalah sampah. Tumpukan sampah, kata dia, bikin bau. Sampah juga membuat udara tidak sehat. Ia mencontohkan dekat Stasiun Kalibata, Jakarta Selatan.

”Itu lumayan sangat menyengat sekali, Pak. Bahkan, kalau lewat dalam seminggu pun itu bertumpuk, menyengatnya sudah ke mana-mana,” ucap Febrianto.

Hal serupa juga ada di salah satu rusun di Cawang, Jakarta Timur. Sampah-sampah bisa sampai seminggu tak dibersihkan. Ia berharap masalah-masalah tersebut bisa teratasi. Apabila belum ideal, paling tidak penanganannya tertata.

Lempar tanggung jawab

Tidak menunggu lama, Pramono mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sekaligus. Ia membukanya dengan menyebut ”kreativitas” sebagian warga di Semanggi, Jakarta Selatan. Pencurian lampu marak di kawasan itu.

”Tahu tidak? Itu sudah tiga kali diganti. Ke mana lampu itu? Dicuri. Padahal, di situ ada pos polisi, ada CCTV (kamera pemantau), ada yang mengawasi. Itu saja masih bisa dicuri,” kata Pramono.

Politisi PDI Perjuangan itu kemudian bergeser ke Jakarta Utara. Kabel penerangan jalan umum di Koja, dicuri dengan cara merusak konblok sepanjang 200 meter.

Pencurian terjadi di siang bolong. Pencuri bertindak seakan-akan petugas resmi yang sedang membongkar kabel.

Baca JugaSeperti Arena Halang Rintang, Trotoar Jakarta Dikuasai Motor dan Pedagang
Baca JugaBesi Tangga JPO Berulang Kali Hilang, DKI Rencanakan Pasang CCTV

Besi anak tangga Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Daan Mogot juga setidaknya empat kali dicuri. Ini hanya salah satu contoh.

Oleh sebab itu, material JPO diganti ke concrete wood, bahan bangunan alternatif pengganti kayu yang dibuat dari campuran serat fiber dan semen dengan bentuk menyerupai kayu asli. Semua demi menekan pencurian.

Akan tetapi, Pramono mengatakan, ia tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Hal tersebut adalah realitas. Namun, perlu diperbaiki sebagaimana dibahas dalam rapat khusus mengenai pengawasan di Balai Kota Jakarta pada Selasa siang.

”Salah satu kelemahan yang ada, kadang-kadang saling melempar tanggung jawab. Ini tugasnya camat, wali kota, lurah, atau ini tugasnya sudin (suku dinas) sehingga masing-masing kemudian saling melempar,” tutur Pramono.

Mantan Sekretaris Kabinet itu mencontohkan duka yang menimpa Aldi Surya Putra, siswa SMK Negeri 34 Jakarta. Aldi tewas setelah jatuh dari sepeda motor saat melintasi jalan yang licin dan berlubang dengan kecepatan tinggi di Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur, Senin (9/2/2026) pagi.

Pramono sengaja mengunggah peristiwa tersebut ke media sosial sebagai permenungan. Mengapa kejadian seperti itu bisa terjadi tanpa bermaksud saling menyalahkan. Apa yang terjadi, kata dia, harus segera diselesaikan.

”Dan, teman-teman saya juga marah. Ini Gubernur bagaimana, sih? Maka, yang menjadi pertanyaan Febri, memang Jakarta ini begitu kompleks. Tetapi, sekali lagi ini menjadi tanggung jawab saya sebagai Gubernur,” kata Pramono.

Baca JugaKerja ”Otak” Mengelola Banjir Jakarta
Baca JugaSiswa SMK Jakarta Tewas karena Jalan Rusak, Penambalan Jalan Berlubang Dikebut

Pramono sama seperti gubernur Jakarta dari masa ke masa. Mereka menghadapi persoalan klasik. Selain polusi udara, ada banjir, transportasi, sampah.

Pramono mengakui masalah klasik belum sepenuhnya terselesaikan dengan baik. Namun, mulai ke arah yang lebih baik.

Mundur ke masa kampanye Pilkada Jakarta 2024. Pramono bersama pasangan calon gubernur dan wakil gubernur lainnya memaparkan pengetahuan dan strategi dalam gelar wicara tentang polusi udara oleh Bicara Udara, di Jakarta Selatan, Kamis (14/11/2024) malam.

Pramono datang paling awal. Ia jadi pembicara pertama dan menanggapi sejumlah pertanyaan dari peserta gelar wicara.

