EtIndonesia. Di New York, suatu kali saya berkesempatan mengunjungi Metropolitan Museum of Art yang sangat terkenal.
Setelah membayar tiket, petugas loket memberikan sebuah keping logam kecil—ukurannya kira-kira setara koin sepuluh dolar Taiwan—dengan dua penjepit, sehingga mudah disematkan di kerah pakaian.
Seorang teman memberi tahu saya bahwa selama kunjungan, kita boleh keluar masuk museum kapan saja. Jika ingin masuk kembali, tiket tidak perlu diserahkan—cukup gunakan tiket yang sama. Namun, jika sudah yakin tidak akan masuk lagi, tiket tersebut dimasukkan ke dalam kotak kaca akrilik di pintu keluar.
Saya bertanya: “Apakah bentuk atau warna tiketnya diganti setiap hari?”
Teman saya menjawab: “Tidak.”
Saya pun melanjutkan: “Kalau begitu, bukankah bisa saja ada orang yang membawa pulang tiketnya lalu kembali beberapa hari kemudian? Atau sepuluh orang masuk hanya membeli lima tiket, lalu satu orang keluar membawa tiket untuk diberikan kepada yang lain?”
Teman saya tertawa terbahak-bahak: “Hanya orang Taiwan yang berpikir seperti itu! Orang Amerika berpikir jauh lebih sederhana. Masuk ya beli tiket, tidak masuk lagi ya serahkan tiket. Pada dasarnya, orang Amerika percaya bahwa semua orang adalah warga yang taat aturan. Karena itu, petugas di pintu masuk pun sangat sedikit.”
Saat itu juga saya merasa malu. Ternyata cara berpikir yang terlalu fokus pada pencegahan kecurangan, bahkan mencari celah, telah menjadi bagian dari budaya kita—lebih sibuk mencegah kebocoran daripada mendorong kebaikan.
Belakangan ini saya diminta mengajar di TSMC. Saya mendapati bahwa kantin TSMC, seperti perusahaan lain di kawasan sains, menggunakan sistem outsourcing—bersih, rapi, dan terang.
Perbedaannya, tidak ada petugas yang menyajikan makanan. Semua diambil sendiri. Di bagian buah, terpasang selembar kertas bertuliskan: “Setiap orang hanya boleh mengambil satu kantong (sudah dicuci dan dipotong).”
Di pintu masuk pun hampir tidak ada penjagaan. Untuk masuk kantin, karyawan cukup memindai kartu identitas, dan biaya makan akan otomatis dipotong dari gaji di akhir bulan.
Seorang wakil manajer TSMC bercerita: “Pernah ada karyawan ketahuan makan tanpa memindai kartu. Pelanggaran pertama diberi peringatan. Pelanggaran kedua—langsung diberhentikan.”
Saya menyadari satu hal: semakin tinggi tingkat saling percaya, semakin sedikit aturan dan pengawasan. Segalanya menjadi lebih mudah, biaya turun, dan suasana kerja pun lebih menyenangkan.
Sebaliknya, jika yang tumbuh adalah kecurigaan—saling menjaga jarak, saling mengawasi—produktifitas menurun, pekerjaan menjadi pasif, dan suasana kerja terasa tidak bahagia.
Saudara-saudari sekalian, bukankah Anda juga merasakan bahwa ketika berada di lingkungan yang penuh kepercayaan—dengan teman atau rekan kerja—segala hal berjalan lebih efisien dan penuh keselarasan?
Namun ketika diliputi prasangka dan ketidakpercayaan, apa pun terasa seret dan sulit berkembang.
Jika Anda memahami prinsip ini, mulai sekarang bukalah hati. Hadapilah setiap rekan dengan sikap terbuka dan penuh kepercayaan. Mungkin pada awalnya Anda akan merasa sering dirugikan, karena orang lain belum terbiasa dengan cara Anda memperlakukan mereka.
Ingatlah satu hal: bertahanlah.
-Hal yang benar patut diperjuangkan.
-Hanya dengan keteguhan, kebaikan bisa bertahan lama.
-Jika jalan yang ditempuh sudah benar, jarak sejauh apa pun tak perlu ditakuti.
Hikmah Cerita
Jika di dunia ini manusia bisa saling percaya sepenuhnya, masyarakat akan hidup seperti pada masa Zhenguan Zhizhi di Dinasti Tang—jalan-jalan aman tanpa barang tercecer, pintu rumah tak perlu dikunci di malam hari, dan rakyat hidup tenteram.
Kepercayaan yang utuh tidak hanya lahir dari hubungan darah atau cinta, tetapi juga dari keyakinan bahwa orang lain memiliki moral dan etika yang baik. Ketika setiap orang menjunjung tinggi nilai moral—bahkan menganggap reputasi lebih penting daripada hidup itu sendiri—maka masyarakat akan bergerak menuju kesempurnaan.(jhn/yn)





