Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menggelar pertemuan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) secara daring, Rabu (11/2/2026). Ini merupakan pertemuan kedua usai agenda serupa yang digelar Senin 2 Februari 2026.
Pada pertemuan pertama, BEI menyampaikan ada tiga rencana aksi yang diusulkan ke MSCI. Tiga aksi rencana itu adalah penyesuaian free float dari 7,5% menjadi 15%, pembukaan data investor yang memiliki saham di atas 1%, dan pembukaan data investor dari 9 kelas menjadi 27 subkelas.
Sebagai pengingat, MSCI pada Januari 2026 mengumumkan pembekuan rebalancing indeks saham Indonesia, dan meminta otoritas bursa nasional memperbaiki transparansi serta tata kelola pasar modal. MSCI memberi waktu hingga Mei 2026, dan kalau transparansi tak sesuai harapan, Indonesia bisa turun kasta dari emerging market ke frontier market.
Dalam konferensi pers pascapertemuan kedua hari ini, BEI menambah satu rencana aksi, yakni membuka data shareholders concentration list atau daftar saham yang terindikasi memiliki pemegang saham yang terkonsentrasi.
Tak seperti konferensi pers pada pertemuan MSCI yang pertama, dalam konferensi pers pertemuan kedua hari ini, Pejabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik memberikan penafian di awal.
"Hari ini kami kembali mengadakan pertemuan dengan MSCI. Sebelum memulai, saya ingin menyampaikan disclaimer, kami akan menyampaikan hal-hal yang bersifat umum dan tidak pada detail dan kesimpulan pertemuan tersebut," kata Jeffrey.
Pjs Dirut BEI itu hanya menyampaikan empat rencana aksi BEI, ditambah dengan timeline target implementasinya masing-masing.
Namun, Jeffrey tak menjawab, kala ditanya keputusan pertemuan itu apakah menyoal tentang nasib pasar modal Indonesia di kelas emerging market, atau keputusan lainnya. Bahkan, pertanyaan soal apakah respons MSCI positif menyambut proposal yang diajukan BEI, Jeffery hanya bilang pihaknya tak bisa memberikan kesimpulan bagaimana respons MSCI.
"Tapi yang dapat kami sampaikan ke publik adalah apa yang sedang dan akan kami lakukan. Jadi itu sangat tegas," jelasnya.
Alasannya, enggan menjawab adalah BEI menghormati prinsip kerahasiaan yang dihormati oleh kedua belah pihak. Oleh karena itu, dirinya tidak bisa mengungkap detail dari pertemuan maupun opini dari counterpart BEI, yakni MSCI.
Jeffery juga bilang, alasannya irit bicara adalah agar tidak ada pemahaman yang salah, tidak memberikan kesimpulan atau informasi yang salah kepada publik.
Dalam konferensi pers yang berjalan sekitar 13 menit, ditambah sesi wawancara bersama media sekitar 8 menit, ada dua kata yang sama terlontar dari Jeffrey, yang sedikit menggambarkan berjalannya dikusi dengan MSCI–yang hasilnya itu dirahasiakan, yakni 'konstruktif'.
"Pertemuan berjalan secara konstruktif. Kami akan mengirimkan lagi detail teknis dan kami tentu nanti akan menjadwalkan kembali dan kalau sudah ada jadwalnya nanti kami informasikan lagi," tandasnya.





