Ketika Sekolah Kehilangan Hati: Mencari Jalan Keluar Kekerasan di Ruang Kelas

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Banyak peristiwa di dunia pendidikan yang memilukan. Mulai dari peristiwa siswa mogok sekolah sebagai aksi dukungan terhadap teman yang ditegur oleh guru karena ketahuan merokok di sekolah, peristiwa pemukulan guru oleh siswa karena siswa merasa tidak terima ditegur oleh guru, hingga peristiwa yang paling memilukan yakni bunuh diri siswa di Kab. Ngada NTT akibat tidak bisa membeli pulpen dan buku.

Rangkaian peristiwa tersebut tidak bisa dipandang biasa karena terjadi berkaitan langsung dengan dunia pendidikan yang seharusnya menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang. Memang tidak salah jika masyarakat beranggapan bahwa saat ini dunia pendidikan di Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Peristiwa tersebut bertentangan dengan hal yang seharusnya yakni tentang sekolah menjadi ruang aman emosional dan sosial. Hubungan siswa dan guru harusnya selaras sesuai dengan perannya di mana guru sebagai pendidik berperan untuk mendidik dan siswa harus siap untuk dididik. Pemahaman itu harusnya tertanam pada masing-masing individu (guru dan siswa) agar relasi emosional terjalin di antara keduanya.

Tidak hanya itu, sekolah juga harus menjadi ruang aman sosial di mana interaksi vertikal (guru dan siswa) dan horizontal (siswa dengan siswa) harus terjalin secara sehat. Guru hendaknya mendidik dengan humanis, begitupun siswa hendaknya bersosialisasi dengan humanis. Akan tetapi, mengapa ruang yang seharusnya memerdekakan justru menjadi tempat yang menekan?

Mencermati pertanyaan tersebut, penulis mencoba mengidentifikasi dimulai dari pola pembelajaran yang terlalu fokus pada kognitif (otak), tapi abai pada hati. Pola pembelajaran yang hanya berfokus pada penguatan aspek kognitif cenderung menciptakan individu yang cerdas secara intelektual namun gersang secara empati (Goelman, 1995).

Dalam konteks ini, sekolah bertransformasi menjadi pabrik nilai di mana siswa dipacu untuk menguasai materi secara teknis demi mengejar angka-angka di atas kertas, tanpa memahami esensi kemanusiaan di baliknya. Akibatnya, hubungan antara guru dan murid menjadi transaksional dan kaku di mana guru hanya dipandang sebagai penyampai informasi, sementara siswa kehilangan rasa hormat karena tidak ada keterikatan emosional yang terbangun dalam proses belajar-mengajar.

Krisis adab yang berujung pada kekerasan maupun kriminalisasi guru sering kali berakar dari minimnya ruang dialog yang tulus di dalam kelas, di mana interaksi hanya bersifat formalitas kurikulum tanpa sentuhan empati yang mendalam. Ketika kelekatan emosional antara guru dan murid tidak terbangun, sekolah kehilangan fungsinya sebagai ruang yang aman dan berubah menjadi lingkungan yang dingin, di mana teguran guru dianggap sebagai ancaman alih-alih sebagai bentuk kasih sayang, dan kesulitan siswa, baik secara ekonomi maupun psikologis luput dari pantauan.

Tanpa jembatan emosi yang kuat, upaya pendidikan dalam membentuk karakter siswa yang mampu menghargai kemanusiaan orang lain dan menahan diri dari tindakan impulsif yang merusak masa depan mereka sendiri hanyalah angan-angan.

Kondisi ini semakin diperparah oleh dilema yang dihadapi para pendidik, di mana guru sering kali terjebak di antara tuntutan profesionalitas, ketatnya regulasi, dan keterbatasan dukungan di lapangan. Guru dituntut untuk menjalankan fungsi pendisiplinan demi menjaga marwah pendidikan, namun di saat yang sama, mereka dibayangi oleh risiko kriminalisasi akibat regulasi yang sering kali disalahtafsirkan oleh orang tua dan pihak lainnya. Tanpa adanya sistem pendukung dan perlindungan hukum yang memadai, guru cenderung memilih sikap apatis atau "main aman" dalam mendidik, yang pada akhirnya memutus rantai bimbingan moral yang seharusnya diterima oleh siswa.

Pendekatan lama dalam pengelolaan disiplin dan pembelajaran di sekolah semakin menunjukkan keterbatasannya dalam menjawab kompleksitas relasi guru–siswa saat ini. Disiplin berbasis hukuman, baik dalam bentuk sanksi keras maupun kontrol otoriter, cenderung memicu perlawanan laten alih-alih kepatuhan yang bermakna. Praktik ini melahirkan kekerasan simbolik seperti mempermalukan, mengancam, atau meniadakan suara siswa yang dalam banyak kasus justru menjadi benih bagi tindakan kekerasan.

