Jakarta, VIVA – Di tengah pelemahan harga yang tajam, muncul pandangan bahwa skenario terburuk bukan lagi sekadar koreksi, melainkan potensi nilai Bitcoin yang jatuh hingga nol.
Token kripto tersebut sempat merosot mendekati US$60.000 atau setara Rp1.002.000.000 pada Kamis silam, level yang disebut sebagai titik terendah signifikan terbaru. Posisi ini lebih dari 50 persen di bawah rekor harga tertingginya hanya empat bulan lalu.
Meski sempat memantul ke sekitar US$68.000 atau setara Rp1.135.600.000, pemulihan ini belum menenangkan pasar. Kenaikan tersebut terjadi setelah seluruh keuntungan harga sejak kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS akhir 2025 terhapus.
Sejumlah analis bahkan tak optimistis pemulihan cepat akan terjadi. Chief market strategist dan partner Pivotus Partners, Richard Farr, menyampaikan pandangan yang sangat keras.
“Target harga BTC kami adalah 0,0,” ungkapnya, sebagaimana dikutip dari Futurism, Rabu, 11 Februari 2026.
Farr mengaku sependapat dengan investor Michael Burry, yang terkenal karena bertaruh melawan pasar perumahan AS sebelum krisis 2008, yang baru-baru ini memperingatkan potensi kerugian lanjutan Bitcoin bisa memicu “spiral kematian”.
Menurut Farr, pergerakan Bitcoin kini mengikuti tren penurunan pasar saham AS yang lebih luas. Ia menilai, Bitcoin tak lagi bisa dianggap aset lindung nilai, sebaliknya, ia menyebut kripto ini beroperasi sebagai instrumen spekulatif yang berkorelasi dengan Nasdaq.
Ia juga meragukan adopsi institusional besar. Farr menyatakan, tidak ada bank sentral serius yang akan pernah memiliki sesuatu di mana Michael Saylor mengendalikan pasokannya, merujuk CEO Strategy, perusahaan dengan kepemilikan kas Bitcoin korporasi terbesar.
Selain itu, ia menyoroti dampak lingkungan. “Tidak ada yang ‘hijau’ tentang ‘koin’ ini,” sindir Farr. “Kami pikir (nilai Bitcoin) ini akan menjadi nol.”
Dalam unggahan lanjutan di LinkedIn, Farr memperingatkan bahwa memburuknya data ketenagakerjaan AS bisa membuat lebih banyak dana keluar dari aset spekulatif. Kondisi itu membuatnya merasa semakin yakin dengan prediksinya.
Ia juga menunjuk tekanan pada penambang kripto, yang sebelumnya sudah terjepit kenaikan harga listrik akibat badai musim dingin, kini terpaksa menutup operasi di tengah kejatuhan harga. “Kami pikir kami baru berada di awal babak koreksi kripto,” ungkapnya.





