JAKARTA, DISWAY.ID - Kamu ada rencana jalan-jalan ke Malaysia khususnya Johor dalam waktu dekat?
Waspada! Sebab negara ini tengah diserang wabah penyakit tuberkulosis atau TB dengan ditemukannya 10 klaster baru tuberkulosis (TB) yang dilaporkan di Malaysia hingga 7 Februari.
Para ahli menyarankan mereka yang bepergian selama masa liburan untuk mengambil langkah-langkah keselamatan.
"Masyarakat sebaiknya mengenakan masker saat bepergian dan segera mendapatkan perawatan medis jika menunjukkan gejala," kata Profesor Epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat Universiti Malaya, Rafdzah Ahmad Zaki dilansir dari Straits Times.
“Jika Anda sedang tidak sehat, sebaiknya tidak bepergian. Namun karena ini musim perayaan, banyak yang ingin pulang kampung dan bertemu keluarga. Jadi jika Anda memiliki gejala apa pun, disarankan untuk memeriksakan diri," katanya lagi.
BACA JUGA:BPDP: Hasil Sawit Indonesia Kalah Efisien Dibanding Malaysia, Padahal Lahan Lebih Luas
Hal lainnya adalah memakai masker untuk mencegah penyebaran bakteri atau virus, terutama di transportasi umum.
Bukan hanya TB, ada juga jenis penyakit menular lainnya.
Dr. Rafdzah juga menyarankan masyarakat untuk membuka pintu dan jendela saat ada pertemuan atau acara kumpul-kumpul guna memastikan ventilasi yang baik.
Ia mengatakan bahwa karena TB adalah penyakit menular dan memiliki masa inkubasi yang panjang, penyakit ini akan menyebar jika penularannya tidak dikendalikan.
BACA JUGA:Daftar Juara Indonesia Masters 2026: Alwi Farhan Akhiri Puasa Gelar, Malaysia Borong Prestasi
“Jadi ketika satu kasus terdeteksi, kami melakukan skrining yang lebih aktif dan dengan demikian menemukan lebih banyak kasus,” katanya, seraya menambahkan bahwa masyarakat perlu lebih waspada.
Presiden Federasi Asosiasi Praktisi Medis Swasta Malaysia, Dr. Shanmuganathan T.V. Ganeson, mengatakan bahwa Badan Pemantauan Pemeriksaan Medis memiliki peran penting dalam skrining TB.
“Ini adalah lapisan penting dalam kesehatan masyarakat yang membantu mengidentifikasi kasus sejak dini dan menghubungkan individu dengan layanan perawatan," jelasnya.
“Kesenjangan dalam akses, cakupan, atau kemauan untuk mencari pengobatan dapat menciptakan titik buta bagi penyakit menular,” katanya.
- 1
- 2
- »





