GenPI.co - Saat pandemi covid-19, para ahli khawatir gangguan pada diagnosis dan pengobatan kanker akan merenggut nyawa.
Kini, sebuah studi menunjukkan bahwa kekhawatiran itu terbukti benar.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal medis JAMA Oncology ini disebut sebagai penelitian pertama yang menilai dampak gangguan terkait pandemi terhadap kelangsungan hidup jangka pendek pasien kanker.
Para peneliti menemukan bahwa orang yang didiagnosis menderita kanker pada 2020-2021 memiliki angka harapan hidup jangka pendek yang lebih rendah dibanding mereka yang didiagnosis pada 2015-2019.
Temuan ini berlaku untuk berbagai jenis kanker, baik yang didiagnosis pada stadium awal maupun stadium lanjut.
Sebanyak 96 persen pasien stadium awal bertahan hidup lebih dari satu tahun dan 74 persen pasien stadium lanjut bertahan hidup lebih dari satu tahun.
Meski angka itu tetap tinggi, tingkat kelangsungan hidup sedikit lebih rendah dibanding tren 2015-2019.
Penulis utama studi dari Universitas Kentucky Todd Burus mengatakan pihaknya tidak bisa memastikan penyebab tingkat kelangsungan hidup yang menurun.
"Namun, gangguan pada sistem perawatan kesehatan mungkin menjadi faktor kunci," ujar Burus, dilansir AP News, Selasa (10/2).
Pandemi memaksa banyak orang menunda pemeriksaan kanker seperti kolonoskopi, mammogram, dan pemindaian paru-paru karena rumah sakit serta tenaga medis kewalahan.
Burus menjelaskan langkah pencegahan, diagnosis, dan pengobatan kanker yang telah menurunkan angka kematian tidak tiba-tiba hilang saat pandemi.
"Gangguan bisa mengubah akses dan kecepatan pasien mendapatkan perawatan," katanya.
Ahli epidemiologi kanker di American Cancer Society Hyuna Sung mengatakan penurunan harapan hidup jangka pendek ini mungkin bersifat sementara.
"Jika angka harapan hidup pulih dengan cepat, dampaknya terhadap tren angka kematian jangka panjang kemungkinan hanya kecil," ujarnya. (*)
Video populer saat ini:





