Di balik romantisme Yogya, yang dikenal sebagai kota pelajar, ada mereka yang senantiasa terjaga sepanjang waktu mengawal langit. Mereka siaga, melindungi Yogya dari beragam ancaman udara.
Mereka adalah Batalyon Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) 21/Pasgat mengambil peran sebagai garda terakhir pertahanan udara di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Satuan ini bermarkas di Depok, Sleman, dan merupakan bagian dari Resimen 2 Arhanud di bawah jajaran Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) TNI Angkatan Udara di Makassar.
Tugasnya spesifik: menjaga objek vital nasional dari ancaman aktivitas udara musuh, mulai dari pesawat tempur, helikopter, hingga Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau drone.
Komandan Batalyon Arhanud 21/Pasgat, Letkol Pas Yosef Y. Abidindifu, menjelaskan bahwa posisi satuannya sangat krusial dalam skema pertahanan nasional.
"Kami merupakan satuan pertahanan udara titik untuk bertugas menjaga objek vital TNI Angkatan Udara dari ancaman udara. Yang mana ancaman tersebut bisa berupa pesawat tempur, UAV, maupun helikopter yang digunakan oleh musuh untuk masuk ke wilayah udara yurisdiksi nasional," ujar Letkol Pas Yosef saat ditemui di markasnya, Rabu (11/2).
Sistem pertahanan udara Indonesia terbagi menjadi tiga lapisan utama: area, terminal, dan titik. Arhanud 21 berdiri di lapisan paling dalam. Ibarat sebuah benteng, jika pesawat musuh berhasil menembus radar jarak jauh dan pesawat pencegat, maka personel Arhanud 21-lah yang harus melakukan eksekusi terakhir.
"Kami adalah garda terakhir, ketika ancaman datang, di dalam sistem pertahanan udara kita saat ini kita memiliki tiga. Jadi ada area, terminal, titik. Nah kamilah titik," tegas Letkol Pas Yosef.
Ia mengibaratkan, ketika musuh sudah masuk ke area terminal dan tidak bisa dibendung, senjata mereka akan menjadi jawaban penutup.
"Kami, lah, senjata terakhir yang dimiliki oleh pertahanan udara kita Indonesia saat ini untuk menghantam musuh ketika sudah ada di masuk dalam titik," tambahnya.
'Iron Dome' Yogyakarta yang Terkoneksi RadarMeski kalah canggih daripada Iron Dome milik Israel, sistem pertahanan udara Arhanud punya tugas yang serupa.
Mereka juga dilengkapi rudal-rudal QW-3, yang ditugaskan untuk mencegat objek-objek udara yang mengancam. Selain itu, mereka juga punya tanggung jawab melindungi sejumlah obyek vital.
Pasi Ops Arhanud 21 Batalyon Pasgat, Kapten Tarju, menyebutkan bahwa cakupan perlindungan mereka tidak terbatas pada Pangkalan Udara Adisutjipto saja.
"Jogja saja. Jadi di situ ada objek vital yang lainnya. Selain dari Pangkalan Udara Lanud Adisutjipto, Gedung Agung, YIA (Yogyakarta International Airport), maupun yang lain-lainnya, seperti Pertamina. Kita juga jaga. Karena itu aset negara," ungkap Kapten Tarju saat ditemui di kesempatan yang sama.
Sistem ini didukung oleh konektivitas radar yang luas. Arhanud 21 terintegrasi dengan Satuan Radar (Satrad) 215 Congot di Kulon Progo, serta radar di Tegal dan Cibalimbing. Informasi dari radar-radar ini akan diteruskan melalui sistem Smart Hunter yang mereka miliki.
"Radar kita terkoneksi dengan Satuan Radar yang ada di Congot. Itu kapasitasnya kan sampai 200 kilo atau 300 kilo. Nah, dengan demikian kalau ada indikasi ancaman dari luar, dia kesempatan pertama akan disampaikan. Sehingga kita langsung gelar (pasukan)," jelas Kapten Tarju.
Bicara soal taring, Arhanud 21 dibekali rudal pencari panas QW-3. Begitu ditembakkan dari peluncurnya, rudal ini akan mencari sumber panas yang tersedia.
Dengan kecepatan 750 meter/detik, rudal ini mampu mengejar sasaran sejauh 6 kilometer.
"Selama latihan kita memang efektif. Semua sasaran yang diluncurkan menggunakan drone atau flare, itu kita tembak, kena. Sangat efektif. Karena dia ada sensor untuk pencacah panas. Jadi istilahnya setiap ada pesawat terbang, atau mungkin drone kita terbangkan, di situ ada untuk ngejar," kata Kapten Tarju.
Selain rudal, satuan ini juga menyiagakan Kanon Otomatis Oerlikon Skyshield buatan Swiss yang dikenal sangat relevan menghadapi ancaman udara modern.
Kanon berkaliber 35 mm ini mampu menembakkan 1.000 peluru per menit, dengan jangkauan 4 kilometer.
Seiring dengan validasi organisasi di tubuh Kopasgat, Arhanud 21 yang sebelumnya berbentuk Detasemen kini telah berkembang menjadi Batalyon.
Perubahan ini membawa konsekuensi pada penambahan kekuatan personel.
Letkol Pas Yosef menyebutkan saat ini jumlah personel berada di angka 259 orang dan diproyeksikan akan terus bertambah hingga mencapai standar batalyon penuh.
"Dampak yang kami dapat pada saat ini yaitu penambahan terutama personel karena sudah berubah dari Detasemen menjadi Batalyon sehingga penambahan dari jumlah personel yang saat ini kurang lebih dari 259 orang, kemungkinan akan ditambah lagi sehingga mencapai standar dari suatu Batalyon mungkin sampai mencapai 400," terang Letkol Pas Yosef.
Peningkatan jumlah ini dilakukan melalui percepatan rekrutmen Bintara dan Tamtama yang kini dilakukan dalam tiga gelombang setiap tahunnya. Hal ini bertujuan agar seluruh pos operator radar dan pengawak alutsista dapat terisi secara optimal demi menjaga kedaulatan udara Indonesia, khususnya di langit Yogyakarta.