Ketika relasi pedagogis dibangun di atas rasa takut, sekolah kehilangan fungsinya sebagai ruang aman untuk belajar, gagal, dan bertumbuh secara utuh. Di sisi lain, meskipun kurikulum secara normatif memuat dimensi emosional dan moral, implementasinya sering kali tidak dioperasionalkan secara konsisten dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Sekolah masih minim akan learning climate yang ramah otak dan hati di mana lingkungan yang mendukung regulasi emosi, empati, dan rasa memiliki.

Kesenjangan antara tuntutan pedagogis yang semakin kompleks dan praktik pembelajaran yang masih bertumpu pada kontrol serta kepatuhan formal menuntut adanya reorientasi paradigma pendidikan. Sekolah tidak lagi cukup dipahami sebagai ruang transfer pengetahuan semata, melainkan sebagai ekosistem relasional yang memengaruhi perkembangan kognitif, emosional, dan moral siswa secara simultan.

Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah pendekatan pembelajaran yang tidak hanya responsif terhadap cara otak bekerja, tetapi juga sensitif terhadap kebutuhan emosional dan kualitas hubungan antarindividu di dalamnya. Pendekatan semacam ini menjadi penting untuk memulihkan fungsi sekolah sebagai ruang aman dan bermakna, sekaligus mencegah reproduksi kekerasan yang berakar dari relasi pedagogis yang timpang.

Brain-Heart Synergistic Learning (BHSL) merupakan strategi pembelajaran yang menempatkan proses belajar sebagai hasil integrasi utuh antara kerja otak, dimensi afektif, dan kualitas relasi sosial di sekolah. Domain brain merujuk pada pemahaman tentang bagaimana otak belajar secara alami, mencakup atensi, pengaturan emosi, dan kemampuan regulasi diri siswa.

Sementara itu, domain heart menekankan aspek afektif seperti empati, rasa aman secara psikologis, serta kehangatan relasi antara guru dan siswa. BHSL memandang bahwa pembelajaran yang efektif tidak cukup hanya merangsang kognisi, tetapi harus disertai dukungan emosional yang memungkinkan otak berada dalam kondisi optimal untuk belajar.

Brain-Heart Synergistic Learning (BHSL) dapat dipahami sebagai upaya pedagogis yang secara langsung menyentuh akar persoalan di ruang kelas, yakni absennya rasa aman secara emosional dalam proses belajar. Ketika siswa diperlakukan sebagai individu yang didengar, dipahami, dan dihargai keberadaannya, tekanan psikologis yang selama ini sering memicu perilaku agresif cenderung berkurang.

Lingkungan kelas yang memberi ruang bagi ekspresi emosi tanpa ancaman mempermalukan atau menghukum secara berlebihan memungkinkan konflik dikelola sejak tahap awal, sebelum berkembang menjadi perlawanan terbuka atau kekerasan fisik. Melalui aktivitas kolaboratif dan reflektif yang dirancang secara sadar, BHSL juga menumbuhkan empati dan kepekaan sosial siswa, sekaligus melatih kemampuan mereka mengenali serta mengelola emosi diri.

Lebih dari sekadar strategi kelas, BHSL berfungsi sebagai kerangka pemulihan ekosistem sekolah yang selama ini terfragmentasi oleh pendekatan instruksional semata. Pendekatan ini menegaskan pentingnya human connection sebagai fondasi pendidikan, di mana interaksi bermakna, rasa saling percaya, dan pengakuan terhadap kemanusiaan setiap individu menjadi prasyarat belajar. Dengan memadukan stimulasi intelektual, sentuhan emosional, dan interaksi sosial yang sehat, BHSL menggeser paradigma sekolah dari ruang pengendalian perilaku menjadi komunitas belajar yang menumbuhkan, aman, dan berdaya.

Pada akhirnya, kekerasan di sekolah tidak dapat dipahami semata-mata sebagai perilaku menyimpang individu, melainkan sebagai indikator ekosistem pendidikan yang sedang sakit yakni ekosistem yang belum mampu memenuhi kebutuhan emosional, relasional, dan kemanusiaan warganya.

Karena itu, sekolah memerlukan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya mengatur perilaku, tetapi memulihkan relasi dan martabat manusia dalam proses belajar. Tanpa kehadiran empati, rasa aman, dan koneksi yang tulus, pendidikan berisiko kehilangan maknanya. Sebab pada hakikatnya, kita tidak bisa mengajarkan kebaikan tanpa menghadirkan hati di dalam prosesnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
bank bjb Gelar Workshop Kewirausahaan Bareng TNI AU, Solusi Pensiun Produktif
• 9 jam lalukatadata.co.id
thumb
Menag Sebut Peredaran Dana Infak Masyarakat Capai Rp500 Triliun per Tahun
• 16 jam laluidxchannel.com
thumb
Transformasi Besar Pertamina: Rumah Sakit, Hotel, hingga Asuransi Masuk Rencana Pelepasan
• 12 jam laluskweezerzham
thumb
Leona Agustine Ungkap Dugaan Pelecehan Seksual oleh Keyboardist Band Inisial R
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Banjir Akibat Meluapnya Sungai Simo Bikin Jalur Pantura Pati–Rembang Macet Sepanjang 5 KM
• 12 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.