Merger Subholding Downstream Pertamina Bertahap hingga Oktober 2026

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan proses merger Subholding Downstream Pertamina, meskipun sudah resmi per 1 Februari 2026, namun masih berlangsung hingga Oktober 2026.

Simon mengatakan, Pertamina baru merombak jajaran direksi dengan mengangkat Mega Satria dari sebelumnya Direktur Keuangan PT Pertamina Patra Niaga menjadi Direktur Keuangan Pertamina Group, menggantikan Emma Sri Martini yang digeser menjadi Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha.

Selain itu, perubahan terjadi di tubuh subholding dengan penggabungan 3 anak usaha yang bergerak di sektor hilir tersebut yaitu PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan beberapa segmen bisnis PT Pertamina International Shipping (PIS).

"Subholding Downstream ini sudah go live sejak 1 Februari 2026, dan pengukuhan pengurusnya pada 4 Februari 2026," kata Simon saat Rapat Komisi VI DPR, Rabu (11/2).

Dengan pernggabungan tersebut, lanjut Simon, Pertamina kini memiliki 5 subholding yakni Subholding Upstream (hulu migas), Subholding Downstream (hilir), Subholding Power & New Renewable Energy (PNRE), Subholding Gas, dan segmen bisnis PT Pertamina International Shipping yang belum merger.

Adapun proses merger Subholding Downstream berlangsung 2 fase, yakni pase pertama pada 1 Februari 2026 yakni penggabungan PT KPI dengan 10 SPV PIS serta spin off bisnis captive market PIS dengan PPN. Kemudian fase kedua yang rampung pada 1 Oktober 2026 yakni penggabungan PET dan PIS dengan PPN serta spin off bisnis non-captive market PIS ke salah satu AP PIS.

"Karena yang masuk ke Subholding Downstream ini baru yang captive market, dan kami targetkan untuk yang non-captive market itu di bulan Oktober 2026 sudah selesai dan semua kita harapkan sudah bisa bergabung semuanya ke Subholding Downstream," jelas Simon.

Sementara itu, Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza mengatakan peleburan 3 anak usaha hilir menjadi 1 subholding dibutuhkan di tengah kondisi geopolitik global yang terus memanas.

"Jadi ada keadaan geopolitik yang membuat kita harus memperkuat rantai pasok di Tanah Air, ada perubahan-perubahan, baik itu harga-harga bahan baku dan juga harga produk yang perlu kita antisipasi. Jadi integrasi bisnis hilir ini adalah langkah-langkah kami untuk menjamin terjaganya BBM di Tanah Air," jelasnya.

Oki menjelaskan, Pertamina melakukan upaya-upaya integrasi untuk menjamin ketersediaan energi di rantai pasok dari bahan baku dari hulu masuk ke kilang, kemudian dari kilang masuk ke terminal BBM, hingga kita didistribusikan ke masyarakat.

"Dan juga tentunya integrasi hilir ini akan memperkuat secara finansial dan juga operasional, karena kita menjamin keterkaitan kuat antara kemampuan Pertamina untuk manufacturing yang ada di kilang, dengan kemampuan Pertamina untuk melakukan supply and distribution yang ada di teman-teman commercial and trading, dan diperkuat juga dengan kemampuan Pertamina untuk melakukan shipping atau pengapalan BBM ke daerah-daerah di seluruh tanah air," pungkas Oki.

Sebelumnya, Chief of Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menjelaskan, merger atau konsolidasi bisnis merupakan salah satu strategi Danantara agar Pertamina fokus pada bisnis minyak dan gas bumi (migas). Dua langkah lainnya yakni divestasi atau melepas bisnis non migas, serta restrukturisasi bagi anak usaha yang bisnisnya kurang baik.

"Sehingga nanti Pertamina itu fokusnya memang yang relatif pada oil and gas saja, yang non-oil and gas bukan lagi di Pertamina," tegasnya saat ditemui di Hotel Indonesia Kempinski, Selasa (10/2).

Dony mengakui bahwa subholding hilir migas tersebut memiliki banyak jajaran komisaris dan direksi, lantaran masih dalam tahap transisi hingga Oktober 2026. Dia menyebutkan jabatan direksinya saja saat ini mencapai 17 orang.

"Itu transisi kan, ya proses itu nanti Oktober akan ada hasilnya seperti apa. Jadi Februari itu kita gabungin dulu nih, kan kita enggak mau dong bisnisnya terganggu, makanya banyak kan (direksi) harusnya ada 17. Ini proses semua yang melakukan perusahaan itu ada tahapan. Kita enggak mau tiba-tiba sok-sokan jadi 7 atau 8, terus jadi berantakan," katanya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pembiayaan Kendaraan dalam Perspektif Kelas Menengah Urban
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Bournemouth Tumbangkan Everton 2-1 dan Naik ke Peringkat Sembilan
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Tips Lakukan Wardrobe Detox
• 13 jam lalubeautynesia.id
thumb
5 Tempat Wisata Religi di Jakarta, Masjid Istiqlal Dikenal dengan Arsitektur Megah
• 13 jam lalugenpi.co
thumb
Dobrak Kebiasaan, Bangkitkan Potensi
• 9 jam laluerabaru.net
Berhasil disimpan.