Belajar Mitigasi Bencana, Siswa SMP Sukma Bangsa Kunjungi Museum Tsunami Aceh

metrotvnews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Banda Aceh: Suara alat pendeteksi gempa di Stasiun Geofisika BMKG Aceh Besar menyita perhatian siswa kelas VIII SMP Sukma Bangsa Pidie. Pelajaran tentang gempa dan tsunami yang biasanya hanya mereka baca di buku kini disaksikan langsung di lapangan.

Melalui kegiatan school visit ke sejumlah lokasi edukatif di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, para siswa diajak memahami realitas geografis dan sejarah daerahnya. Aceh dikenal sebagai wilayah rawan bencana sekaligus kaya peradaban.

Guru Ilmu Sosial SMP Sukma Bangsa Pidie, Nailul Authar, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran reguler yang dirancang untuk memberi pengalaman faktual dan kontekstual kepada siswa.

“School visit adalah kegiatan pembelajaran yang kami lakukan agar siswa mendapatkan pengalaman langsung tentang materi yang sedang dipelajari, bukan hanya membaca buku atau menonton video,” kata Nailul kepada Metrotvnews.com, Selasa, 10 Februari 2026.

Siswa kelas VIII SMP Sukma Bangsa Pidie school visit ke sejumlah lokasi edukatif di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Foto: Metrotvnews.com/Fajri Fatmawati

Kegiatan belajar dilakukan di Stasiun Geofisika BMKG Aceh Besar, Museum PLTD Apung, serta Pedir Museum di Banda Aceh. Program ini mengintegrasikan sejumlah mata pelajaran seperti IPS, IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris dalam satu pengalaman belajar terpadu.

“Kami mengolaborasikan beberapa mata pelajaran agar siswa melihat bahwa ilmu itu saling terhubung dan relevan dengan kehidupan mereka,” tambah Nailul.

Baca Juga :

Yayasan Media Group Kirim Relawan Pendidikan Gelombang Ketiga ke Aceh
Di Stasiun Geofisika BMKG Aceh Besar, siswa mempelajari dasar fenomena gempa bumi dan tsunami, termasuk proses terjadinya serta upaya mitigasi bencana. Mereka juga diajak memahami konsep perhitungan skala gempa dan magnitudo secara matematis.

Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Geofisika Aceh Besar, Abdi Jihad, menjelaskan kunjungan pelajar menjadi bagian dari edukasi kebencanaan sejak dini.

“Moto kami adalah siaga bencana sejak dini. Kami memberikan pengetahuan dasar tentang apa itu gempa bumi, bagaimana terjadinya, di mana saja bisa terjadi, serta apa yang harus dilakukan saat bencana,” jelas Abdi.

Menurut Abdi, siswa menunjukkan antusiasme tinggi selama sesi diskusi. “Anak-anak cukup responsif. Ketika diberi pertanyaan mereka mencoba menjawab, meskipun kadang masih bingung. Itu sudah menjadi tanda bahwa rasa ingin tahu mereka tinggi,” ujarnya.

Siswa kelas VIII SMP Sukma Bangsa Pidie school visit ke sejumlah lokasi edukatif di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Foto: Metrotvnews.com/Fajri Fatmawati

Ia berharap kegiatan semacam ini mampu membangun budaya sadar bencana di kalangan generasi muda.

“Kami ingin adik-adik menyadari bahwa mereka tinggal di daerah rawan bencana. Apalagi Pidie Jaya punya sejarah gempa 2016. Harapannya, mereka bisa menyampaikan kepada keluarga apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana. Intinya kita membangun budaya sadar, siaga, dan selamat,” pungkas Abdi.

Pembelajaran kemudian berlanjut ke Museum PLTD Apung, saksi bisu dahsyatnya gempa dan tsunami Aceh 2004. Para siswa menyaksikan langsung kapal pembangkit listrik seberat sekitar 2.600 ton yang terseret hingga lima kilometer ke daratan.

“Melihat langsung kapal sebesar itu berada jauh dari laut membuat siswa benar-benar memahami betapa dahsyatnya tsunami 2004,” kata Nailul.

Baca Juga :

Relawan Sukma Bangsa dan Fisipol UGM Mengajar di Pengungsian Aceh
Ia menilai pengalaman tersebut menumbuhkan kesadaran bahwa Aceh merupakan wilayah rawan bencana, sehingga kesiapsiagaan menjadi hal penting.

Kunjungan ditutup di Pedir Museum, museum swasta yang dikelola komunitas pecinta sejarah Aceh. Siswa mengamati berbagai koleksi peninggalan Kerajaan Aceh, mulai dari nisan kuno berukir, senjata perang, pakaian kebesaran, hingga mata uang kerajaan.

“Melalui artefak ini, siswa dapat merefleksikan kebesaran Aceh di masa lalu dan membangun kesadaran historis sebagai generasi penerus. dari kunjungan ini mereka mengamati langsung bagaimana materi-materi belajar dalam buku diintegrasikan langsung dalam kehidupan. Ini memberikan pengalaman yang bermakna, menyenangkan dan mendalam bagi siswa sehingga belajar menjadi asik dan menggairahkan," jelas Nailul.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anggota DPR Dukung Hibah Kapal Patroli Jepang: Ancaman di Lapangan Dinamis
• 15 jam laludetik.com
thumb
Komisi VII DPR Nilai Batam Tourism Polytechnic Layak Jadi Rujukan Nasional Pendidikan Vokasi Pariwisata
• 10 jam lalupantau.com
thumb
Kunker Pimpinan MPR RI ke Banda Aceh, Wakil Ketua MPR RI Minta Masyarakat Bersatu Demi Kebangkitan Aceh
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
KLH Sebut 20 Ton Pestisida Terbakar hingga Cemari Sungai di Tangerang
• 8 jam laludetik.com
thumb
Catatan Dahlan Iskan: Imron Djatmika
• 23 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.