Bisnis.com, GARUT- Upaya hilirisasi produk olahan susu mulai digencarkan di Kabupaten Garut sebagai strategi meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan peternak sapi perah. Desa Sukamurni, Kecamatan Cilawu, yang selama ini dikenal sebagai sentra produksi susu mentah, diproyeksikan beralih dari penjualan bahan baku ke pengembangan produk olahan bernilai ekonomi lebih tinggi.
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Garut, drh Dyah Savitri mengatakan, pemerintah daerah bersama mitra industri mendorong transformasi rantai usaha susu, dari hulu hingga hilir, agar peternak tidak lagi bergantung pada harga susu segar yang fluktuatif. Fokus pengembangan diarahkan pada produk olahan seperti yoghurt, susu steril, hingga keju, yang memiliki daya simpan lebih lama dan margin keuntungan lebih besar.
Data pemerintah kecamatan dan desa mencatat, wilayah Sukamurni dan sekitarnya ditopang lebih dari 700 peternak sapi perah dengan total produksi mencapai sekitar 3.500 liter per hari. Selama ini, sebagian besar produksi dijual dalam bentuk susu segar dengan nilai tambah terbatas. Kondisi tersebut dinilai membuat posisi tawar peternak relatif lemah di tengah dinamika pasar.
Dyah menyebutkan, kualitas susu sapi perah di Desa Sukamurni memiliki keunggulan dibandingkan wilayah lain. Kandungan lemak (fat) dan total solid yang tinggi menjadikan susu tersebut memenuhi standar untuk produk olahan premium.
“Karakteristik bahan bakunya sangat mendukung untuk diversifikasi produk. Ini menjadi modal penting agar pengolahan susu tidak berhenti pada skala kecil, tetapi berkembang menjadi industri yang berkelanjutan,” ujar Dyah, Rabu (11/2/2026).
Saat ini, sebagian kecil produksi susu di Sukamurni sudah diolah secara mandiri menjadi yoghurt. Namun, keterbatasan teknologi, standar higienitas, dan kapasitas produksi membuat manfaat ekonominya belum dirasakan secara merata oleh peternak. Melalui hilirisasi berbasis teknologi dan standarisasi, nilai jual produk diharapkan meningkat signifikan.
Baca Juga
- Lebih dari 70.000 Warga Garut Dicoret dari Daftar PBI JKN
- Garut Angkat Tangan soal Jalan Rusak, Minta Campur Tangan Pemerintah Pusat
- Baru 20%, Program Koperasi Desa Merah Putih di Garut Masih Tertatih
Dari sisi industri, peluang pengembangan produk turunan dinilai terbuka lebar. Ketersediaan bahan baku berkualitas secara konsisten menjadi faktor utama untuk membangun produk olahan susu yang mampu bersaing di pasar nasional, bahkan internasional. Produk seperti keju lokal dengan identitas daerah dinilai memiliki potensi menjadi unggulan baru dari Garut.
Pemerintah daerah menilai hilirisasi bukan hanya soal pengolahan, tetapi juga menyangkut perubahan pola usaha peternak. Dengan adanya pengolahan di tingkat lokal, rantai distribusi dapat dipersingkat, biaya logistik ditekan, dan keuntungan tidak hanya terakumulasi di tingkat industri besar, tetapi juga mengalir ke peternak.
Selain itu, pengembangan produk olahan dinilai mampu menciptakan lapangan kerja baru di sektor pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran. Hal ini sejalan dengan upaya memperkuat ekonomi perdesaan berbasis komoditas unggulan lokal.
Menurut Dyah, penguatan sektor susu dari hulu hingga hilir menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan usaha peternakan di wilayahnya. Ia berharap pengembangan industri olahan susu dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal, bukan hanya bagi peternak, tetapi juga masyarakat sekitar.
"Dengan produksi harian yang stabil dan kualitas bahan baku yang kompetitif, Desa Sukamurni diposisikan sebagai contoh pengembangan hilirisasi susu di Kabupaten Garut. Tantangan ke depan terletak pada konsistensi pendampingan, akses teknologi, serta perluasan pasar agar hilirisasi benar-benar berdampak pada peningkatan pendapatan peternak secara berkelanjutan," katanya.





