Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BBKHIT) Bali mencatat sebanyak 79,5 ton buah manggis diekspor ke China periode 1 Januari-9 Februari 2026 senilai Rp 2,6 miliar.
Jumlah ekspor buah manggis periode tersebut bahkan meningkat sekitar 700 persen dibandingkan Desember 2025, yaitu volume ekspor 9,7 ton.
Kepala Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BBKHIT) Bali, Heri Yuwono mengatakan, peningkatan jumlah ekspor ini dipicu permintaan buah manggis dari Bali ke China meningkat menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.
"Komoditas manggis populer kalangan masyarakat China saat Imlek, terutama karena nilai simbolisnya yang melambangkan keberuntungan, kemakmuran, dan kesehatan," katanya, Rabu (11/2).
Kata Heri, warna dan rasa buah manggis dianggap cocok sebagai persembahan maupun sajian istimewa saat perayaan.
Heri mengatakan, petugas Karantina memastikan kesehatan manggis sesuai persyaratan negara tujuan. Persyaratan teknis sesuai protokol ekspor yang sudah disepakati kedua negara di antaranya bebas kutu putih, lalat buah, kutu tempurung dan siput.
Walau demikian, Heri mengatakan, volume ekspor pada periode ini menurun dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebanyak 365 ton. Hal ini disebabkan produktivitas manggis menurun akibat perubahan musim dan cuaca yang ekstrem.





