TPNPB-OPM Klaim Bertanggung Jawab Atas Penembakan Pesawat di Boven Digoel

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

JAYAPURA, KOMPAS - Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka atau TPNPB-OPM menyatakan bertanggung jawab atas penembakan pesawat Smart Air PK-SNR di Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, Rabu (11/2/2026). Kelompok ini mengklaim, pilot tidak mengindahkan larangan memasuki wilayah yang mereka klaim sebagai zona perang.

Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom, menyatakan, kelompoknya bertanggung jawab dalam insiden ini. Serangan ini dilakukan oleh kelompok TPNPB-OPM wilayah Yahukimo, pimpinan Elkius Kobak dan komandan operasi Kopitua Heluka.

“Pesawat ditembak dan pilotnya dibunuh karena perusahaan penerbangan ini sering angkut pasukan keamanan Indonesia di seluruh tanah Papua,” ujar Sebby.

Selain itu, Sebby menuding para pilot adalah agen intelijen Indonesia. Alasan seperti ini sering dilontarkan oleh TPNPB-OPM dalam berbagai aksi teror yang mereka lakukan.

Hal serupa disampaikan oleh Kopitua Heluka yang menyebut dirinya sebagai Komandan Operasi TPNPB-OPM wilayah Yahukimo. Dalam video yang juga disebarkan Sebby, Kopitua mengklaim penembakan pesawat dan pilot atas perintahnya.

Kopitua menyebut, penyerangan ini karena warga non-Papua tidak mengindahkan peringatan dari TPNPB-OPM. Dia mengatakan, selama ini, warga non Papua, termasuk pilot telah diingatkan untuk tidak memasuki daerah yang mereka klaim sebagai zona perang.

Baca JugaPesawat Ditembak di Boven Digoel, Papua, Pilot dan Kopilot Tewas

Berdasarkan keterangan Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, pesawat jenis cessna grand caravan ini mengangkut 12 penumpang serta satu bayi. Pesawat yang diawaki oleh dua orang kru ini terbang dari Bandara Tanah Merah (TMH) menuju Bandara Koroway Batu (DNW).

Pesawat terbang dari Tanah Merah, ibu kota Boven Digoel pada pukul 10.38 WIT. Pesawat mendarat di Bandara di Korowai Batu pada pukul 11.05.

“Pada pukul 13.26 WIT kami mendapat informasi bahwa kedua pilot menjadi korban penembakan dan telah meninggal dunia,” kata Kepala Bagian Humas dan Umum Ditjen Perhubungan Udara Endah Purnama Sari.

Sementara itu, polisi telah mengarahkan pasukan menuju lokasi kejadian. Selain itu, tim sedang berupaya memastikan nasib para penumpang yang dikabarkan lari ke hutan saat penembakan terjadi.

Berdasarkan informasi dari Satuan Tugas Damai Cartenz, penembakan terjadi sesaat setelah pesawat parkir di apron lapangan terbang. Para penumpang telah turun dari pesawat.

Baca JugaPolisi Ungkap Identitas Dua Pilot yang Tewas dalam Penyerangan Pesawat di Boven Digoel

Saat tembakan terdengar, para penumpang berlarian menuju hutan. Dalam situasi tersebut, pilot dan kopilot juga berusaha melarikan diri. Namun, keduanya diduga tewas tertembak saat masih berada di area landasan bandara.

”Prioritas saat ini adalah memastikan keselamatan warga serta membuka akses informasi dari lokasi kejadian yang berada di wilayah terpencil,” ujar Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz Komisaris Besar Adarma Sinaga.

Penembakan lain

Penembakan ini menambah panjang insiden teror dunia penerbangan oleh TPNPB-OPM di Papua. Sebelumnya, penembakan helikopter juga pernah terjadi di Distrik Alama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Agustus 2024.

Saat itu, Glen Malcolm Conning (50), pilot helikopter berkebangsaan Selandia Baru, tewas ditembak. Adapun para penumpang yang merupakan warga lokal dibiarkan pergi.

Saat itu, TPNPB-OPM mengakui terlibat dalam penembakan tersebut. Mereka beralasan penembakan ini dilakukan sebagai peringatan karena daerah tersebut merupakan wilayah konflik yang tidak boleh dilewati oleh berbagai jenis pesawat.

Sementara itu, teror penerbangan yang paling disorot adalah penyanderaan pilot Susi Air asal Selandia Baru, Philip Mark Mehrtens, Februari 2023. Saat itu, penyanderaan ini bermula saat Mehrtens mengendalikan pesawat Susi Air PK-BVY yang mendarat di lapangan terbang Distrik Paro, 7 Februari 2023.

Pesawat itu disergap oleh TPNPB-OPM pimpinan Egianus Kogoya. Pesawat itu dibakar dan Mehrtens ditawan. Kelompok ini membebaskan lima penumpang karena merupakan warga setempat.

Serial Artikel

Jenazah Pilot Selandia Baru yang Ditembak OPM di Mimika Dievakuasi

Aparat akan segera menghubungi pihak Pemerintah Selandia Baru untuk pemberitahuan kematian pilot Conning.

Baca Artikel

Kelompok Egianus menuntut Indonesia mengakui kemerdekaan Papua sebagai imbalan atas pembebasan Mehrtens. Kelompok itu mengancam akan menembak Mehrtens jika pembicaraan mengenai kemerdekaan Papua ditolak.

Namun, setelah melalui proses yang cukup panjang, termasuk negosiasi, pada akhirnya kelompok Egianus Kogoya melunak.

Kelompok ini melepaskan Mehrtens dari penyanderaan selama 19 bulan tersebut, yakni tepatnya pada 21 September 2024. Egianus mengklaim pembebasan itu karena alasan kemanusiaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Susi Soal Pesawat Smart Av Ditembak: Mohon Pengamanan Wilayah Perintis di Papua
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Harga Emas Dunia Hari Ini (11/2) Naik, Efek Turunnya Yield Obligasi AS
• 17 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Foto: Jakarta Serba Merah Jelang Imlek 2026
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Cara Merawat Furniture Kayu Selama Musim Hujan
• 14 jam lalubeautynesia.id
thumb
Daop 1 Jakarta Siapkan 787 Ribu Kursi Kereta Untuk Lebaran 2026
• 3 jam lalunarasi.tv
Berhasil disimpan.