JAKARTA, KOMPAS — Nilai tukar rupiah terus menunjukkan tren penguatan dalam tiga hari terakhir. Meski demikian, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan berfluktuasi seiring menguatnya dolar AS. Ke depan, Bank Indonesia berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar.
Mengutip data Bloomberg, perdagangan pasar spot antara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu (11/2/2026) dibuka menguat 0,23 persen ke level Rp 16.772. Sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp 16.811 per dolar AS.
Penguatan tersebut melanjutkan tren apresiasi rupiah terhadap dolar AS terapresiasi selama periode 6-10 Februari 2026. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), pergerakan mata uang ”Garuda” dalam tiga hari perdagangan itu menguat 0,52 persen ke level Rp 16.799 per dolar AS.
Sementara itu, pada periode yang sama, indeks dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) turun 0,85 persen, dari 97,63 ke level 96,80. Penurunan ini menandakan kurs dolar AS tengah melemah terhadap enam mata uang utama global.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi berpendapat, perkembangan tersebut tidak lepas dari melemahnya indeks DXY. Selanjutnya, pergerakan indeks DXY juga akan ditentukan oleh perkembangan data ekonomi AS.
”Fokus minggu ini adalah pada data ekonomi dari konsumen minyak terbesar di dunia, dengan data tersebut diharapkan akan memengaruhi prospek permintaan,” katanya secara tertulis, Selasa (10/2/2026).
Adapun data penggajian non-pertanian untuk Januari 2026 akan dirilis pada 11 Februari 2026, sedangkan data inflasi akan dirilis pada 13 Februari 2026. Laporan ini akan memengaruhi prospek suku bunga AS, terutama di tengah pergantian kepemimpinan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
DXY sempat naik ke 98, mendekati 98 sekian, tapi kemudian turun lagi menjadi 96. Jadi, artinya, volatilitas itu terjadi di semua mata uang, baik itu yang sifatnya global ataupun regional.
Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, fundamental ekonomi domestik semakin menguat. Namun, ketidakpastian global masih tinggi ditandai dengan ekspektasi pasar terhadap penundaan pemangkasan suku bunga acuan The Fed.
Akibatnya, DXY cenderung berfluktuasi seiring dengan sentimen investor yang mencari tingkat imbal hasil yang menarik. Dalam hal ini, para investor cenderung menempatkan dananya ke kelas aset yang aman (safe haven), antara lain obligasi Pemerintah AS.
”DXY sempat naik ke 98, mendekati 98 sekian, tapi kemudian turun lagi menjadi 96. Jadi, artinya, volatilitas itu terjadi di semua mata uang, baik itu yang sifatnya global maupun regional,” ujar Destry dalam diskusi CNBC Economic Outlook 2026 di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Kondisi tersebut pun berimbas kepada pergerakan nilai tukar rupiah. Meski secara tahun kalender berjalan masih terdepresiasi 0,44 persen, rupiah dalam tiga hari perdagangan terakhir mulai menguat memasuki kisaran level Rp 16.700 per dolar AS.
Destry menegaskan, BI akan terus menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah ini ditempuh dengan intervensi secara terarah dan terukur, baik di pasar spot, transaksi forward di pasar valuta asing luar negeri (NDF) dan dalam negeri (DNDF), maupun pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.
”Kami berusaha untuk mempertahankan supaya aset rupiah kita ini masih bisa terus memberikan return yang menarik. Ditambah lagi dengan fundamental kita yang bagus,” ujarnya.
Namun, ia mengakui, tidak mudah bagi BI untuk membuat nilai tukar rupiah berbalik menguat dalam tempo waktu singkat. Di sisi lain, fundamental perekonomian yang tecermin dari pertumbuhan ekonomi sebesar 5,39 persen pada triwulan IV-2025 akan menjadi tolok ukur penguatan rupiah ke depan.
Serial Artikel
Rupiah dan IHSG Sama-sama Tertekan
Rupiah dan IHSG sama-sama kembali mengalami tekanan. Adapun rupiah tertekan seiring menguatnya dolar AS, sedangkan pasar modal belum mendapatkan kembali kepercayaan.





