jpnn.com, YOGYAKARTA - Sebuah inovasi dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencuri perhatian para peserta Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah atau Konsolnas 2026.
Daerah itu menghasilkan aplikasi SiMHabit (Sistem Monitoring 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat), Sebuah aplikasi berbasis web yang dikembangkan secara mandiri oleh guru di SMAN 1 Yogyakarta.
BACA JUGA: Hasil Rekomendasi Konsolnas 2026, Para Guru Fokus Poin 7 & 9, Ada Isu Hangat
Aplikasi ini dikembangkan secara khusus untuk memastikan program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) benar-benar menjadi napas keseharian bagi para murid di sekolah tersebut tetap terpantau, sekaligus menjadi panduan aktivitas keseharian mereka saat berada di luar lingkungan sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) DIY, Suhirman menjelaskan bahwa setiap pagi hingga malam, murid secara mandiri mengisi aktivitas harian mereka di SiMHabit mulai dari kebiasaan beribadah, bangun pagi, hingga membantu orang tua.
BACA JUGA: Jateng Pamer Keberhasilan SPMB di Konsolnas 2026, Daerah Lain Silakan Meniru
Seluruhnya tercatat sesuai waktu pengisian secara realtime.
“Karakter itu bukan sesuatu yang tiba-tiba jadi, ia adalah hasil dari pengulangan atau habituasi. Dengan SiMHabit, kami tidak hanya meminta murid melakukan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, tetapi kami hadir untuk menemani dan memantau proses mereka setiap hari,” ujar Suhirman di hadapan peserta Konsolnas 2026 Rabu (11/2).
BACA JUGA: Konsolnas 2026 Resmi Ditutup, Ini Pesan Wamendikdasmen Atip
Suhirman menambahkan bahwa kekuatan aplikasi ini terletak pada ekosistem kolaborasi.
Guru tidak hanya menjadi pengajar di kelas, tetapi juga mentor yang memonitor perkembangan karakter murid setiap minggu melalui dasbor aplikasi.
Tak berhenti di sana, orang tua pun memperoleh laporan bulanan mengenai perkembangan perilaku anak-anak mereka.
Pendidikan kata Suhirman merupakan tanggung jawab bersama.
Melalui laporan bulanan dari SiMHabit, orang tua bisa melihat sejauh mana putra-putri mereka tumbuh menjadi pribadi yang hebat.
"Jika ada perkembangan yang kurang baik, sekolah dan orang tua bisa segera berdiskusi untuk memberikan pendampingan yang lebih humanis,” cetus Suhirman.
Dia juga memaparkan praktik baik dari SMAN 8 Yogyakarta, agar para murid semangat dalam menerapkan 7 KAIH, maka sebagai bentuk apresiasi terhadap kejujuran dan konsistensi murid, pihak SMAN 8 Yogyakarta juga memberikan penghargaan bagi murid-muridnya dengan performa terbaik dalam menerapkan 7 KAIH.
Penghargaan ini diharapkan dapat memantik semangat kompetisi positif di kalangan murid untuk terus berbuat baik.
Menariknya, meskipun menggunakan perangkat digital modern, Yogyakarta tetap berpijak pada jati diri bangsa. Nilai-nilai kearifan lokal yang tertuang dalam Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) diintegrasikan secara utuh ke dalam 7 KAIH.
Berdasarkan Peraturan Gubernur DIY Nomor 40 Tahun 2022, PKJ mengedepankan pembentukan Jalma Kang Utama atau manusia unggul yang memiliki tata krama (unggah-ungguh) dan rendah hati (andhap asor) melalui penerapan nilai utama (ngajeni), seperti _ngapurancang, jempol, nuwun sewu/nderek langkung, nyuwun pangapunten, matur nuwun, dan monggo.
Selain itu, pembiasaan 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun), penggunaan busana adat gagrak Yogyakarta setiap Kamis, serta pembelajaran seni tradisional seperti membatik dan karawitan turut menjadi bagian dari implementasi PKJ.
“Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal ke dalam 7 KAIH melalui Pendidikan Khas Kejogjaan. Kami ingin murid-murid kami menjadi anak Indonesia yang hebat secara nasional, namun tetap memiliki akar budaya yang kuat sebagai orang Yogyakarta. Hal ini merupakan praktik baik yang dapat diterapkan di daerah lain dengan mengintegrasikan nilai-nilai kelokalannya masing-masing ke dalam 7 KAIH,” jelas Suhirman. (esy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Konsolnas Dikdasmen 2025, Ini Harapan Menko Pratikno dan Menteri Muti kepada Pemda
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Mesyia Muhammad




