FAJAR, MAKASSAR — Industri perfilman lokal Sulawesi Selatan kembali menunjukkan geliatnya. PT Bale Rakko Production, rumah produksi lokal asal Kabupaten Wajo, menghadirkan film layar lebar berjudul Mattaro Janci yang kini masih tayang. 100 persen syuting di Wajo.
Film ini tak hanya mengangkat kisah cinta yang tragis, tetapi juga menyentuh tradisi Bugis yang kental dengan nilai kekeluargaan dan budaya lokal.
Irwandy, pemeran utama yang memerankan tokoh Raka sekaligus bertindak sebagai produser, menjelaskan bahwa film tersebut berkisah tentang sepasang kekasih yang saling mencintai. Bahkan berencana melangkah ke jenjang pernikahan.
“Namun dalam perjalanan, terjadi konflik keluarga. Kakak dari tokoh perempuan meninggal dunia, dan sesuai tradisi, adiknya harus menggantikan posisi kakaknya untuk menikah,” jelas Irwandy, Rabu (11/2/2026) di redaksi FAJAR.
Tradisi tersebut dalam budaya Bugis dikenal dengan istilah turun ranjang, sebuah praktik adat yang masih dikenal di sebagian masyarakat.
Menurut Irwandy, yang membedakan Mattaro Janci dengan film lokal lainnya adalah penguatan unsur budaya Bugis serta pengangkatan potensi daerah.
“Film ini benar-benar mengangkat tradisi Bugis. Lokasi syuting seluruhnya di Kabupaten Wajo. Banyak destinasi yang mungkin belum diketahui orang luar, padahal di Wajo ada tempat-tempat yang sangat indah dan potensial sebagai tujuan wisata,” ujarnya.
Seluruh proses produksi turut melibatkan talenta lokal. Para pemain mayoritas berasal dari Kabupaten Wajo, meskipun ada pula beberapa yang didatangkan dari kabupaten lain di Sulawesi Selatan.
Irwandy berharap film tersebut tidak hanya berhenti di Wajo, tetapi bisa ditayangkan lebih luas di seluruh wilayah Sulawesi Selatan.
Tak hanya Irwandy, film ini juga menjadi pengalaman pertama bagi Hj Musniati yang memerankan tokoh Bu Rini, ibu dari Dinda, salah satu karakter sentral dalam cerita.
Ia mengakui, ini merupakan film pertamanya. Meski begitu, ia merasa nyaman selama proses produksi.
“Ini film pertama saya. Tapi saya tidak merasa tertekan. Sutradara sekaligus pemeran utamanya memberi saya kebebasan untuk menampilkan karakter sesuai dengan diri saya. Jadi saya merasa enjoy,” jelasnya.
Sebagai rumah produksi lokal, PT Bale Rakko Production sebelumnya juga telah menghasilkan sejumlah karya layar lebar yang mengangkat budaya daerah, seperti Lipa Sabbe dan Nene Pakande.
Film Mattaro Janci tak hanya menyuguhkan kisah cinta dan konflik keluarga yang sarat nilai budaya Bugis, tetapi juga diperkuat dengan soundtrack berjudul “Soro Lempu”.
Lagu tersebut digarap khusus berdasarkan alur dan cerita dalam film, sehingga liriknya menyatu dengan emosi serta konflik yang ditampilkan di layar.
Soundtrack “Soro Lempu” diciptakan oleh Muhammad Ali, musisi muda asal Kabupaten Wajo yang telah lama bergelut di bidang musik. Keterlibatan putra daerah ini menjadi bagian dari komitmen produksi film untuk memberdayakan talenta lokal.
Melalui lirik yang terinspirasi langsung dari kisah dalam film, “Soro Lempu” menghadirkan nuansa haru yang memperdalam pesan tentang cinta, pengorbanan, dan tradisi yang menjadi benang merah cerita Mattaro Janci. (irm)





