Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengapresiasi, sekaligus mendorong Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk terus konsisten menjalankan praktik pengelolaan sampah secara mandiri, sebagai pilar penting mewujudkan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Ia menegaskan bahwa isu sampah berada dalam kondisi krusial dan menjadi perhatian serius pemerintah. Penguatan kesadaran bersama, serta langkah nyata di tingkat pelaku usaha dinilai sangat menentukan keberhasilan agenda nasional penanganan sampah.
"Hal ini tercermin dari berbagai langkah tambahan untuk meningkatkan kesadaran, serta penguatan pengelolaan sampah mandiri. Presiden Prabowo Subianto juga telah menginisiasi Gerakan Indonesia ASRI," kata Widiyanti, seperti dikutip dari keterangan resminya.
Di tingkat Kabinet Merah Putih, kementerian dan lembaga tengah menggulirkan berbagai inisiatif masif, guna mengakselerasi penyelesaian persoalan sampah. Selain menjalin kerja sama dengan mitra internasional, pengembangan program waste-to-energy menjadi salah satu alternatif dalam pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah yang lebih modern dan terintegrasi.
Menurut Widiyanti, praktik pengelolaan sampah mandiri oleh hotel dan restoran akan memberikan kontribusi konkret terhadap agenda nasional, sekaligus memperkuat citra destinasi yang bersih dan berdaya saing.
"Upaya ini tidak hanya berdampak pada kualitas lingkungan, tetapi juga memperkuat kepercayaan wisatawan terhadap komitmen Indonesia dalam menjaga keberlanjutan," tuturnya.
Selama ini, PHRI telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga kualitas layanan dan memperkuat daya saing pariwisata nasional. Oleh karena itu, kolaborasi yang telah terjalin diharapkan semakin solid, termasuk dalam merespons tantangan lingkungan yang semakin kompleks.
"Kami mengimbau dan mengajak pengusaha perhotelan dan restoran untuk menerapkan, serta melanjutkan upaya pengelolaan sampah mandiri, sebagaimana surat dari Menteri Lingkungan Hidup yang dipertegas melalui surat Deputi Bidang Investasi dan Industri Kementerian Pariwisata," ujar Widiyanti.
Selain isu lingkungan, Widiyanti juga memaparkan perubahan lanskap pariwisata pada 2026. Pergeseran preferensi wisatawan semakin mengarah pada kepedulian terhadap lingkungan, kesehatan dan kebugaran, serta pencarian pengalaman yang bermakna dan imersif dengan layanan yang nyaman dan personal.
"Tren ini menuntut industri untuk beradaptasi dan menghadirkan standar layanan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga beretika dan berkelanjutan," pungkasnya.





