Eks Menag Yaqut Ajukan Praperadilan Buntut Status Tersangka Kasus Kuota Haji

viva.co.id
9 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Eks Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas mengajukan permohonan praperadilan terkait penetapan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan korupsi kuota haji tambahan untuk penyelenggaraan ibadah haji 2023-2024.

Permohonan praperadilan itu dilayangkan Yaqut ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan pada Selasa, 10 Februari 2026 dan terdaftar dengan nomor perkara: 19/Pid.Pra/2026/PN JKT.SEL.

Baca Juga :
Eks Menag Yaqut Ajukan Praperadilan Lawan KPK
Terkuak! KPK Ungkap Mulyono Jabat Komisaris di 12 Perusahaan

"Klasifikasi perkara: sah atau tidaknya penetapan tersangka," dikutip dari laman Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Jakarta Selatan, Rabu, 11 Februari 2026.

Adapun SIPP PN Jakarta Selatan tidak menampilkan petitum lengkap yang dimohonkan, termasuk nama hakim tunggal yang hendak memeriksa dan mengadili perkara belum diketahui.

"Sidang pertama: Selasa, 24 Februari 2026," demikian kutipan SIPP PN Jakarta Selatan.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membenarkan bahwa mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (YCQ) menjadi tersangka kasus dugaan korupsi terkait penentuan kuota dan penyelenggaraan ibadah haji di Kementerian Agama tahun 2023–2024 pada Januari 2026.

Sebelumnya, pada 9 Agustus 2025, KPK mengumumkan memulai penyidikan kasus dugaan korupsi kuota haji dan menyampaikan sedang berkomunikasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan RI untuk menghitung kerugian negara.

Pada 11 Agustus 2025, KPK mengumumkan penghitungan awal kerugian negara dalam kasus tersebut mencapai Rp1 triliun lebih dan mencegah tiga orang untuk bepergian ke luar negeri hingga enam bulan ke depan.

Mereka yang dicegah adalah mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Ishfah Abidal Aziz alias Gus Alex selaku mantan staf khusus pada era Menag Yaqut Cholil, serta Fuad Hasan Masyhur selaku pemilik biro penyelenggara haji Maktour.

Pada 18 September 2025, KPK menduga sebanyak 13 asosiasi dan 400 biro perjalanan haji terlibat kasus tersebut.

Selain ditangani KPK, Pansus Angket Haji DPR RI sebelumnya juga menyatakan telah menemukan sejumlah kejanggalan dalam penyelenggaraan ibadah haji 2024.

Poin utama yang disorot pansus adalah perihal pembagian kuota 50 berbanding 50 dari alokasi 20.000 kuota tambahan yang diberikan Pemerintah Arab Saudi.

Saat itu, Kementerian Agama membagi kuota tambahan 10.000 untuk haji reguler dan 10.000 untuk haji khusus.

Hal tersebut tidak sesuai dengan Pasal 64 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah, yang mengatur kuota haji khusus sebesar delapan persen, sedangkan 92 persen untuk kuota haji reguler. (Ant)

Baca Juga :
Modus Kasus Rekayasa Ekspor Pome 2022 Terbongkar, Kerugian Negara Fantastis Hingga Rp14 T
KPK Ungkap Penerimaan Uang Rp 2,5 Miliar ke Wakil Ketua PN Depok Modus Baru Korupsi
KPK Geledah Rumah Dinas Ketua PN Depok, Duit USD 50 Ribu Disita

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jamdatun Narendra Gagal Hadir di Sidang Ekstradisi Paulus Tannos, KPK Ungkap Alasannya
• 14 jam lalusuara.com
thumb
Hashim Ungkap Prabowo Subianto Akan Copot Pejabat yang Menghambat Ekonomi
• 13 jam lalugenpi.co
thumb
Menkeu Purbaya: Stabilitas Nasional Kunci Pertumbuhan Ekonomi Inklusif
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
Polresta Jogja Beri Penghargaan ke Mahasiswi yang Kejar dan Tabrak Jambret
• 8 jam laludetik.com
thumb
Purbaya Siap Bertemu Trenggono Usai Ribut di Medsos: Pak Menteri Sahabat Saya
• 7 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.