Jakarta, VIVA – Adidaya Institute menilai keberadaan posisi pembantu presiden atau jajaran Menteri menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan strategi Big Bang dan Big Push dalam mengatasi kemiskinan di Indonesia.
Pasalnya, menurut Manajer Ekonomi Pembangunan Adidaya Institute, Bramastyo B Prastowo, para Menteri tersebut akan menjadi aktor utama dalam mengatur dan mengelola sumber daya program-program Big Bang dan Big Push yang diinginkan Presiden Prabowo.
“Jadi seluruh pembantu Presiden (Menteri) harus paham apa maunya Presiden dalam mengatasi kemiskinan. Bagaimana cara eksekusi program, itu menjadi hal yang penting. Tujuh program prioritas—Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis (CKG), Sekolah Rakyat, 3 Juta Rumah/FLPP, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), Lumbung Pangan, dan Kampung Nelayan itu bukanlah ‘tumpukan program terpisah’. Ini adalah paket terintegrasi yang menargetkan simpul kemiskinan multidimensi,” kata Bram kepada wartawan, Rabu, 11 Februari 2026.
Bram menjelaskan seluruh program prioritas Presiden Prabowo sesungguhnya dilakukan dengan strategi big bang dan big push.
- Dok. Istimewa
Sebab, seluruh program tersebut dilakukan secara cepat, serentak dan berlangsung secara massif (nasional).
Bram pun merujuk teori pembangunan big bang dan big push yang merupakan strategi untuk melakukan reformasi ekonomi dan mendorong percepatan kesejahteraan dengan investasi besar-besaran secara bersamaan.
Misalnya lewat program pembangunan 80 ribu Gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Presiden Prabowo sebenarnya menginginkan buruh-buruh bangunan di seluruh desa dapat langsung bekerja ikut terlibat dalam proses pembangunan. Sehingga tidak perlu ramai-ramai lagi berdatangan ke kota.
“Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjalankan strategi kebijakan yang dapat dibaca sebagai big bang dalam pelaksanaan dan big push dalam substansi. Artinya, negara bergerak cepat, serentak, dan berskala nasional untuk memecahkan masalah mendasar bangsa, namun tetap fokus pada investasi pembangunan manusia dan ekonomi rakyat. Bukan sekadar proyek satuan,” jelas dia.
Maka itu, bagi Adidaya Institute, kemampuan mengeksekusi Menteri menjadi hal yang sangat penting dalam pelaksanaan strategi Big Bang. Meski tingkat pemahaman figur Menteri tersebut dinilai low understanding atau lemah, Presiden Prabowo, ungkapnya, akan cenderung mempertahankan para Menteri yang dianggapnya mampu mengeksekusi program ketimbang memasukkannya dalam daftar reshuffle.





