VIVA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sedang mempertimbangkan pengiriman kelompok serang kapal induk kedua ke lepas pantai Iran dan bersiap untuk kemungkinan aksi militer, demikian dilaporkan media AS.
Langkah ini terjadi saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terbang ke Washington, Rabu, 11 Februari 2026, untuk melakukan pembicaraan di tengah dimulainya kembali negosiasi AS-Iran.
Trump mengatakan kepada situs berita Axios dalam sebuah wawancara bahwa ia "sedang mempertimbangkan" untuk mengirim kelompok serang kapal induk lain ke Timur Tengah. "Kita memiliki armada yang sedang menuju ke sana dan satu lagi mungkin akan menyusul," katanya
Kapal induk tersebut akan bergabung dengan USS Abraham Lincoln dan kelompok serangnya, yang sudah berada di wilayah tersebut. Pasukan tersebut termasuk jet tempur, rudal Tomahawk, dan beberapa kapal, yang mencerminkan pengerahan selama perang 12 hari tahun lalu.
Pengembangan kekuatan militer ini disertai dengan dimulainya kembali diplomasi. Sementatra para pejabat AS dan Iran bertemu Jumat lalu di Oman untuk pertama kalinya sejak konflik Juni lalu.
Media lokal AS mengutip pernyataan Trump yang mengatakan, "Kita akan mencapai kesepakatan atau kita harus melakukan sesuatu yang sangat sulit seperti sebelumnya." Ia mengatakan putaran kedua pembicaraan diperkirakan akan berlangsung minggu depan.
Presiden AS menyatakan optimisme yang hati-hati. "Terakhir kali mereka tidak percaya saya akan melakukannya. Mereka terlalu berlebihan. Kali ini pembicaraannya sangat berbeda," katanya, mengklaim Iran "sangat ingin mencapai kesepakatan" dan bernegosiasi lebih serius daripada putaran sebelumnya karena ancaman militer.
Namun, Teheran tetap menyatakan hanya akan membahas program nuklirnya dan tidak akan melepaskan haknya untuk memperkaya uranium.
Trump menambahkan bahwa kesepakatan apa pun harus mencakup program nuklir Iran dan persediaan rudal balistiknya. "Kita bisa membuat kesepakatan besar dengan Iran," katanya.
Netanyahu, yang tiba di Washington pada hari Rabu, skeptis terhadap prospek tersebut. Sebelum menaiki pesawatnya, ia mengatakan kepada wartawan bahwa ia akan "menyampaikan kepada presiden pandangan kami mengenai prinsip-prinsip negosiasi ini — prinsip-prinsip penting yang, menurut pendapat saya, penting bukan hanya bagi Israel, tetapi juga bagi semua orang di seluruh dunia yang menginginkan perdamaian dan keamanan di Timur Tengah."





