Bisnis.com, JAKARTA - Deflasi sektor pabrik di China mereda pada Januari 2026 berkat reli harga logam global. Meski demikian, lemahnya permintaan domestik masih menahan pemulihan inflasi yang lebih kuat.
Berdasarkan data Biro Statistik Nasional China (NBS) yang dirilis Rabu (11/2/2026), indeks harga produsen atau producer price index (PPI) turun 1,4% secara year-on-year (yoy), menjadi penurunan terkecil sejak Juli 2024.
Sementara itu, inflasi konsumen melambat untuk pertama kalinya sejak Agustus, hanya tumbuh 0,2% yoy setelah naik 0,8% pada Desember. Perlambatan ini dipengaruhi efek basis perbandingan yang tinggi pada tahun sebelumnya.
Ekonom Morgan Stanley Robin Xing mengatakan belum terlihat tanda-tanda reflasi yang meyakinkan di China. Meski PPI membaik tipis, menurutnya kenaikan tersebut belum didorong oleh permintaan.
“Kami belum melihat transmisi kenaikan harga komoditas di hulu ke harga barang konsumsi di hilir,” ujarnya dikutip dari Bloomberg, Rabu (11/2/2026).
Reli harga emas dan komoditas global lainnya membantu menahan laju deflasi China, meski tekanan struktural masih kuat. Mayoritas ekonom memperkirakan biaya produsen dan konsumen akan pulih tahun ini. Namun, tekanan penurunan harga diperkirakan tetap bertahan tanpa lonjakan signifikan pada permintaan domestik.
Berdasarkan median estimasi ekonom yang disurvei Bloomberg, inflasi konsumen China diproyeksikan naik 0,7% sepanjang 2026. Angka tersebut termasuk salah satu yang terendah di dunia dan jauh di bawah target pemerintah sekitar 2%.
Perbaikan PPI Januari terutama dipicu perubahan di sektor hulu seperti pengolahan dan pemurnian logam. Penurunan harga barang produsen—yang mencerminkan kinerja pertambangan, bahan baku, dan manufaktur—menyempit menjadi 1,3% dari 2,1% pada Desember.
Sebaliknya, penurunan harga barang konsumsi, mulai dari makanan hingga kebutuhan sehari-hari, justru melebar menjadi 1,7% dari 1,3%.
Ekonom Kepala Asia Pasifik Natixis SA Alicia Garcia Herrero sebelumnya menyebut, setelah 40 bulan berturut-turut mencatat penurunan, perbaikan PPI bisa menjadi sinyal positif jika tekanan deflasi di sisi produksi mulai mereda.
Secara keseluruhan, China masih berada dalam tekanan deflasi yang menggerus pendapatan dan laba perusahaan. Deflator produk domestik bruto (PDB) negara itu tercatat turun selama tiga tahun berturut-turut hingga 2025, periode terpanjang sejak reformasi ekonomi akhir 1970-an.
Inflasi inti (core CPI), yang mengecualikan komponen volatil seperti pangan dan energi, naik 0,8%, menjadi level terendah dalam enam bulan terakhir.
Ahli Statistik NBS Dong Lijuan menyebut perlambatan inflasi juga dipengaruhi efek basis tinggi tahun lalu serta fluktuasi harga minyak global yang menekan biaya energi domestik.
Selain itu, pergeseran waktu Tahun Baru Imlek turut memengaruhi pola konsumsi. Pada 2025, libur tersebut berlangsung 28 Januari–4 Februari, sedangkan tahun ini jatuh sepenuhnya pada Februari.
Tekanan deflasi telah berlangsung sejak pandemi berakhir, dipicu krisis berkepanjangan di sektor properti serta lemahnya konsumsi rumah tangga.
Kelebihan kapasitas produksi di sejumlah industri turut menciptakan kelebihan pasokan, mendorong perusahaan memangkas harga demi bertahan. Pemerintah pun menggulirkan kampanye “anti-involution” untuk menekan persaingan tidak sehat dan perang harga yang menggerus profitabilitas, mulai dari industri kendaraan listrik hingga layanan pesan-antar makanan.
Sejumlah tanda perbaikan mulai terlihat. Rantai restoran dan minuman besar seperti KFC dan Cotti Coffee menaikkan harga di platform pengantaran makanan, mengakhiri praktik diskon agresif setelah regulator menyelidiki subsidi di sektor tersebut.
Bloomberg Economics memperkirakan ekonomi China mulai memasuki fase reflasi pada pertengahan 2026, didukung subsidi konsumsi dan kebijakan pembatasan persaingan berlebihan.
Sepanjang 2025, inflasi tahunan China tercatat nol persen—terendah sejak 2009 dan jauh di bawah target resmi sekitar 2%.
Secara bulanan, harga produsen tercatat meningkat sejak Oktober, menjadi tren kenaikan terpanjang sejak awal 2022. Menurut Dong, kondisi ini dipengaruhi kombinasi reli harga logam global, kebijakan pemerintah membatasi kompetisi berlebihan, serta peningkatan permintaan elektronik terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Harga bahan logam nonferrous melonjak 16,1% pada Januari secara tahunan, sedangkan harga output industri pertambangan dan pengolahan logam nonferrous melesat 22,7%.
Data Januari juga menggunakan keranjang barang dan jasa terbaru untuk CPI dan PPI, yang diperbarui setiap lima tahun. Dalam revisi terbaru, bobot belanja makan di luar rumah, transportasi dan komunikasi, pendidikan dan hiburan, layanan kesehatan, serta barang dan jasa lainnya meningkat. Sebaliknya, porsi pakaian, perumahan, dan layanan rumah tangga menurun.
Pejabat China menegaskan bahwa menjaga pemulihan harga yang wajar tetap menjadi pertimbangan utama kebijakan moneter pada 2026.
Bank sentral China (People’s Bank of China/PBOC) kembali menegaskan komitmennya menggunakan instrumen secara fleksibel, termasuk pemangkasan suku bunga dan rasio giro wajib minimum (reserve requirement ratio/RRR) bagi perbankan.
Namun, tim analis Huaxi Securities menyebut pelonggaran signifikan kemungkinan baru ditempuh jika ekonomi melambat tajam atau terjadi guncangan seperti tarif AS atau aksi jual pasar.
PBOC menyebut telah muncul perubahan positif pada harga dan menilai upaya pemerintah mendorong konsumsi akan meningkatkan kepercayaan pasar serta menopang pemulihan inflasi.
Ekonom ING Bank untuk China Raya Lynn Song menilai inflasi yang kembali meleset dari target kemungkinan tidak akan mengubah arah kebijakan moneter PBOC secara signifikan.
Kendati demikian, dengan indikator domestik yang masih lemah dalam beberapa bulan terakhir, ruang pelonggaran kebijakan moneter dinilai tetap terbuka tahun ini.





