Pt Pertamina (Persero) resmi memulai proses transformasi Terminal LPG Tanjung Sekong menjadi Green Terminal melalui kick-off inisiatif sertifikasi pada kuartal I 2026. Terminal strategis yang menyuplai sekitar 40 persen kebutuhan LPG nasional ini ditargetkan memperoleh rekomendasi pada akhir tahun ini, sebelum masuk tahap road map implementasi menuju sertifikasi pada 2027–2028.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar Pertamina dalam mendorong transisi energi dan memperkuat bisnis berbasis keberlanjutan (sustainability) di tengah tekanan global terhadap industri energi fosil.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, mengatakan peluncuran inisiatif ini bukan sekadar seremoni, melainkan penanda perubahan arah bisnis perusahaan.
"Jadi yang paling penting adalah hari ini dengan adanya launching atau Kick-Off Green Terminal ini menunjukkan bisnis Pertamina itu adalah bisnis yang berkelanjutan, yang sustainable," ujar Agung di Tanjung Sekong, Rabu (11/2).
Ia menegaskan, proses yang dimulai tahun ini akan berfokus pada assessment terhadap delapan pilar utama Green Terminal, termasuk aspek efisiensi energi, pengurangan emisi, tata kelola, hingga transisi energi.
"Kita saat ini mulai dengan kick-off di kuartal I 2026 ini, dan targetnya sampai kuartal IV nanti kita sudah bisa mendapatkan rekomendasi, baru nanti 2027-2028 kita siapkan roadmap-nya (pilot project untuk mendapatkan Green Terminal Label Sertification/GTLC). Yang paling penting kita identifikasi gap-nya apa, kelemahannya apa," jelasnya.
Terminal Tanjung Sekong Pemasok 40 Persen LPG NasionalPemilihan Tanjung Sekong sebagai lokasi kick-off bukan tanpa alasan. Terminal ini merupakan salah satu simpul energi terpenting Pertamina, dengan kontribusi sekitar 40 persen terhadap suplai LPG nasional. Untuk wilayah Jawa, porsinya bahkan mendekati separuh kebutuhan.
Artinya, transformasi di fasilitas ini memiliki dampak langsung terhadap rantai pasok energi rumah tangga Indonesia. Terlebih menjelang periode Ramadan dan Idul Fitri, ketika konsumsi LPG meningkat akibat perubahan pola memasak masyarakat.
Dengan posisi strategis tersebut, Tanjung Sekong dinilai tepat menjadi model awal pengembangan Green Terminal di lingkungan grup Pertamina.
Disuplai Green Hydrogen dari Panas BumiSebagai bagian dari inisiatif ini, operasional terminal mulai didukung energi yang lebih rendah karbon, termasuk pemanfaatan green hydrogen. Hidrogen tersebut diproduksi dari listrik berbasis panas bumi oleh Pertamina Geothermal Energy (PGE), kemudian dimanfaatkan dalam operasional di Tanjung Sekong melalui PT Pertamina Energy Terminal (PET).
Sinergi lintas entitas grup juga melibatkan Elnusa dalam operasional distribusi, serta dukungan kajian dari Universitas Pertamina. Kolaborasi ini disebut sebagai bentuk integrasi bisnis yang tidak hanya mengejar aspek lingkungan, tetapi juga nilai ekonomi.
Agung mengakui bahwa produksi Pertamina saat ini masih didominasi energi berbasis fosil. Namun, transformasi menuju keberlanjutan diklaim terus dijalankan secara nyata dan berdampak bisnis.
"Pertamina ini memang dominan produksinya masih dari energy basis fosil tapi transformasi ke arah keberlanjutan ini betul-betul dilakukan dan berdampak secara bisnis. Ini yang paling nyata," katanya.
Di samping itu, di tengah sorotan global terhadap praktik Environmental, Social & Governance (ESG), Pertamina juga mencatat sejumlah penilaian positif dari lembaga internasional. Sustainalytics menempatkan perusahaan pada peringkat satu kategori Integrated Oil and Gas, sementara MSCI memberikan rating BBB untuk aspek keberlanjutan. Selain itu, CDP juga memberikan penilaian yang dinilai cukup baik.
Menurut Agung, langkah transformasi ini bukan semata demi citra, melainkan harus berdampak terhadap kinerja perusahaan.
"Jadi kita yakin Indonesia mampu di mata dunia dilihat sebagai perusahaan yang menerapkan ESG tadi dan secara bisnis juga berdampak cuan juga. Ini yang paling penting dari kegiatan hari ini," tuturnya.




