Kelenteng di Kawasan Tegalsari Surabaya, Mulai Dibersihkan Jelang Perayaan Imlek

suarasurabaya.net
4 jam lalu
Cover Berita

Jelang perayaan Imlek yang jatuh pada 17 Februari 2026 mendatang, umat Buddha mulai melakukan sejumlah persiapan. Termasuk melakukan pembersihan kelenteng yang akan digunakan sebagai tempat ibadah.

Kelenteng Hong San Koo Tee atau yang lebih akrab disebut Kelenteng Cokro, di kawasan Tegalsari Surabaya, mulai melakukan proses bersih-bersih kelenteng, Rabu (11/2/2026) ini sampai Sabtu (14/2/2026).

Proses bersih-bersih ini, kata Robertus pengurus Kelenteng Cokro, sebagai awal untuk menyambut tahun yang baru. Dia percaya, jika semua tempat, baik itu kelenteng ataupun rumah dibersihkan jelang Imlek, maka akan membukan pintu rezeki.

“Kalau secara tradisi, kita membersihkan supaya kelihatan terang semua. Anggapannya bahwa di tahun yang baru ini semua bersih terus rezeki bisa masuk banyak,” katanya, ditemui suarasurabaya.net, Rabu (11/2/2026).

Biasanya, proses bersih-bersih kelenteng dilakukan tepat tujuh hari sebelum perayaan Imlek. Menurut Robertus, dalam waktu tujuh hari itu, para Dewa sedang meninggalkan rupang (patung) untuk pergi ke langit dan melaporkan segala perbuatan manusia, khususnya umat Buddha.

Ketika posisi rupang kosong, itulah waktu yang tepat untuk membersihkannya.

“Jadi anggapannya adalah secara ritual (rupang) kosong, mereka (Dewa) sudah naik ke atas untuk melaporkan semuanya. Nah, maka itu kita bisa bersih-bersih karena biasanya kita tidak boleh bersih-bersih dulu selama satu tahun itu,” ungkapnya.

Selama proses pembersihan, tidak ada aturan ketat atau ritual-ritual khusus yang dijalankan. Ratusan rupang, mulai dari kecil hingga berukuran besar, dibersihkan menggunakan air teh dan bunga. Sedangkan untuk beberapa case, rupang akan dibersihkan menggunakan sabun dengan kanfungan deterjen yang minim.

Hampir seluruh pengurus dan karyawan kelenteng, yang bahkan berbeda aliran kepercayaan, ikut membantu membersihkan rupang untuk menyambut Imlek.

Kata Robertus, ini adalah hal yang biasa. Untuk membersihkan rupang, tidak harus orang beragama Buddha saja. Paling penting, dia harus teliti dan hati-hati.

“Biasanya kami memang minta bantuan pada karyawan atau orang-orang yang biasa membantu kami. Tapi kami tidak minta bantuan orang luar (kelenteng), karena mereka tidak paham dan tidak terbiasa. Karena kalau ada yang pecah, rulang itu harus segera dibuang,” jelasnya.

Perayaan Imlek di Kelenteng Cokro, akan dimulai dengan sembahyang bersama pada Senin (16/2/2026) pukul 00.00 WIB. Sementara pada Selasa (17/2/2026) hanya akan ada sembahyang biasa.

“Sama seperti perayaan haru keagamaan lainnya, sebelum Imlek kami sembahyang. Kemudian pada perayaannya, kami hanya unjung-unjung ke keluarga dan sembahyang biasa,” tutupnya.(kir/rid)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemenkes Larang RS Tolak Pasien JKN Nonaktif Sementara Selama 3 Bulan
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Sanae Takaichi Diprediksi Kembali Terpilih, Jepang Gelar Sidang Parlemen Pilih PM Baru 18 Februari 2026
• 19 jam lalupantau.com
thumb
Dipanggil Kembali Jaksa KPK, Bisakah Khofifah Mengelak dari BAP Kusnadi soal Fee Dana Hibah Jatim?
• 3 jam lalurealita.co
thumb
Doktif Sujud Syukur Usai Gugatan Praperadilan Richard Lee Ditolak
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Media Singapura Ungkap AFC dan OCA Bikin Aturan Baru Kriteria Kualifikasi, Timnas Indonesia U-23 Gagal Bermain di Asian Games 2026
• 6 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.