YOGYAKARTA - Batalyon Arhanud 21 Pasgat TNI AU menjadi garda terakhir pertahanan udara serta berbagai titik vital. Dengan tugas yang berat tersebut, tentunya alutsista yang canggih dan lengkap menjadi sebuah keharusan yang dimiliki.
Salah satu senjata andalan saat ini adalah Rudal QW-3. Senjata anti pesawat seberat tiga kilogram dengan peluru seberat 16 kilogram itu dirancang khusus untuk melumpuhkan ancaman pesawat musuh dengan sistem pencarian panas yang presisi.
Mekanisme kerja Rudal QW-3 tergolong sangat mematikan dengan sistem pemusnah otomatis jika target luput dari sasaran.
Hal ini dilakukan untuk menjaga keamanan di darat agar serpihan rudal tidak jatuh di area yang salah. Rudal tersebut bekerja dengan mengejar panas mesin pesawat (flare) hingga terjadi benturan atau impact yang menghancurkan target secara total.
"Ini kalau seandainya tidak kena, ini kan harus impact, maksudnya impact itu kan harus nabrak pesawat. Ini seandainya tidak kena, dia akan meledak sendiri. Namanya ini namanya self destruction, kita kurang lebih 14 detik belum selesai, berarti aman kalau di bawah itu nggak kena serpihan,” jelas Pengawak Rudal QW 3 Yon Arhanud 21, Serda M. Arif Mutaqien, Rabu (11/2/2026).
Keandalan alutsista ini telah teruji dalam berbagai operasi penting, termasuk pengamanan acara kenegaraan berskala internasional. Selain operasi tempur, penggunaan rudal ini juga rutin disimulasikan dalam latihan-latihan militer untuk menjaga kesiapan prajurit.
"Selain latihan, kita juga ada operasi pertahanan seperti yang pernah dilakukan itu di Bali saat KTT. Jadi KTT itu kan banyak negara asing yang datang," tandasnya.
Penembak Rudal Atav P6, Serda Andhy Kristanto menambahkan, kecanggihan rudal tersebut juga didukung dengan mobilitas yang tinggi menggunakan kendaraan taktis (rantis) P6 Atav 4x4.
Kendaraan ini didesain untuk bergerak cepat membawa rudal tersebut menuju titik penembakan, terutama di medan-medan sulit seperti area berlumpur atau berbatu yang tidak bisa dijangkau oleh kendaraan biasa.
"Kendaraan ini untuk memudahkan dan mempercepat pergerakan. Kalau kita infanteri (jalan kaki) kan lama menuju spot penembakan," kata Andhy.
Kendaran tersebut memiliki kapasitas empat personel yang terdiri dari pengemudi, komandan pucuk, petembak (gunner), dan pembantu petembak. Nantinya, saat mencapai titik sasaran, penembak akan segera mengambil posisi di atas tripod yang terpasang di kendaraan dan penembak akan berkoordinasi terkait titik kunci sasaran.
"Kursinya sendiri tersedia empat seat, pertama driver, kedua komandan pucuk, berikutnya gunner atau petembak, dan terakhir pembantu petembak," ucap dia.
Proses penembakan sendiri tidak dilakukan sembarangan, tetapi melalui integrasi data dari radar Smart Hunter berupa radar yang akan memberikan informasi koordinat arah datangnya ancaman kepada unit penembak. Jika sasaran belum terlihat secara visual, komunikasi intens dilakukan melalui alat GAU agar petembak bisa bersiap mengarahkan moncong rudal ke koordinat yang diberikan.
"Kita dapat tangkapan dari Smart Hunter dari arah mana datangnya, kemudian kita arahkan ke sana, ke koordinat tersebut. Kalau sudah mencapai jarak tembak, baru kita tembakkan," ungkapnya.
Rudal QW 3 ini memiliki keunikan tersendiri yaitu adanya indikator audio dan visual saat senjata telah mengunci target. Penembak harus memastikan lampu hijau menyala terang dan suara peringatan berubah menjadi nada yang nyaring dan menandakan bahwa sistem pelacak rudal telah mengunci panas mesin pesawat lawan dengan sempurna.
"Kalau sudah nge-lock, tanda pertama ada lampu hijau menyala di rudal. Berikutnya ada bunyi beep. Kalau belum lock suaranya tet-tet-tet, tapi kalau sudah lock bunyinya tut dengan nyaring," papar dia.
Selain berfungsi sebagai pengangkut rudal, rantis P6 Atav ini memiliki fungsi lain jika perangkat rudal dilepaskan. Kendaraan ini dapat beralih fungsi menjadi kendaraan serbu komando.
"Kalau rangkaian rudal ini dilepas, ini buat serbuan komando. Jadi untuk taktik di darat seperti antiteror maupun serbuan lainnya," pungkasnya.
Original Article




