Dunia media sosial tak pernah berhenti menghadirkan banyak terobosan, termasuk hadirnya berbagai platform yang cukup mirip, tetapi memiliki unsur-unsur yang berbeda. Salah satunya Threads, platform media sosial milik Meta—perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp—yang diluncurkan pada tahun 2023.
Platform Threads sering kali dianggap sama dengan platform X (Twitter) karena kemiripannya sebagai media sosial berbasis teks pendek yang tidak lebih dari 500 kata.
Merujuk pada laporan Digital 2026 dari We Are Social dan Meltwater, penggunaan Threads di Indonesia sudah terlihat cukup luas. Sebanyak 26,5% pengguna internet usia 16+ mengaku memakai Threads setidaknya sekali dalam 30 hari terakhir (Survei GWI, Oktober 2025).
Namun, angka ini dimaknai sebagai pemakaian bulanan minimal sekali, bukan otomatis maknanya sebagai pengguna aktif harian. Sebagai pembanding dari sisi platform, estimasi dari tools iklan Meta—yang dirangkum DataReportal—menunjukkan potensi jangkauan audiens Threads di Indonesia sekitar 8,15 juta pada akhir 2025.
Sementara di level global, data Similarweb, yang diberitakan TechCrunch, memperkirakan Threads mencapai 141,5 juta pengguna aktif harian di iOS dan Android per 7 Januari 2026, yang pada metrik mobile harian ini mulai menyalip X.
Jika perbedaan angka sudah bisa kita lihat, ada perbedaan lagi yang lebih mendalam, yaitu karakteristik pengguna dan bagaimana platform Threads membentuk perilaku pengguna yang berbeda dengan X.
Platform X sejak dulu cukup lekat dengan budaya real-time; orang datang ke X untuk melihat peristiwa yang sedang terjadi dan bereaksi cepat akan hal itu.
Bahkan, dalam riset Pew Research Center, X menonjol sebagai platform tempat pengguna merasa paling sering melihat breaking news secara langsung (real time) dibanding beberapa platform lain yang diteliti.
Di platform X, kita cukup sering menemukan karakteristik pengguna yang cenderung reaktif, militan, dan memiliki opini yang tajam terhadap suatu pembahasan. Hal ini bisa dijelaskan dengan fenomena context collapse atau runtuhnya sebuah konteks, yaitu hilangnya batasan antara ruang privat dan ruang publik.
Marwick dan Boyd (2011) menjelaskan dinamika ini sebagai efek dari bercampurnya audiens di media sosial yang membuat pengguna sulit mengatur konteks seperti di dunia offline. Tak heran, kadang cuitan yang sifatnya pribadi ditanggapi dengan perdebatan umum yang sifatnya publik.
Sementara itu, karakteristik pengguna Threads cenderung lebih santai dan suportif. Hal ini mungkin bisa terjadi karena kuatnya network effects dari platform Instagram (platform dari perusahaan Meta yang sama).
Akun Threads terikat langsung dengan identitas Instagram—yang cenderung sudah terjaga secara persona—sehingga pengguna lebih berhati-hati dalam berkomentar. Interaksi yang dilakukan oleh pengguna Threads berada pada lingkaran yang lebih dikenal di ruang digital. Selain itu, ritme santai ini juga ada lewat fitur yang dihadirkan.
Misalnya, Meta meluncurkan fitur ghost posts (posting yang otomatis diarsipkan setelah 24 jam) agar pengguna bisa berbagi pemikiran tanpa perlu khawatir jejaknya akan permanen.
Selain ghost posts, ada hal lain yang membuat Threads juga lebih cocok untuk berbagi pengalaman pribadi para penggunanya: Dari awal dibuat, arah platform nya didesain bukan untuk mengejar pembahasan yang sifatnya hard news.
Pada awal peluncuran Threads, Kepala Instagram, Adam Mosseri, menyebutkan bahwa Threads tidak akan melakukan hal-hal yang mendorong pembahasan politik dan berita keras. Ini juga dapat menjelaskan alasan mengapa konten yang naik dan ramai di Threads lebih banyak berupa obrolan ataupun pertanyaan pengalaman personal dibandingkan berita dengan pembahasan berat.
Namun menariknya, arah ini juga bisa berubah. Di awal 2025, ada pemberitaan bahwa Instagram dan Threads mulai membuka kembali rekomendasi konten politik (sebagai opsi kontrol bagi pengguna).
Artinya, vibes atau nuansa Threads yang sekarang terasa lebih santai itu bukan sesuatu yang permanen karena bisa saja bergeser mengikuti kebijakan rekomendasi dan pengaturan algoritma.
Perbedaan lainnya terlihat dari cara Threads memberikan kontrol bagi penggunanya untuk tetap menjaga timeline mereka sesuai dengan yang diinginkan, yaitu dengan adanya fitur custom feed, bahkan bisa dijadikan default.
Fitur tersebut juga memiliki opsi untuk membatasi siapa saja yang bisa membalas atau mengutip unggahan (misalnya hanya followers saja). Secara sederhana, cara ini seperti menjadi penyekat agar percakapan tidak melebar ke orang-orang yang tidak diinginkan oleh pengguna. Sementara itu, di X, pembahasan publik dan peristiwa yang real time cukup lebih dominan.
Dari berbagai pengamatan tersebut, kita bisa mengatakan bahwa Threads lebih kuat sebagai ruang bertukar pengalaman dan informasi ringan, sedangkan X lebih kuat sebagai ruang publik yang cukup reaktif dan cepat terhadap isu yang sedang terjadi.
Ini juga sejalan dengan temuan Pew Research Center yang menyatakan bahwa X cenderung lebih kuat sebagai destinasi berita dibanding platform lain yang mereka bandingkan karena banyak pengguna X memang memakai platform itu untuk mendapatkan berita.
Terakhir, Threads juga terlihat makin berkembang dan serius sebagai platform karena Meta mulai membuka iklan Threads secara lebih luas untuk pengiklan global.
Biasanya, ketika iklan masuk dan ekosistem brand mulai dibangun, platform akan makin memperhatikan pengalaman para penggunanya, bagaimana penempatan konten, dan suasana percakapan yang terbangun karena semua itu berhubungan dengan kenyamanan audiens dan brand safety. Meta sendiri mengumumkan ekspansi iklan ini dan telah diberitakan oleh Reuters.
Pada akhirnya, sebagai pengguna kita dapat melihat bahwa baik itu Threads maupun X (Twitter) tidak perlu diposisikan mana yang lebih baik atau mana yang lebih buruk. Keduanya memiliki fungsi, ritme, dan budaya yang berbeda karena desain platform nya berbeda dan pengguna yang tumbuh di dalamnya juga berbeda.
Karena itu, yang lebih penting adalah memilih platform sesuai tujuan yang diinginkan pengguna: apakah mau mencari update cepat dan membaca arus opini publik, atau mau berbagi pengalaman pribadi dan bertukar informasi dengan suasana yang lebih santai. Ketika kita sudah memahami karakter dari tiap platform media sosial, kita menjadi lebih nyaman saat memakainya.





