Kartini terbaring dengan kaki menekuk di dalam gubuk berukuran 2x1 meter di antara deretan warung di Jalan Mendut, Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari, Surabaya. Sesekali ia terbangun dan mengintip ke luar dari pintu seng yang menjadi satu-satunya pembatas ruang hidupnya.
Siang itu, nenek berusia hampir 90 tahun tersebut memilih menutup dagangannya. Ia ingin beristirahat di ruang sempit yang juga menjadi tempat tidurnya.
Sudah 30 tahun Kartini hidup sebatang kara di bilik semi permanen dari kayu dan seng itu. Ruangannya dipenuhi barang dagangan seperti air mineral dan minuman sachet. Listrik tak ada. Penerangan hanya mengandalkan lampu minyak dan senter kecil.
“Tidur juga di sini saja. Sudah 30 tahunan lebih. Di sini cukup satu orang saja. Saya betah-betahin saja,” ujar Kartini saat ditemui, Rabu (11/2).
Perempuan asal Lamongan itu merantau ke Surabaya pada 1990 untuk mengadu nasib. Awalnya ia bekerja membantu orang lain, hingga akhirnya saudara perempuannya menawarkan rombong untuk berjualan rokok di kawasan Pacar Keling.
Beberapa kali ia mengalami penggusuran sebelum akhirnya menetap di Jalan Mendut hingga kini.
“Dulu jualan di depan, terus ada penertiban dipindah ke sini. Ya sudah, akhirnya di sini,” katanya.
Penghasilan Kartini hanya berasal dari dagangan kecilnya. Ia mengaku tak lagi bisa berjualan maksimal karena kondisi fisiknya yang menurun.
“Sebisanya saja, sudah sepuh. Dulu jual jajan juga. Sekarang ya kalau ada orang kasih makan saya terima. Saya doakan rezekinya banyak,” ucapnya.
Sempat Tertabrak MotorTiga tahun lalu, Kartini tertabrak sepeda motor saat menyeberang di kawasan Pasar Pacar Keling. Sejak itu kaki kanannya sering terasa nyeri.
“Kalau salat saya tidak bisa berdiri, hanya duduk. Kalau hujan sering linu,” tuturnya.
Kartini kini tak memiliki keluarga. Orang tua dan saudara-saudaranya telah meninggal dunia.
“Sendirian. Tidak ada saudara. Keponakan juga tidak pernah ke sini,” katanya lirih.
Penyayang KucingHiburan Kartini selama ini adalah tiga ekor kucing yang sering mampir di warungnya. Ia merawat kucing-kucing itu sejak sebelum pandemi Covid-19.
“Kalau ada orang buang kucing saya tidak tega. Saya ini orang tidak punya, tapi kalau sama kucing tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.
Namun kucing-kucing tersebut kini dirawat warga sekitar karena sebagian tetangga merasa terganggu. Kartini mengaku sempat dimarahi akibat keberadaan hewan peliharaannya itu.
“Kucingnya sampai disemprot minyak. Sekarang dirawat Ibu Risma,” katanya.
Di gubuk kecil tanpa listrik itu, Kartini tetap bertahan. Menjalani hari-harinya dengan dagangan seadanya, doa sederhana, dan kenangan tentang kucing-kucing yang pernah menemaninya.





