Dobrak Kebiasaan, Bangkitkan Potensi

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonessia. Seorang pengusaha kaya, menjelang masa pensiunnya, memanggil ketiga putranya dan berkata: “Aku ingin memilih satu di antara kalian yang paling memiliki naluri bisnis untuk mewarisi usahaku. Sekarang, masing-masing akan kuberi sepuluh ribu. Siapa yang mampu menggunakan uang ini untuk mengisi sebuah rumah kosong hingga penuh, dialah yang akan mendapatkan seluruh hartaku.”

Putra sulung membeli sebuah pohon besar dengan rimbun daun, lalu menyeretnya masuk ke rumah kosong itu hingga memenuhi sebagian besar ruangan.

Putra kedua membeli setumpuk rumput dan mengisinya ke dalam rumah kosong tersebut, yang juga menempati hampir seluruh ruang.

Putra bungsu hanya menghabiskan dua puluh lima rupiah untuk membeli sebuah lilin.

Ketika malam tiba, fia mengajak ayahnya masuk ke rumah kosong itu, menyalakan lilin tersebut, lalu berkata :  “Ayah, coba lihat—adakah sudut ruangan ini yang tidak tersinari oleh cahaya lilin?”

Sang ayah sangat puas melihatnya, dan akhirnya menyerahkan seluruh usahanya kepada putra bungsu.

Ada pula sebuah restoran yang sangat ramai dan selalu dipenuhi pelanggan. Pemiliknya yang sudah lanjut usia ingin pensiun, lalu memanggil tiga orang manajernya.

Dia bertanya kepada manajer pertama:  “Mana yang lebih dulu, ayam atau telur?”

Manajer pertama berpikir sejenak, lalu menjawab: “Ayam lebih dulu.”

Pemilik restoran kemudian bertanya kepada manajer kedua: “Mana yang lebih dulu, ayam atau telur?”

Dengan penuh keyakinan, manajer kedua menjawab: “Telur lebih dulu.”

Lalu pemilik restoran memanggil manajer ketiga dan menanyakan pertanyaan yang sama : “Mana yang lebih dulu, ayam atau telur?”

Manajer ketiga menjawab dengan serius :  “Jika pelanggan memesan ayam lebih dulu, maka ayam yang lebih dulu. Jika pelanggan memesan telur lebih dulu, maka telur yang lebih dulu.”

Pemilik restoran tersenyum, dan langsung mengangkat manajer ketiga sebagai direktur utama.

Ketika kita terlalu terpaku pada tampilan luar, terbiasa dengan pola pikir lama, dan tak mampu keluar dari kebiasaan untuk membuka jalan baru, mengapa tidak mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda—menambahkan sedikit kreativitas pada cara berpikir yang sudah mengakar?

Hikmah Cerita

Dalam kisah pertama, jawaban si bungsu—mengisi ruang dengan cahaya lilin—adalah bentuk kecerdikan yang sederhana namun mendalam. Namun yang paling mengesankan bagi saya justru kisah kedua.

Saat dihadapkan pada pertanyaan yang tampak seperti teka-teki tanpa jawaban pasti, jawaban manajer ketiga: “Pelanggan memesan apa lebih dulu, itulah yang lebih dulu,”
adalah jawaban paling tepat.

Karena dalam industri yang menjunjung tinggi pelayanan, kebutuhan pelangganlah jawaban yang benar.(jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mengulik Meme Laki-laki Tidak Bercerita: Sekadar Candaan atau Tekanan Sosial?
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Tak Tanggung-tanggung Rangkap Jabatan Mulyono Tersangka KPK
• 22 jam laludetik.com
thumb
Pejabat Korsel Dipecat Setelah Usulkan Impor Perempuan untuk Dongkrak Kelahiran
• 7 jam lalurepublika.co.id
thumb
Purbaya Jadi Ketua Pansel Pimpinan OJK, Pendaftaran Dibuka hingga 2 Maret 2026
• 5 jam lalukompas.id
thumb
Viral Foto Jeffrey Epstein dan Sultan Arab Tatap Kain Kiswah di Lantai, Picu Kemarahan Publik
• 17 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.