Baca JugaPramono-Rano Diberi Skor 20 dari 75, Realisasi Janji Dinanti 
Baca JugaPramono Janji Transparan Sediakan Hunian Layak dan Terjangkau

PLTU, emisi gas buang kendaraan bermotor, dan pembakaran sampah industri maupun sebagian kecil sampah rumah tangga disebut sebagai sumber polutan. Butuh kebijakan tegas terukur dengan berkaca pada pengalaman di Jakarta ataupun keberhasilan wilayah atau negara lain.

Pengambil kebijakan, kata Pramono, harus mau belajar untuk mengatur polusi sesuai perannya. Pemerintah pusat mendukung pemerintah daerah dalam membatasi penggunaan batubara oleh PLTU, beralih ke BBM rendah sulfur, mobil hibrida atau listrik, dan lainnya.

Ia juga akan memanfaatkan teknologi, mendorong kebiasaan memantau kualitas udara, dan memeriksakan kondisi kesehatan, serta menegakkan aturan yang berlaku.

Serial Artikel

Transjakarta 22 Tahun, Fokuskan Armada Listrik dan Integrasi Antarmoda

Fokus Transjakarta ke depan bukan sekadar tambah armada bus, melainkan perkuat integrasi antarmoda, perluas BRT, dan terapkan Intelligent Transportation Systems.

Baca Artikel

Kembali ke saat ini. Pemerintah Provinsi Jakarta sejak awal telah memperluas layanan Transjakarta ke Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi dengan nama Transjabodetabek.

Rutenya ialah Blok M ke Alam Sutera, Blok M ke PIK 2, Lebak Bulus ke Sawangan, dan Blok M ke Kota Bogor, Vida Bekasi ke Cawang, dan Terminal Bekasi ke Dukuh Atas via Jalan Tol Becakayu.

Tujuan utama kebijakan ini untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang menjadi salah satu penyumbang utama polusi udara. ”Caranya adalah dengan meningkatkan kualitas dan jangkauan layanan transportasi umum. Bahkan, kami telah memperluas gratis naik angkutan umum bagi 15 golongan,” kata Pramono.

Baca JugaNyaris Setahun, Belum Ada Solusi Polemik RDF Plant Rorotan
Baca JugaSetelah Jakarta Jadi Kota Terpadat di Dunia

Persoalan sampah juga menjadi fokus utama. Dalam waktu dekat, menurut Pramono, Jakarta akan memiliki beberapa fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik.

Langkah tersebut agar pembangkit listrik tenaga sampah di Jakarta dapat menggantikan pembangkit listrik berbahan bakar batubara. Jika dapat terlaksana, ia yakin kontribusi terhadap penurunan emisi akan sangat signifikan.

Semua upaya tersebut, lanjut Pramono, tidak akan cukup tanpa partisipasi aktif dari masyarakat. Misalnya, tidak membakar sampah sembarangan dan perlu beralih ke bahan bakar ramah lingkungan dan rendah emisi.

”Jakarta harus terus berbenah. Dalam membangun, saya berulang kali menegaskan bahwa harus dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Pramono.

Baca JugaBang Yos Kini Lega, Tiang Monorel Tak Lagi Bebani Jakarta
Baca JugaAnies Berterima Kasih kepada Warga Jakarta
Baca JugaJokowi, Anies, dan Bebasnya BTP

Menurut Pramono, ia berkomitmen menyelesaikan berbagai persoalan yang belum terselesaikan oleh gubernur-gubernur sebelumnya. Salah satunya adalah proyek monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said, aksesibilitas kawasan Jakarta International Stadium (JIS), dan lahan RS Sumber Waras.

Ia berharap pada 2026 wajah Jakarta kian cerah. Perubahannya tak hanya disaksikan, tetapi juga dinikmati oleh warga.

”Saya bersyukur karena semakin banyak masukan, saran, dan kritik yang disampaikan. Hal tersebut sangat baik karena menunjukkan semakin banyak pihak yang peduli,” kata Pramono.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Video: Nusron Wahid Batalkan Sertipikat Perusahaan Tambang di Kalsel
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Transjabodetabek Cawang-Cikarang Resmi Beroperasi, Ini Rute Pemberhentiannya
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Trump Ancam Larang Pembukaan Jembatan Penghubung AS-Kanada
• 19 jam laludetik.com
thumb
PKS Respons Sejumlah Partai Dukung Prabowo 2 Periode
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Roy Suryo ke Polda Metro untuk Wajib Lapor Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.