BALIKPAPAN, KOMPAS - Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB mencatat terjadi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat sepanjang 1 Januari sampai 11 Februari 2026 dengan luas lebih dari 435 hektar. Satu warga di Desa Galang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, tewas karena terpapar asap.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Mempawah, saya mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya salah satu keluarga kita di masyarakat (Desa) Galang,” ujar Bupati Mempawah Erlina dalam keterangan resmi, Rabu (11/2/2026).
Korban adalah perempuan berusia 67 tahun. Warga tersebut sempat dibawa ke puskesmas dengan keluhan sesak napas. Gangguan kesehatan itu diduga dipicu oleh asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Erlina mengatakan, Desa Galang merupakan area dengan jenis tanah gambut luas. Selain memadamkan api, pihaknya bakal terus berkoordinasi untuk menangani warga yang terdampak asap dan karhutla.
Pemkab Mempawah hari ini menggelar rapat untuk membahas potensi peningkatan status darurat. Status darurat itu untuk mempermudah penanganan yang lebih cepat, termasuk penggunaan anggaran untuk penanggulangan bencana dan penyediaan kebutuhan warga.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, dari total 435 hektar karhutla di Kalbar, pada 11 Februari 2026, pukul 10.00 WIB, area seluas 235 hektar telah dipadamkan.
Daerah terdampak karhutla tersebut meliputi Kota Singkawang, Kabupaten Kubu Raya, Sambas, Mempawah, Sintang, Melawi, dan Kayong Utara. Selain itu, daerah terdampak adalah Ketapang, Sanggau, Bengkayang, Landak, Sekadau, serta Kota Pontianak.
Kabupaten Mempawah tercatat sebagai daerah yang terdampak karhutla paling luas, yakni 157 hektar (ha). “Penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan oleh pihak berwenang,” kata Abdul.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalbar mencatat, karhutla masih berpotensi terjadi di sebagian wilayah Kalbar sampai 13 Februari 2026. Curah hujan masih minim pada periode tersebut di Kalbar sisi barat.
“Namun, untuk beberapa hari kemudian, beberapa wilayah dalam kategori aman,” kata Supriyadi, Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio BMKG Kalbar.
Untuk mempercepat penanganan karhutla, BNPB bakal menurunkan helikopter untuk water bombing. Selain itu, akan dilakukan patroli udara, termasuk pesawat nirawak, untuk pemantauan dan pendataan titik api.
“Untuk percepatan penanganan di lapangan, mesin pompa dan selang tambahan bagi desa, masyarakat peduli api, serta BPBD juga disiapkan,” kata Abdul.





